Sugeng Kondur Eyang Gesang…

Jodhi Yudono
http://oase.kompas.com/

Gesang memang telah pergi. Tetapi nama dan karya-karyanya akan tetap abadi, selama bangsa ini masih suka bernyanyi. Dan “Bengawan Solo” adalah sebuah lagu yang punya kans untuk tetap dinyanyikan di segala zaman. Mafhumlah sebab lagu Gesang, “Bengawan Solo”, misalnya, adalah lagu dengan notasi dan struktur lagu yang bersahaja sehingga orang akan gampang mengingat dan menyanyikannya. Di samping itu, syair yang terdapat pada lagu tersebut juga kontekstual di segala waktu. Continue reading “Sugeng Kondur Eyang Gesang…”

NIETZSCHE DAN KEMATIAN TUHAN DALAM SEBUAH REFLEKSI

Imamuddin SA *

Ini bukan omong kosong, melainkan sesuatu yang benar-benar terjadi. Ini adalah realitas kehidupan dari dulu hingga sekarang. Fenomena ini kerap dipandang sebelah mata oleh kalangan-kalangan tetentu, padahal jika mereka bersedia menelisik kedalaman makna, mereka akan menemukan sesuatu yang besar yang sanggup dijadikan perenungan, permenungan serta refleksi terhadap realitas yang ada. Continue reading “NIETZSCHE DAN KEMATIAN TUHAN DALAM SEBUAH REFLEKSI”

POTRET SOSIAL MASYARAKAT BETAWI

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Cerpen-cerpen SM Ardan sebagian besar cenderung mengangkat persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Betawi; masyarakat yang memang sangat dikenalnya benar. Di sana, Ardan seolah-olah memotret apa saja yang dilihatnya. Maka, apapun yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Betawi, sangat mungkin telah menjadi tema cerpen-cerpennya. Terkesan kuat, ia sekadar hendak mewartakan secara apa adanya segala yang terjadi atau yang menjadi kegelisahannya. Oleh karena itu, tema cerita dalam cerpen-cerpennya begitu beragam. Continue reading “POTRET SOSIAL MASYARAKAT BETAWI”

S. YOGA DALAM LIMA TANGGA KEPUITISAN

Imamuddin SA *

Cukup sulit dewasa ini memberikan penilaian terhadap karya sastra, lebih khususnya puisi. Memakai standart penilaian yang bagaimana untuk diterapkan pada sebuah karya sastra? Hal itu disebabkan oleh keberadaan karya sastra itu sendiri. Karya sastra kontemporer lebih bersifat bebas dari ikatan-ikatan atau aturan perpuisian. Inilah yang kiranya menjadikan seorang kritikus sastra harus memutar otak lebih serius lagi. Continue reading “S. YOGA DALAM LIMA TANGGA KEPUITISAN”

Bahasa ยป