Bermain Ski Di Kepala Botak Afrizal Malna

Dwi S. Wibowo
sastrasaya.blogspot.com

Sehari. Aku bermimpi aku jadi manusia, Dada. Sehari.
Dada. Sehari. (Afrizal Malna: “dada”)

Naomi Srikandi, dalam pengantarnya (Manusia Grogi Mebaca Puisi-Puisi Afrizal Malna) dalam acara launching buku kumpulan puisi Afrizal Malna yang dicetak ulang oleh penerbit omah sore menyebut bahwasanya membaca puisi-puisi afrizal malna adalah keluar dari taman bacaan sastra yang manyajikan keindahan namun memasuki tong sampah, toilet umum, dan slogan-slogan busuk yang terpampang di kota-kota. Continue reading “Bermain Ski Di Kepala Botak Afrizal Malna”

MERAYAKAN KE-BODOH-AN PENYAIR-PENYAIR MUDA KONTEMPORER

Catatan untuk ‘PENYAIR (ITU) BODOH

Ahmad Kekal Hamdani

2 Paragraf Pertama Tentang Penyair dan Kebodohan

Beberapa bulan yang lalu (entah tepatnya kapan), saya mendapatkan sebuah buku antologi puisi “Penyair (itu) Bodoh” karya seorang kawan di Yogyakarta; Dea Anugrah mahasiswa Filsafat UGM, sahabat saya yang mirip Chow Yun-Fat itu. tapi tentu saja dia bukan penjudi, tapi penyair yang bodoh. Dan atas kebodohannya itu, saya nyaris jatuh cinta kepadanya. Continue reading “MERAYAKAN KE-BODOH-AN PENYAIR-PENYAIR MUDA KONTEMPORER”

Kopi Darat

Ajar Aedi*
http://www.jawapos.com/

Pada 2009, media massa memprediksi, gerakan publik di Indonesia melalui situs jejaring sosial atas isu yang menekan rasa keadilan jadi tren masa depan demokrasi. Kini, di awal 2010, efek situs jejaring sosial kembali jadi perbincangan media. Selain kasus prostitusi di dunia maya, ada beberapa kasus pertemanan muda-mudi perkotaan yang diawali dari situs jejaring sosial, berlanjut kopi darat dan berakhir dengan tindakan ”pergi tanpa pamit”. Continue reading “Kopi Darat”

Bahasa ยป