Dunia dan Strategi Baru Pesantren

Aguk Irawan M.N. *
cetak.kompas.com

Menjelang hajatan besar Nahdlatul Ulama, baik juga mendengar keluhan sejumlah selebriti. Mereka mengaku merasa resah dengan adanya beragam fatwa. Misalnya, fatwa soal hukum haramnya penggunaan jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter, melakukan rebonding, foto pre-wedding dan beberapa hal lain yang berkaitan dengan “gaya hidup modern”. Continue reading “Dunia dan Strategi Baru Pesantren”

SENI TRADISI: BERTOLAK DARI TEATER MISKIN

Balok Sf
http://terpelanting.wordpress.com/

Ketika seni tradisi, ludruk, wayang, maupun kentrung, dihadapkan pada masyarakatnya bukan lagi sebagai suatu tontonan yang menjadi tuntunan yang sebenar, tetapi hanyalah dianggap sebagai ?seni pinggiran? yang sifatnya hanyalah sekilas, hiburan, temporer. Seni Tradisi tidak bermakna lagi di hati mereka. Inilah yang dinamakan tuntunan yang menjadi tontonan. Seperti yang pernah kita ketahui bahwa awal muncul seni tradisi banyak memuat ajaran-ajaran moral, baik tersurat maupun tersirat. Continue reading “SENI TRADISI: BERTOLAK DARI TEATER MISKIN”

Memetik hikmah dari puisi-puisi transendental, karya Moh. Gufron Chalid

Imron Tohari

“Sastra adalah jalan keempat untuk mencari kebenaran, setelah agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan.” (Teeuw)

Seperti yang dikatakan Teeuw di atas, seperti itulah yang saya temukan pada sajak-sajak Moh. Gufron Chalid yang terkumpul pada 17 sajak pilihan, yang di inbokkan ke saya untuk saya pelajari.

Setelah menelusuri setiap detak nafas sajak-sajak tadi, di sana saya dapat merasakan bagaimana penyair dalam menjalani proses pencarian jalan kebenaran melalui medium sastera. Continue reading “Memetik hikmah dari puisi-puisi transendental, karya Moh. Gufron Chalid”

Penyair Lampung dan Kritikus Sastra

Anton Kurniawan *
Lampung Post, 22 Juli 2007

“Lampung kini dikenal sebagai daerah produsen penyair, hal ini disebabkan banyaknya penyair yang lahir di daerah ini beberapa tahun belakangan. Saya mencatat lebih dari 20 penyair. Dalam puisi Lampung kontemporer yang umumnya berbentuk prosa, akulirik tidak lagi mengacu pada penulis cerita, tapi mengacu kepada cerita itu sendiri. Dan yang lebih berat lagi bagaimana bertahan dalam ketegangan antara prosa dan puisi yang memakai bayang-bayang cerita”. Continue reading “Penyair Lampung dan Kritikus Sastra”

Bahasa »