49 Tahun Realisme Bumi Tarung

Muhidin M. Dahlan*
http://www.jawapos.co.id/

JUNI yang basah ini tepat 49 tahun Sanggar Bumi Tarung (SBT) Jogjakarta. Itulah sanggar seni rupa yang menguasai pleno Lembaga Seni Rupa Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) paling akhir, yakni Juli 1965 (Harian Rakjat, 4/7/1965), sebelum terkubur kutukan revolusionernya. Lalu, SBT kembali bangun dari hibernasinya yang teramat panjang di arena seni rupa Indonesia pada 19 Juni 2008, setelah gelanggang dikuasai sepenuhnya oleh contemporary art (Almanak, 2009: 277).

Sebagian besar sepak terjang sanggar radikal itu selama lima tahun pada masa manipol USDEK menggemuruh bisa disigi dalam buku Amrus Natalsya dan Bumi Tarung karya Misbach Tamrin (2008) serta beberapa data tercecer di berbagai kutipan studi sejarah seni rupa tak resmi.

Amrus Natalsya yang termaktub dalam judul buku itu adalah pendiri sekaligus ideolog tangguh SBT. Beberapa di antara nama-nama eksponen awal lainnya adalah Kuslan Budiman, Djoko Pekik, Sutopo, Adrianus Gumelar, Sabri Djamal, Suharjiyo Pujanadi, Harmani, dan Haryatno. Tapi, Amrus menjadi magnet SBT sejak didirikan pada Juni 1961 di sebuah warung makan Pasar Gampingan. Kala empat seniman ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia, kini Institut Seni Indonesia/ISI, Jogja, Red) hendak berpameran di Jefferson Library, sosok itu pula yang “menyelamatkan” mereka dari grand-scenario Amerika melawan realisme sosialis Lekra yang berkibar-kibar.

Sangat beralasan “menetralkan” ASRI. Kampus tersebut memang dihuni seniman-seniman pejuang kemerdekaan dan merupakan kandang realisme seni rupa. Sebut saja Sudjojono, Affandi, Hendra Gunawan, Suromo, Abdul Salam, Sudarso, Trubus, Rusli, Basuki Resobowo, Solihin, dan lain-lain.

Lekra, Bumi Tarung, dan Pelukis Rakjat

SBT adalah satu-satunya sanggar yang tanpa tedeng aling-aling menyatakan diri berada di bawah Lembaga Seni Rupa (Lesrupa) Lekra. Karena 12 tahun kemunculannya, praktis Lekra secara organisatoris tak punya organ praksis seni rupa. Lesrupa yang muncul dari kongres Solo pada 1959 hanya “koordinator” berbagai organ yang memiliki kedekatan paham dengan seni yang diusungnya.

Sebelum SBT, salah satu organ terkuat yang mendukung Lekra adalah Pelukis Rakjat, yang dipimpin Hendra Gunawan. Bahkan, organisasi itu menjadi pelaksana pilot project pertama turba (turun ke bawah) Lekra di bidang seni rupa pascakongres Solo.

Tapi, aliran seni dalam sanggar tersebut bersifat cair. Hendra memang orang Lekra. Dia bersama Affandi dan Sudjojono menjadi kandidat senator PKI dari kalangan “seniman tak berpartai” pada Pemilu 1955.

Di Pelukis Rakjat, ada beberapa nama seniman Lekra. Antara lain, Martean Sagara, Batara Lubis, Permadi Liosta, Tatang Ganar, Yuski Hakim, Rachmad, Trubus, Itji Tarmizi, Syawal Trisno, dan Djoni Trisno. Namun, seniman dari kalangan non-Lekra juga ada, seperti Abas Alibasyah, Fadjar Sidik, dan Eddy Sunarso.

