A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/
Awas! Kaoem Journalist!
Jadi Journalist zaman sekarang,
Berani dihukum dan di buang.
Karena dia yang mesti mendang,
Semua barang yang malangmalang. Continue reading “Kesunyian Seabad Pers”
A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/
Awas! Kaoem Journalist!
Jadi Journalist zaman sekarang,
Berani dihukum dan di buang.
Karena dia yang mesti mendang,
Semua barang yang malangmalang. Continue reading “Kesunyian Seabad Pers”
Bandung Mawardi
http://www.lampungpost.com/
Rabindranath Tagore dalam novel The Home and The World mengisahkan politik, cinta, nasionalisme, ideologi kelas, dan kolonialisme. Tagore dalam novel itu mengonstruksi rumah dengan pandangan liris dan menegangkan. Rumah menjadi metafor untuk manusia dan negeri India yang merumuskan diri pada awal abad XX dalam kuasa kolonialisme Inggris dan modernitas. Continue reading “Prosa Rumah: Referensi dan Representasi”
Ketajaman, Keluasan, Kedalaman…
IBM. Dharma Palguna
balipost.com
PADA akhir dekade kedua abad 20, seorang Rabindranath Tagore berkunjung ke Gianyar. Sebagai orang yang sangat didengarkan oleh dunia ketika itu, pujangga besar dunia itu tidak berbicara banyak tentang apa yang dilihatnya, tentang apa yang didengarnya, dirasakannya, termasuk apa yang barangkali dicemaskannya. Continue reading “Tagore di Gianyar”
Maman S. Mahayana
Antologi cerpen, baik karya perseorangan, maupun karya bersama, tentu dengan mudah dapat kita jumpai di sejumlah toko buku atau perpustakaan. Buku antologi cerpen semacam itu, biasanya tidak spesifik mengangkat tema tertentu, meskipun mungkin saja ada maksud dan harapan tertentu yang melatarbelakangi dan melatardepaninya. Tetapi, bagaimana dengan antologi cerpen yang sengaja mengusung tema tertentu, seperti yang dilakukan Kompas lewat Korma: Cerpen-Cerpen Puasa—Lebaran? Continue reading “PELANGI POTRET PUASA DAN LEBARAN”
Rakhmat Giryadi
Pada suatu ketika kelas borjuasi tidak lagi ingin menonton lakon raja-raja, bangsawan-bangsawan; mereka ingin melihat diri mereka sendiri. Maka tidak sia-sia, George Lillo (1731) menulis lakon tentang magang, pelacur, dan saudagar dalam karyanya Saudagar London. Jelas dalam lakon ini tokoh-tokoh kerajaan tidak hadir seperti yang terjadi dalam teater Elizabethan, yang hanya menampilkan wajah kerajaan. Continue reading “Para Peletak Dasar Teater Modern”