Mementaskan Kemuraman Maeterlink

Kustiah Tanjung*
http://www.jawapos.co.id/

PEMENTASAN naskah drama liris-simbolis The Intruder karya Maurice Maeterlink, peraih Hadiah Nobel Sastra 1911, sungguh hening. Gelap, sunyi, dan muram disuguhkan silih berganti. Dari awal sampai akhir pementasan di ruang pertunjukan Bentara Budaya Jakarta, 2-3 Juni lalu, itu tidak terdengar tawa seorang penonton pun. Seolah penonton ikut masuk menjadi bagian dari ”pemain” yang mementaskan karya yang terkenal berat tersebut. Continue reading “Mementaskan Kemuraman Maeterlink”

PROBLEM EKSISTENSIAL CINTA TAI KUCING!?

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

?Realitas manusia adalah bebas, pada dasarnya dan sepenuhnya bebas!? demikian semangat yang dikumandangkan Sartre. Hanya dengan kebebasan, manusia akan menyadari eksistensinya, dan sekaligus dapat membentuk individu yang berpribadi. ?Jadilah diri sendiri, dan hiduplah sebagai manusia unggul!? begitulah penegasan Nietzsche dalam fatwa eksistensialismenya. Meski disadari tidak ada kebebasan mutlak, bagi seorang eksistensialis, independensi merupakan hal yang mutlak perlu. Tanpa itu, ia akan kehilangan kebebasannya dan akan tetap meringkuk dalam ketiak individu lain. Itulah problem eksistensial yang tampak dalam diri hampir semua tokoh cerpen antologi Cinta? Tai Kucing! karya Maroeli Simbolon (Yogyakarta: Jalasutra, 2003; ix + 152 halaman). Continue reading “PROBLEM EKSISTENSIAL CINTA TAI KUCING!?”

Ayat-ayat Cinta & Tuhan sebagai Komoditas

A. Qorib Hidayatullah*
http://indonimut.blogspot.com/

Stok tema soal cinta tak bakal habis diulas. Tema yang satu ini memiliki daya aktual kuat yang didesain khusus mampu berkompromi dengan setiap limit waktu dan ruang. Sifat kekekalan cinta memberi peninggalan ?rasa? yang bersemayam di lubuk hati terdalam. Tak dinafi?kan, rasa mencintai merupakan fitrah alamiah tiap-tiap orang. Continue reading “Ayat-ayat Cinta & Tuhan sebagai Komoditas”

MEMANDANG OMBAK DALAM GELAS

Maman S. Mahayana *

Minggu waktu duha. SMS seperti hujan. Aku baru saja menikmati gelombang ombak dalam gelas: sebuah tanggapan dari orang tak dikenal atas tulisanku di Media Indonesia Minggu. Ia cukup lihai cari popularitas dengan memanfaatkan ide pihak lain. Tak ada informasi baru di sana. Kulihat burung pipit lahap mengisap bunga benalu. Sebuah SMS masuk lagi: “Itu pseudo!” Mungkin, pikirku sambil mengingat sejumlah artikel Lekra awal tahun 1965-an. Continue reading “MEMANDANG OMBAK DALAM GELAS”

Sebuah Kota, Sajak, dan Pembangunan*

Y. Wibowo
http://kebunlada.blogspot.com/

ISBEDY stiawan Z.S. menuliskan artikel fantastis sekaligus miris dalam momentum Hari Ulang Tahun ke-322 Kota Bandar Lampung, 17 Juni 2004, berjudul “Kota tanpa Ruang Kontemplatif” (Lampung Post, 19 Juni 2004). Menurut penulis, dalam merefleksikan “kenangan yang berjalan”, Bang Isbedy melihat Kota Bandar Lampung adalah sebuah sajak yang terdedah karena alam dan didedahkan sistem dan kebijakan. Namun, dari sisi wajah arsitektur yang dinamik dan problematik belum terungkap. Continue reading “Sebuah Kota, Sajak, dan Pembangunan*”

Bahasa »