Amrus menggegerkan situasi kala menarik diri dari “anggota tak resmi” Pelukis Rakjat dan memilih membuat sanggar sendiri. SBT pun dituding sebagai kumpulan mahasiswa-mahasiswa yang mbalela dari Pelukis Rakjat, brutal, anarkistis, dan sensasional. Selain itu, mereka dianggap berlebihan dan bombas.

Praktis, setelah SBT lahir, komposisi aktor seni rupa Lekra berubah dan berbeda dengan dekade sebelumnya. Seniman-seniman muda yang awalnya nunut belajar di Pelukis Rakjat hijrah dan membentuk barisan progresif.

Kelompok itu dengan bersemangat membuka front-front perdebatan besar tentang ihwal aliran seni dan mengintensifkan gerakan turba sebagai pelaksanaan rumusan 1-5-1 Lekra yang dipraksiskan dengan sangat keras oleh anggota-anggotanya.

Turba Bumi Tarung

Turba adalah garis massa yang coba memberikan jalan kepada para perupa untuk mendengar denyut dan merasakan langsung kehidupan masyarakat basis dengan membawa semangat emansipasi yang terangkum dalam “tiga sama”: bekerja bersama, makan bersama, dan tidur bersama.

Sebagai metode kerja penciptaan, turba menjadi metode yang dibakukan oleh Lekra dalam segala penciptaan yang disemangati konsep bahwa sumber kreasi adalah realitas yang mesti digali dan dialami, bukan ilham yang sekonyong-konyong datang pada tengah malam, sewaktu si perupa duduk-duduk di kursi sambil mengintip bulan bersinar teduh.

Demikianlah turba menjadi semacam gerakan dalam tradisi penciptaan seniman Lekra yang diadakan secara terencana dan berkelompok. Sejak kongres Lekra di Solo, turba dilakukan oleh beberapa kelompok perupa. Antara lain, Gempa Langit Jawa Tengah, Bumi Tarung Jogjakarta, Maris Jawa Barat, dan Mawar Merah Sumatera Utara (Lekra, 2008: 316).

Turba dalam pandangan Bumi Tarung menjadi jawaban atas bencana sosial dalam sejarah yang disebabkan oleh distorsi kepemilikan bersama atas alat produksi (tanah dan tenaga kerja manusia). Pameran pertama SBT terjadi pada medio 1962 di Jakarta, merupakan hasil kristalisasi turba itu. Umumnya, karya yang dipamerkan adalah hasil dua bulan melakukan “tiga sama” di Pantai Trisik, Wates, Jogjakarta. Dibantu Barisan Tani Indonesia (BTI), mereka merekam dan membantu secara ekstensif perjuangan kaum tani dalam melawan ketidakadilan dan penindasan tuan tanah yang disokong aparatus militer. Salah satu karya legendaris yang merekam peristiwa itu dihasilkan oleh Djoko Pekik, Tuan Tanah Kawin Muda. Esai literer Misbach Tamrin berjudul Trisik, yang menggambarkan peristiwa mendebarkan tersebut, bisa disimak di HR Minggu, 2 Agustus 1964 (Laporan dari Bawah: Himpunan Cerpen Lekra, 2008: 224).

Perjuangan kaum tani memang menjadi konsentrasi Bumi Tarung. Suatu kaum yang termarginalkan, seperti digambarkan secara keras dalam bait pertama puisi Agam Wispi, Matinya Seorang Petani (kumpulan puisi yang judulnya diambil dari puisi Wispi itu diberedel pada 1961): depan kantor bupati/tersungkur seorang petani/karena tanah/karena tanah… dia jatuh/rubuh/satu peluru/dalam kepala.

Karya-karya perupa Bumi Tarung yang menunjukkan pembelaan habis-habisan kepada kaum yang jatuh/rubuh/satu peluru/dalam kepala itu, antara lain, Peristiwa Djengkol, Melepas Dahaga di Mata Air yang Bening, Petani dan Laskar Rakjat 1945, serta Petani yang Terusir dari Tanah Garapannya. Puisi-puisi tersebut merupakan karya Amrus. Ada juga cukil kayu terkenal karya Kusmulyo, Bojolali. Itu merupakan bentuk perlawanan atas penembakan petani Boyolali dalam sengketa tanah.

