MENCARI TUHAN KE ENTAH

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Dalam sejarah peradaban umat manusia, pengagungan terhadap sesuatu yang transenden telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sikap religiositas manusia itu sendiri. Manusia pada awal dan kemudiannya, senantiasa dihinggapi sikap seperti itu. Dari sana pula lalu muncul berbagai cara untuk mengejawantahkan pengagungannya terhadap sesuatu yang transenden itu. Caranya dapat bermacam-macam dan dapat pula muncul lantaran berbagai hal; ketakutan, kegelisahan, keputusasaan, kerinduan atau bahkan kecintaan yang mendalam dan hasrat untuk jumpa dengan-Nya.

Puisi, dibandingkan ragam sastra lainnya ?drama dan prosa? termasuk salah satu bentuk ekspresi yang dianggap paling intens mewakili sikap religiositas manusia. Periksa saja kisah klasik Bhagawad Gita, Mahabharata, Ramayana, Epos Ilias dari Homerus yang ditulis dalam bentuk puisi naratif. Jangan lupa pula, para penyair Islam, juga telah lama melakukan hal serupa, sebagaimana yang diperlihatkan Rabiah al-Adawiyah, Al-Hallaj, Sadi Jalaluddin Rumi atau juga Mohammad Iqbal. Puisi-puisi para pujangga kita, juga sama. Sebut saja, Nuruddin Ar-Raniri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Samatrani, Raja Ali Haji, Syeh Siti Jenar, Ronggowarsito atau puisi-puisi modern kita sejak Amir Hamzah hingga ke para penyair mutakhir kini. Mereka memanfaatkan puisi sebagai sarana pengagungan, kecintaan, dan kerinduannya terhadap yang Khalik.

Jika para penyair kita dewasa inipun banyak yang melakukan hal yang seperti itu, ini artinya, bahwa tema kerinduan, pengagungan, kegelisahan, bahkan pencarian terhadap Tuhan, bukanlah sesuatu yang baru. Jadi, tema-tema itu sesungguhnya bukanlah hal yang asing, karena ia telah mempunyai sejarahnya yang panjang. Jika tema-tema seperti bukan hal yang baru, lalu di mana keistimewaannya jika ada penyair yang kemudian mencoba mengangkat kembali tema-tema tersebut?

Di balik perulangan tema sejenis itu, kita selalu saja mem-peroleh sesuatu yang khas. Dalam hal ini, masalahnya bukan hanya terletak pada bagaimana tema yang sudah menyejarah itu, diangkat menjadi sesuatu yang segar, tetapi juga bagaimana ia disajikan dengan style yang khas yang berbeda dengan penyair lain.

***

Antologi puisi Tuhan telah Hilang karya Tomon Haryowirosobo ini, juga secara keseluruhan hendak mengangkat kontemplasi, pencarian, kegelisahan, dan kecintaan penyair pada Sang Khalik. Begitu kental kecintaannya, sehingga kita tidak menemukan apa-apa lagi, selain tumpahan hasrat mengimplementasikan dan mengejawantahkan Cinta penyair kepada Yang Hak; Yang Transenden itu. Sungguhpun begitu, bahasa manusia tidak cukup kaya untuk mengungkapkan semua rasa dari segala cinta itu. Kata-kata menjadi terasa begitu naif, alakadar, dan sederhana untuk mewakili keseluruhannya. Itulah problem manusia dalam mengejawantahkan segala rasa dalam hubungannya dengan sesuatu yang transenden. Kata Maha yang dilekatkan kepada-Nya, sesungguhnya sama sekali tidak mengungkapkan segala kelebihan dan

keluarbiasaan-Nya. Kata Maha jadinya laksana sebuah penyederhanaan dan sekaligus juga menyatakan ketidakmampuan bahasa manusia untuk mengungkapkan diri-Nya.

