Buku dari Koran

Ahmadun Yosi Herfanda
infoanda.com/Republika

Ada hubungan yang menarik antara dunia perbukuan, khususnya buku sastra, dengan surat kabar (koran). Banyak sekali buku sastra yang terbit di Indonesia –baik kumpulan cerpen, esai, puisi, maupun novel– berasal dari karya-karya yang telah dipublikasikan di surat kabar.

Karya-karya sastra tersebut umumnya sengaja ditulis untuk rubrik-rubrik sastra di surat kabar, kemudian disunting dan diterbitkan menjadi buku. Banyak di antaranya bahkan menjadi buku penting, fenomenal, dan bestseller. Sebut saja, misalnya, Ca Bau Kan karya Remy Silado dan Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy — keduanya pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Republika. Continue reading “Buku dari Koran”

Menggairahkan Sastra Indonesia

Suyanto, M.Si
radarbanyuwangi.co.id

Saya teringat dengan banyak pesan Taufiq Ismail (sastrawan nasional yang kini menetap di Menteng-Jakarta Pusat) dan beberapa tokoh dunia peduli sastra lainnya yang telah diukir oleh sejarah dunia, bahwa, (1) “hidupilah sastra di Indonsia, karena banyak siswa kita sudah sangat rabun pada sastra”, (2) Umar bin Khatab RA, “ajarkanlah sastra pada anak-anak kalian karena sastra akan mengubah jiwa pengecut menjadi pemberani?” (3) petuah bijak yang menyatakan, bahwa “air bagi ikan bahasa bagi manusia, oksigen bagi ikan sastra bagi manusia”. Continue reading “Menggairahkan Sastra Indonesia”

Siapa Sebenarnya Kritikus Sastra Kita

Anton Suparyanto
http://www.kr.co.id/

MEMBACA opini pemilahan yang begitu ambisius antara kinerja kritikus dan pengamat seni (Arina, Minggu Pagi Minggu III September 2003), amat menarik. Bukankah wacana pikiran chaos akhir-akhir ini sudah acuh tentang batas kerja keilmuan?

Sebenarnya lingkup pengamat merupakan elemen sederhana dalam cakupan kritikus yang memiliki tataran ?membaca-memahami-mengurai-menilai?. Kaun akademisi bilang ?analisis-interpretasi-evaluasi?, dari asas ?formalistik-heuristik-hermeneutik?. Salah satu titiknya ?semiotik?. Continue reading “Siapa Sebenarnya Kritikus Sastra Kita”

POTRET GANDA NAYLA – DJENAR MAESA AYU

Maman S. Mahayana *

Djenar Maesa Ayu lewat dua antologi cerpennya, Mereka Bilang, Saya Monyet! (2003) dan Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) (2004), tak pelak lagi, telah berhasil menjejerkan namanya dalam deretan penting sastrawati Indonesia. Ia juga mengambil posisi khas yang domainnya tak banyak dimasuki sastrawan Indonesia lainnya. Kini, ia meluncurkan novel pertamanya, Nayla (Gramedia Pustaka Utama, 2005, 178 halaman). Continue reading “POTRET GANDA NAYLA – DJENAR MAESA AYU”

BAHASA DAN KRISIS IDENTITAS

Muhammad Aris*
http://terpelanting.wordpress.com/

Konsep ?identitas? pada pengertian ilmu psikologi, adalah suatu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi, pada keyakinan yang pada dasarnya tetap tinggal sama selama seluruh jalan perkembangan hidup kendatipun terjadi segala macam perubahan. Erikson menambahkan bahwa pembentukan identitas adalah suatu proses yang terjadi dalam inti dari pribadi, dan juga di tengah-tengah masyarakat. Continue reading “BAHASA DAN KRISIS IDENTITAS”

Bahasa ยป