Proses Evolusi Dewa Putu Kantor

Sunaryono Basuki Ks
http://www.sinarharapan.co.id/

Seni menggambar atau drawing telah ditinggalkan banyak perupa lantaran dalam jagat bisnis lukisan karya drawing tidak bisa menghasilkan uang banyak. Kalau beruntung, pelukisnya bisa mendapat pesanan untuk menghasilkan drawing bagi sejumlah buku cerita.

Namun, hal itu tidak menghalangi Dewa Putu Kantor (46 th) kelahiran Sukawati untuk menekuni seni menggambar ini. Bahkan dia berani menggelar pameran tunggal karya-karyanya di Galeri Sembilan, Ubud, Bali, 15 Agustus?15 September. Continue reading “Proses Evolusi Dewa Putu Kantor”

Bumi Kesunyian “Arco Etrusco”

Ribut Wijoto *
sinarharapan.co.id

Puisi memang tidak bisa dikekang. Puisi “Arco Etrusco” (antologi puisi Di Atas Umbria, 1999:7-8) dari Acep Zamzam Noor menunjukkan perilaku itu. Sebuah puisi tentang sunyi. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan terakhir (2001) mendefinisikan “sunyi” sebagai tidak ada bunyi atau suara, tidak ada orang, dan tidak banyak transaksi. Sunyi, suatu kondisi dan situasi yang mirip dengan lengang, hening, senyap, dan sepi. Tetapi puisi Acep tampaknya melampaui artian kamus, melampaui pemahaman publik, dan memilih pemahaman yang amat pelik: sunyi bukan lagi lengang. Continue reading “Bumi Kesunyian “Arco Etrusco””

Merangkul Tabu, Meretas Kekerasan Tersamar

Tren Perjuangan Perempuan dalam Sastra

R. Sugiarti
http://www.sinarharapan.co.id/

Hari perempuan sedunia yang jatuh tanggal 8 Maret lalu diperingati dengan cukup provokatif. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat perempuan di Jakarta menuntut pemerintah dan DPR untuk memprioritaskan hak dan kesejahteraan perempuan (SH, 9 Maret 2002). Bulan ini, perempuan Indonesia pun merayakan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April setiap tahun. Esensi kedua hari penting bagi perempuan adalah sama: memperjuangkan hak-hak perempuan di segala bidang. Continue reading “Merangkul Tabu, Meretas Kekerasan Tersamar”

Pendekatan Partisipatif dalam Konservasi Warisan Budaya

I Wayan Artika
http://www.sinarharapan.co.id/

Proyek-proyek konservasi warisan budaya yang diprakarsai oleh masyarakat internasional kerap bertentangan dengan masyarakat lokal (masyarakat adat, misalnya).
Pertentangan itu disebabkan oleh perbedaan-perbedaan di antara kedua masyarakat tersebut. Perbedaan-perbedaan itu ditemukan dalam beberapa hal, yaitu visi, pandangan fungsional, perlakuan dan bentuk perlakuan, perilaku pengembangan, semangat dan dasar perlakuan, dan praktik, sehubungan dengan atau terhadap warisan budaya (Wyasa Putra, 2002: 7). Continue reading “Pendekatan Partisipatif dalam Konservasi Warisan Budaya”

Bahasa ยป