Dalam konteks itu, nyatalah bahwa bahasa manusia terlalu miskin; kosa kata sangat terbelenggu oleh makna, sedangkan makna itu sendiri mustahil dapat mewakili dan merepresentasikan secara tepat apa yang terkandung dalam gagasan dan pikiran. Perasaan galau dengan berbagai implikasinya, misalnya, cukuplah dikatakan kegelisahan. Inilah yang kemudian terjadi dalam puisi-puisi Tomon Haryowirosobo. Ia ingin mengungkapkan banyak hal, tetapi bahasa manusia terlalu sederhana untuk merepresentasikannya, sehingga ia sama sekali tidak dapat mewakili segala rasa. Akibatnya, jika ia tidak tergelicir pada bentuk-bentuk pernyataan, ia terjerumus pada bentuk ungkapan. Tipografi juga tidak banyak membantu mewartakan kegalauan dan kedalaman rasa cintanya. Dalam hal itulah, kita dapat melihat, Tomon, di satu pihak seolah-olah berusaha melakukan pemberontakan, tetapi di lain pihak, ia juga tidak kuasa

untuk tetap berpijak pada konvensi, betapapun terkesan pula bahwa itu, membelenggunya.

Itulah beberapa kesan yang dapat kita tangkap dari antologi ini. Tetapi lalu timbul

persoalan, bahwa masalah yang sama pernah pula dialami oleh sosok penyair Sutardji Calzoum Bachri. Cuma ada perbedaan mendasar, bahwa jika Sutardji berhasil merobek konvensi yang dirasakan mengganggu ekspresi imajinasinya, sementara Tomon, baru sampai pada tahap berusaha. Masalahnya sangat mungkin lalu melebar ke masalah pengaruh-mempengaruhi atau bahkan sampai ke persoalan epigonisme. Dalam sejarah kesusastraan manapun, masalah itu merupakan sesuatu yang sangat wajar dan kita kiranya tidak perlu memikirkannya benar.

***

Terlepas dari persoalan itu, antologi puisi ini menghimpun 76 buah puisi yang semuanya bertema seputar persoalan transendensi; hubungan subjek dengan sesuatu yang transenden. Di sini, kita dapat menemukan, betapa kedalaman cinta kepada Sang Khalik dapat diejawantahan dalam beragam saluran; ada pelepasan kegelisahan dan kedukaan transendental yang diwujudkan dalam satu kata ?Hu? atau a sampai ke A (?Tuhan?). Ada pula kenikmatan religius saat kontemplasi terjadi dalam ?Sepi?; Sepi,/telah meraih jiwaku erat-erat/hingga aku tak tahu/ adakah jalan untuk berlari/dari-Mu. Dan akhirnya, ia merasakan: Sepi,/telah mengubah diriku/besar jadi kecil/ramai jadi sepi/ karena/sepi itu indah//.

Secara keseluruhan, kita dapat mencermati ke-76 puisi Tomon itu dengan melakukan klasifikasi menurut berbagai sudut pandang dan kepentingan objektif. Pertimbangannya bukan lagi berdasarkan pada kesamaan tematik atau yang menyangkut orisinalitas dan soal pengaruh-mempengaruhi, melainkan pada pola tipografis yang digunakan, kemengaliran atau ketersedatan komunikasi yang terpantul dalam pola puitik atau persajakannya, serta kecenderungan yang khas dalam pemanfaatan diksi. Dengan cara itu, kita dapat lebih jauh menyelami wawasan kreativitas dan orientasi penyairnya, sekaligus mencoba menangkap suasana yang ditawarkannya, simbol-simbol yang dimanfaatkannya, dan imaji-imaji yang disarankannya.

Atas pertimbangan itu, kita dapat mengelompokkan ke-76 puisi Tomon itu ke dalam tujuh kategori. Pertama, ketersedatan komunikasi lantaran melesapnya tema ke dalam bentuk tipografi. Puisi-puisi ?Hu?, ?Hoo Haa?, ?Hitam?, ?Hantu?, ?Mata? dan ?Tuhan? termasuk ke dalam kategori ini. Sayangnya, Tomon terkesan masih terjerat pada pola konvensional yang masih mengusahakan adanya keinginan untuk mengkomunikasikan pesan tematik. Dan itu muncul, teristimewa pada ?Hantu? dan ?Tuhan?. Akibatnya, kekhasan menjadi pudar. Orisinalitas lalu ikut pula menjadi bahan pertanyaan. Sebut saja dua nama, Sutardji Calzoum Bachri dan Ibrahim Sattah, dan jika boleh dimasukkan satu lagi Gendut Riyanto, tampil dengan membawakan kekhasannya.