Realisme Revolusioner

Lantaran pembelaan yang bertubi-tubi itu, tak jarang salah satu pasal garis berkesenian mereka, yakni dua tinggi: tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, dalam pelaksanaannya kedodoran. SBT kerap lebih berat ke ideologi. Risikonya, nilai karya-karya mereka setara dengan poster, karikatur, dan ilustrasi.

Namun, itu adalah risiko yang disadari ketika SBT memilih realisme revolusioner. Realisme tersebut dipilih untuk membedakan SBT dengan realisme sosialis yang dipahami secara konsepsi resmi oleh Pelukis Rakjat dan Lekra. Merujuk pada data sejarah, realisme revolusioner diproduksi dalam KSSR, yang kemudian menjadi organ kebudayaan resmi sebagaimana digariskan Sidang Pleno II CC PKI pada akhir 1963. KSSR dimunculkan setelah PKI gagal “memerahkan” Lekra secara total.

Tak ada beda memang antara pedoman kebudayaan KSSR dan Lekra (1-5-1). Pembedanya hanya realisme sosialis (Lekra-PKI) dan realisme revolusioner (KSSR/PKI). Alasan D.N. Aidit waktu itu, “Realisme sosialis menghambat kegiatan, di samping memang ada keterbatasannja. Jang saja maksudkan dengan keterbatasan jalah, bahwa penggunaan istilah ini akan tidak tepat lagi djika kita sudah sampai ke masjarakat komunis di kemudian hari (Harian Rakjat, 7 September 1964).”

Alasan SBT menolak realisme sosialis dan memilih realisme revolusioner adalah sikap menolak sebagai bumper, agen, dan tidak mau mengekor secara teoretis ke Moskow atau Beijing. Jika realisme sosialis hanya berada pada tahap memahami, merefleksikan, dan menggambarkan kehidupan proletar dengan warna-warna palet yang padat, berat, dan dalam, konsep revolusioner berakhir pada tindakan mobilisasi perlawanan setelah memahami dan merefleksi dengan karya-karya yang besar, mencolok, dan gigantik (Amrus, 2008: 23, 82, 79, 189).

Karena itu, perupa SBT secara terang-terangan menyokong pameran pertama KSSR yang dihelat PKI untuk memperingati ulang tahun ke-45 pada 23 Mei 1965 dan dibuka Presiden Soekarno.

Setelah itu, SBT terseret dalam arus partai politik dengan begitu dalam, kemudian hancur berkeping-keping karena provokasi 65 yang berlangsung cepat dan mengejutkan.

Walau hanya berlangsung lima tahun, SBT telah melahirkan jagoan. Karya dua nama ini, Amrus dan Djoko Pekik, ketika contemporary art merajai wacana seni rupa, patut diperhitungkan dalam album besar sejarah seni rupa Indonesia. Ambil saja, misalnya, karya Amrus yang dibakar massa pada 1965 di depan Akademi Ilmu Sosial Aliarcham. Karya berjudul Keluarga Tandus di Senja tersebut diakui sejarawan seni Claire Holt (2000: 340) sebagai pahatan kayu yang menyampaikan penderitaan eksistensi kemanusiaan dengan kekuatan yang jarang dijumpai pada karya-karya seniman Indonesia lainnya.

Teknik lukisan kayu Amrus juga disebut-sebut sebagai penemuan paling orisinal dalam teknik seni rupa. Selain itu, ada karya Pekik, Berburu Celeng (2008), yang memecahkan rekor karya termahal di senja kala usia orde Soeharto. (*)

*) Kepala riset Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009 dan penulis Lekra Tak Membakar Buku (2008)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *