“Geladak Sastra”, Kekaryaan, dan Sinergi Komunitas

Fahrudin Nasrulloh *

Dunia kepenulisan dan geliat berbagai komunitas apapun bentuk dan aktivitasnya di setiap kota maupun desa, jika kita pernah menyusuri wilayah-wilayah itu dan mencermatinya, sedikit demi sedikit ternyata menyibak jendela pengalaman bahwa di sana bertumbuh dan bergerak beragam gairah dan potensi mulai dalam bentuk kegiatan kawula muda kampung, kemahasiswaan, ataupun komunitas tertentu yang hal ini sungguh menunjukkan suatu perkembangan interaksi sosial yang positif. Di sisi lain jaringan di dunia maya, facebook misalnya, makin menjebak dan membusuki diri tiap individu, kecuali tentu saja ada nilai positif darinya untuk meluaskan informasi dan jaringan antar institusi, pebisnis, jasa wira usaha, ataupun komunitas. Continue reading ““Geladak Sastra”, Kekaryaan, dan Sinergi Komunitas”

Ki Ageng Suryo Mentaram Mengolah Keadiluhungan Budaya Jawa

Muh Muhlisin
http://cetak.kompas.com/

Kebudayaan berubah ketika seorang pangeran meninggalkan istana dan gelar, mengembara dan berbaur dengan rakyat jelata sebagai rakyat biasa. Kalaupun kisah Sidarta Gautama, cerita Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga terlalu jauh jarak waktunya untuk diingat, kita memiliki teladan yang lebih dekat dengan waktu kita hari ini. Ia adalah Raden Mas Kudiarmaji yang berganti nama menjadi Ki Ageng Suryo Mentaram, putra ke-55 Sultan Hamengku Buwono VII. Continue reading “Ki Ageng Suryo Mentaram Mengolah Keadiluhungan Budaya Jawa”

Parafrase Kesedihan

A Qorib Hidayatullah
indonimut.blogspot.com

Beragam dongeng atau pun cerita kesedihan yang dipendarkan dalam gerak avonturus hidup ini. Kisah kesedihan dalam hidup layak ditali-temalikan agar proses hidup tidak sombong. Manusia butuh hidup bijak di tengah arus dangkal pemaknaan hidup hedonis. Semisal trah Bohemian di negeri Paman Sam, karena telah teken konsistensi berhidupkan sedih, mereka memarkir dirinya tinggal di pedalaman di negara adidaya (sub-urban) itu. Continue reading “Parafrase Kesedihan”

49 Tahun Realisme Bumi Tarung

Muhidin M. Dahlan *
jawapos.co.id

JUNI yang basah ini tepat 49 tahun Sanggar Bumi Tarung (SBT) Jogjakarta. Itulah sanggar seni rupa yang menguasai pleno Lembaga Seni Rupa Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) paling akhir, yakni Juli 1965 (Harian Rakjat, 4/7/1965), sebelum terkubur kutukan revolusionernya. Lalu, SBT kembali bangun dari hibernasinya yang teramat panjang di arena seni rupa Indonesia pada 19 Juni 2008, setelah gelanggang dikuasai sepenuhnya oleh contemporary art (Almanak, 2009: 277). Continue reading “49 Tahun Realisme Bumi Tarung”

Bahasa ยป