Kedua, penyampaian tema lewat penekanan pada pola repetisi. Ada sekitar 30-an puisi yang termasuk kategori ini. Hal yang penting di situ adalah kuatnya permainan kata dan kecenderungan untuk menyajikan kegelisahan pencarian si aku liris dalam bentuk naratif dan imaji-imaji. Di sini, kita melihat bahwa kekayaan kosa kata menjadi sangat penting dan berperan dalam nmemunculkan ketaksaan (ambiguitas) puitik. Bagaimanapun, puisi adalah dunia imaji; citraan merupakan hal yang ikut menentukan ketersembunyian pesan tematik dan sekaligus menciptakan suasana (atmosfer). Inilah sebabnya, bahasa puisi sering kali mempertimbangkan kepadatan dan kepedatan, kesaratan dan kebernasan, juga kedalaman dan ketaksaan.

Dalam puisi ?Alternatif,? ?Penjaga Penantian,? dan ?Pengetahuan tentang Tuhan,?

misalnya, pemakaian repetisi menjadi alat untuk mempermainkan kata. Tetapi, mengingat

citraan terabaikan, tema lalu meluluhkan struktur puisi itu sendiri, dan akibatnya, bentuk

pernyataan cenderung menjadi sangat menonjol. Soalnya, bentuk naratif yang hendak membangun citraan dalam ?Penjaga Penantian? menjadi agak tersendat manakala perulangan terobralkan. Dalam bait-bait awal, misalnya, citraan dan persajakan, masih terasa kental: Awan bergerak/berjalan beriring/siapa menggiring awan// Dalam bait kedelapan, larik-larik repetitif terkesan seperti ke luar begitu saja. Mengapa persajakan dan kesamaan bunyi dan asonansi tidak dimanfaatkan untuk membangun keindahan puitik atau citraan? Hal yang sama juga agaknya kurang begitu diperhatikan dalam ?Pengetahuan tentang Tuhan?. Puisi yang seluruhnya dibangun oleh repetisi itu menjadi agak tercecer, karena usaha mempermainkan kata lebih banyak menggunakan pola yang sama dan kurang didukung oleh sarana retorika lainnya yang sebenarnya dapat menumbuhkan keindahan dan memperkaya ketaksaan puitik.

Ketiga, kecenderungan pemanfaatan pola mantra, sebagaimana tampak dalam puisi ?Kehidupan?, ?Kucari?, ?Segalanya Tampak Seperti Engkau?, dan ?Puisi yang Aku

Temukan?. Dalam kategori ini Tomon sesungguhnya telah berhasil menyelimuti tema pencariannya lewat usahanya membebaskan diri dari rambu-rambu konvensi, meski persoalan ini memberi keniscayaan memasuki wilayah orisinalitas dan pengaruh-mempengaruhi. Dalam hal itu pula, kita sadari benar bahwa wawasan kreativitas menempati kedudukan sentral manakala imajinasi hendak diumbar, dibebaskan, dan dilepas menggerayangi apa saja. Jika itu dilakukan, maka tidak mustahil imajinasi akan muncul secara liar dan tidak terbata-bata. Keliaran imajinasi itulah yang tampaknya belum dimanfaatkan Tomon secara maksimal.

Boleh jadi persoalannya tersangkut pada terjebaknya pola mantra ke dalam bentuk perulangan. Sememangnya, repetisi sangat menonjol dalam mantra. Tetapi mantra bukan pula sekadar repetisi. ?Segalanya Tampak Seperti Engkau? dan ?Puisi yang Aku Temukan? lebih dekat pada bentuk naratif dengan memanfaatkan repetisi. Sedangkan ?Kehidupan? dan ?Kucari? cenderung menjadi mantra jika idiom-idiom filsafat Jawa ikut mewarnai kedua puisi itu. Dalam hal itu, Tomon sesungguhnya sangat potensial mengangkat filsafat Jawa sekadar sebagai alat merefleksikan kegelisahan pencariannya.

