Pram Muda Telah Lahir?

Hermawan Aksan
http://terpelanting.wordpress.com/

BACALAH buku tanpa membaca endorsement-nya terlebih dulu. Saya yakin ini nasihat yang cukup bijak sebab endorsement (berarti 1. pengesahan, pengabsahan, persetujuan, 2. dukungan, sokongan.) bisa saja menjebak ?meskipun tidak bermaksud begitu. Endorsement pada buku Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC karya E.S. Ito yang ditulis sastrawan dan aktivis M. Fadjroel Rachman berbunyi begini, ?Novel yang dahsyat detail sejarahnya dan inspiring. Pram muda telah lahir??. Continue reading “Pram Muda Telah Lahir?”

TANDA ATAU KATA? (Studi Tentang Puisi)

Nu?man ?Zeuz? Anggara*
http://terpelanting.wordpress.com/

Membaca puisi adalah memahami bukan membahasakannya. Memahami berarti meleburkan makna menjadi luluh mencair ke dalam lapisan yang lebih dalam dari ego seorang pembaca, menegaskan imaji-imaji menjadi substansi dengan aspek privat. Narasi yang mengabsorbsi dan penolakan ditiadakan, konsekwensi arus kesadaran yang bekerja saat logika dan pheneumenon bertukar tempat, arus resiprokal penafsiran dengan aspek imanen teks tetap terjaga keberdiriannya. Continue reading “TANDA ATAU KATA? (Studi Tentang Puisi)”

Merentang Riwayat Reggae

Hudel*
http://terpelanting.wordpress.com/

Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat : reggae. Boleh jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang mengena dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan. Continue reading “Merentang Riwayat Reggae”

CARUT-MARUT SEJARAH SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana *

Sastra tidaklah lahir dari sebuah kekosongan. Ia mengada setelah melewati proses yang rumit yang berkaitan dengan persoalan sosio-budaya, politik, ekonomi, bahkan juga ideology dan agama. Jadi, ketika karya sastra terbit, beredar, dan kemudian dibaca masyarakat, di belakang itu ia sesungguhnya menyimpan sejarahnya sendiri. Ada kontekstualitas antara teks dan berbagai persoalan yang melatarbelakanginya. Maka, ketika kita coba mengungkapkan problem yang melatarbelakanginya itu, tidak terhindarkan, kita terpaksa mencantelkan teks itu dengan konteksnya, dengan persoalan yang berada di luar teks. Continue reading “CARUT-MARUT SEJARAH SASTRA INDONESIA”

Bahasa ยป