Berbeda dengan Sutardji Calzoum Bachri dan Ibrahim Sattah yang lahir dan dibesarkan dalam tradisi dunia kemelayuan, bahasa Melayu, termasuk di dalamnya mantra, telah membawa kedua penyair itu piawai dalam mempermainkan bahasa Indonesia. Tomon bukan dari tradisi itu. Setidak-tidaknya, lingkungan Tomon adalah dunia Jawa yang sesungguhnya juga kaya dengan mantra. Dari sana sebenarnya penyair dapat mengembarakan imajinasinya. Dengan cara itu, ia niscaya mampu melakukan penggalian atas dunia simbolik Islam-Jawa. Niscaya pula, idiom semacam manunggal ing kawula Gusti berikut simbol-simbolnya, bakal menjadi khazanah perbendaharaan kepenyairan sosok manusia penggelisah dan pencari semacam Tomon. Sebuah lahan yang sayangnya belum banyak digali dan dieksploitasi Tomon padahal para penyair Jawa sejak, sebutlah, Ronggowarsito, Mangkunegara, sampai penyair macam Darwis Khudori, Ahmadun Y. Herfanda ?sekadar menyebut dua nama? telah melakukan itu.

Dalam hal tersebut di atas, terkesan pula bahwa Tomon cenderung lebih mengandalkan kegelisahan dan pencariannya sendiri. Padahal, kegelisahan dan pencarian dapatlah dianggap baru sebagai ?modal dasar?. Ia akan liar dan bahkan revolusioner atau menjadi semacam air yang tenang, jika dilapisi wawasan dan kedalaman filosofis. Periksa, misalnya, betapa tenang, sejuk, dan dalam yang dikatakan Kuntowijoyo ini: Bertentangan/dengan kebijaksanaan para wali/Siti Jenar memotong api menjadi tujuh/sehingga dapat berenang sepuasnya/melepas rindu yang disimpan/ Kemudian ia kehilangan atas-bawah/yang disangka kebenaran/dan mengun

dang tetangga ke pesta// (Makrifat Daun dan Daun Makrifat, hlm. 29).

Keempat, pernyataan sikap aku lirik dalam segala rasa sebagai pecinta. Yang termasuk ke dalam kategori ini, di antaranya, ?Rindu,? ?Karena Cinta,? ?Perjalananku,? ?Tamu Tuhan,? ?Puisiku Hilang karana Engkau,? dan ?Bila Si Pencinta Rindu.? Dalam kategori ini, Tomon sungguh berhasil menjadikan si aku liris sebagai Pecinta tanpa perlu ?rayuan gombal? segala. Ia, dalam banyak hal, tidak terjebak pada bentuk pernyataan. Ia begitu tenang, mengalir dan menyejukkan. Dalam hal ini, kontemplasi sang penyair berhasil membangun keindahan puitik ?lewat pemanfaatan sarana retorika?, bergandengan dengan hasratnya yang kuat menyampaikan pesan tematis. Seperti dikatakannya dalam ?Rindu?: Rindu membukakan segala pintu/bagiku/rindu/telah membuat pecinta selalu mencari kekasih-nya/dan sebaliknya/rindu kekasih/rindu ingin jadi satu dengan kekasih/hingga bila telah bertemu/semua jadi satu/tak ada lagi kekasih/tak ada lagi pecinta/melihat secara kekasih melihat//.

Periksalah larik-larik di atas, betapa pernyataan sikap si aku liris, tidak hanya sekadar menyampaikan pesan kerinduannya, melainkan pesan simbolik dengan penutup yang bagus: melihat secara kekasih melihat. Dalam ?Karena Cinta? hal yang sama juga terasa amat kental. Dengan larik awal Karena Cinta aku jadi gila dan larik akhir rindu aku bertemu Cinta mengisyaratkan memperlihatkan sebuah paradoksal usaha pencarian yang dilakukan si aku liris. Pemanfaatan asonansi dan citraan simbolik, menunjukkan proses pendalaman akan makna pencarian dan kecintaan transendental. Satu sikap kepenyairan, lewat citraan simbolik, yang banyak diungkapkan para penyair sufistik.

Puisi-puisi lainnya, yaitu ?Perjalananku,? ?Tamu Tuhan,? ?Puisiku Hilang karana

Engkau,? dan ?Bila Si Pencinta Rindu? juga memperlihatkan kematangan dan penghayatan yang sama. Meskipun demikian, mesti diakui pula bahwa Tomon belum secara lepas memanfaatkan majas perbandingan dan analogi. Kata Kekasih dan Cinta seolah-olah menjadi pilihan utama, padahal alam sesungguhnya menyediakan perbandingan yang berlimpah.

Kelima, pernyataan sikap dalam memandang persona kedua. Dalam hal ini, Tuhan sebagai Persona Kedua (Engkau dan -Mu) kadangkala dipertukarkan tempatnya selaku objek-subjek atau subjek-objek. Yang termasuk ke dalam kategori ini, antara lain, ?Seribu Jalan Menuju Tuhan,? ?Ada sampai tak Ada,? atau ?Engkau Maha Segalanya? ?sekadar menyebut tiga judul. Di sini, penyajian tidak lagi seperti narasi, melainkan seperti dialog-monolog. Dalam hal tersebut, keberadaan aku liris melesap ke dalam bentuk persona kedua. Jadilah yang muncul adalah hubungan engkau-Engkau atau Engkau-engkau. Di sini, permainan persona kedua tidak sekadar memperlihatkan intensitas hubungan Engkau-engkau atau engkau-Engkau begitu lekat, tetapi juga menunjukkan kesungguhan penyair dalam memakai berbagai sarana pengucapan puitiknya. Di sini pula, Tomon memperlihatkan kepiawaiannya mempermainkan saluran komunikasi lewat bentuk persona kedua.

Keenam, pernyataan hubungan aku-Engkau atau Engkau-aku dalam konteks subjek-objek atau objek-subjek. Dalam kategori itu tampak bagaimana Tomon menjalin dialog transendental yang sangat intens. Tiga di antaranya, ?Sang Penguasa,? ?Cinta, Kekasih dan Racun,? dan ?Ketika Aku Tak Melihat-Mu? memperlihatkan intensitas hubungan mendalam hubungan aku-Engkau atau Engkau-aku. Dalam hal ini, tidak jarang pula tersejadi, si aku liris memperlakukan dirinya selaku objek dan bukan subjek. Atau, aku subjek melesap ke dalam diri Engkau objek, sehingga yang ada adalah Engkau yang Subjek. Dalam beberapa hal, tak terhindarkan pula simbol-simbol sufistik, seperti pemanfaatan kata-kata racun, Samudera Cinta, hamba-Tuan, muncul untuk mendukung pesan tematisnya.

Sebagaimana yang tampak dalam keseluruhan puisi-puisi Tomon, dalam kategori ini pun penyair sama sekali tidak menutupi kerinduannya untuk jumpa atau kegelisahannya karena mabuk Cinta. Kedekatan hubungan aku-Engkau pada akhirnya melahirkan kepasrahan aku liris sebagaimana dikatakannya dalam ?Sang Penguasa?: Tiada daya untuk berlari dari Engkau/seluruh keberadaanku hanya dapat menatap-Mu sepenuhnya/ karena kau telah menjadi milik-Mu sepenuhnya/kini terserah Engkau/kemana akan Engkau ajak aku pergi//

Hal senada juga terungkap dalam ?Cinta, Kekasih dan Racun?. Pada larik-larik bait akhir misalnya, dikatakan: Mungkin aku sudah gila karena Engkau/atau aku sudah mati karena Engkau/atau aku hidup karena Engkau/atau aku berjalan karena Engkau/atau aku makan karena Engkau/atau aku tidur karena Engkau/atau aku bercinta karena Engkau/atau aku segalanya karena Engkau/atau karena segalanya karena Engkau/karena Engkau segalanya//

Sesungguhnya, intensitas hubungan aku-Engkau atau sebaliknya tak pelak lagi menunjukkan pencarian yang tak pernah berhenti; yang belum juga selesai. Sebuah pencarian yang tak pernah jumpa. Tetapi duduk soalnya memang bukan di situ; jumpa atau tidak jumpa bukanlah persoalan. Yang utama adalah pencarian terus-menerus dan perhubungan si aku dengan sesuatu yang transenden itu. Periksalah bait terakhir puisi berjudul ?Ketika Aku Tak Melihat-Mu?. Ketika aku tak lagi melihat-Mu/aku terkurung dan terhalang oleh bayang-bayangku/? dari sana aku aku tahu/aku tak dapat mengelak tatapan-Mu/dan aku tak mampu untuk tidak selalu menatap-Mu/karena itu aku selalu melihat-Mu dan menatap-Mu//

Ketujuh, kecenderungan pemanfaatan simbol-simbol sufistik. Sedikitnya ada 15-an buah puisi yang termasuk ke dalam kategori ini. Dalam hal itu, Tomon, terlepas dari masalah yang menyangkut orisinalitas, berhasil memanfaatkan simbol-simbol sufistik untuk mendukung gagasannya. Satu puisinya yang kemudian dijadikan judul antologi ini, ?Tuhan telah Hilang? agaknya dapatlah dianggap mewakili tema keseluruhan ke-76 puisi yang terhimpun dalam buku ini. Tuhan telah hilang jangan kau cari pada 99 nama indah-Nya/ Karena Tuhan telah hilang./Kini tiada lagi Tuhan yang ada tinggal Sang Kekasih. Puisi pendek yang memperlihatkan kedalaman makna ini, sungguh menunjukkan matangnya sang penyair dalam proses pencarian dan percintaan yang panjang dan tak pernah usai. Satu lagi puisinya berjudul ?Jalan Cinta? terasa melengkapi pencarian dan percintaan itu. Sang kekasih telah menuangkan racun Cinta-Nya dalam/setiap gelas dalam tiap-tiap upacara suci dan menjaganya/dari sesuatu//.

Demikianlah, Tomon telah memperlakukan Tuhan sebagai Sang Kekasih, Sang Pecinta. Dengan demikian, baginya, mencari Tuhan ke entah sesungguhnya tidaklah penting. Karena, di dalam pencarian itu ia sebenarnya telah jumpa, atau paling tidak, ia telah menjumpai Tuhan di entah. Sebuah sikap yang begitu dalam menukik dan menerawang ke dunia transenden. Dan sikap itulah yang lalu diungkapkan dalam ke-76 buah puisinya.

***

Membaca puisi ini, kita memang diajak untuk memasuki dunia transenden. Di tengah tema-tema sosial yang mendominasi peta perpuisian Indonesia, Tomon Haryowirosobo, justru mengambil jalur sastra transenden. Ia mengungkapkan pengembaraannya religiositas, pencarian, dan intensitas pengabdiannya kepada sesuatu yang transenden; Zat yang Maha Berkuasa. Sungguh, Tomon membawa suasana religius yang begitu dalam. Dengan demikian, wajar jika kita berharap banyak dari potensinya yang benar-benar menjanjikan harapan masa depan.

Meskipun demikian, sebagaimana dikatakan Kuntowijoyo dalam Kata Pengantar antologi puisi ini: Sedekah bagi penyair ialah membagi kekayaan batinnya. Dan untuk bisa membagi-bagi, ia harus kaya lebih dulu. Satu pernyataan yang sungguh arif dan bagi penyair, pernyataan itu mestinya dimaknai sebagai sinyal, betapa kedalaman, intensitas, kegelisahannya dalam pencarian yang tidak pernah jumpa itupun, diperlukan pula bekal, dan bukan sekadar tekad dan hasrat segala Cinta dan semua rasa kepada-Nya. Wawasan adalah salah satu bekal yang diperlukan untuk itu, agar pengejawantahan tentang segala Cinta dan semua rasa itu, tidak hanya mewartakan informasi tentang itu, melainkan juga melahirkan pesona, keindahan puitik, dan denyut ketakjuban pada apa yang diungkapkan penyair. Di sini pula, masalah simbol-simbol imaji mutlak perlu untuk menciptakan citraan dan keindahan puitik.

Yang mungkin perlu diperhatikan adalah bahwa Tomon di usia-nya yang belum kepala tiga telah memperlihatkan potensi yang besar, tentu juga memberi harapan yang tidak berlebihan. Hanya saja, ia perlu lebih berani untuk menciptakan simbol-simbol baru, serta membebaskan diri dari konvensi dan tradisi. Pemberontakan dengan memberi peluang bagi imajinasi untuk mengembara secara lepas, bebas, dan liar, juga diperlukan jika kita memang hendak merobek tradisi. Satu hal lagi yang juga penting adalah usaha pendalaman filsafat (Jawa-Islam) yang sangat mungkin dari sana bakal lahir simbol-simbol yang lebih segar dan orisinal.

Bagaimanapun juga, pencarian yang menggelisahkan dan kecintaan transendental sosok seorang Tomon, sungguh merupakan modal besar untuk melahirkan karya-karya lain yang lebih mendalam dan lebih mengejutkan. Kita tunggu saja!

(Maman S. Mahayana, Staf Pengajar FSUI, Depok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *