Tuan dan Nona Kosong, Novel Filosofis yang Bising

Kurniawan
http://www.ruangbaca.com/

Ada beberapa hal yang perlu saya ungkap dahulu sebelum saya mengurai pengalaman saya membaca novel pertama Hudan Hidayat dan ariana Amiruddin ini. Pertama, Hudan mengutip ?komentar? saya dalam pengantar bukunya bahwa saya ?sambil bergurau mengomentari novel ini sebagai epistemologi kloset?. Sebenarnya istilah itu bukan milik saya pribadi. Itu saya pinjam secara tak tepat dari judul buku terkenal Eve Kosofsky Sedgwick, Epistemology of the Closet, yang beberapa tahun lalu saya baca. Continue reading “Tuan dan Nona Kosong, Novel Filosofis yang Bising”

Sosok HB Jassin

Budi Darma
kompas.com

HB JASSIN dan Chairil Anwar lahir pada saat yang tepat, karena itu saling ketergantungan antara mereka kemudian berhasil memberi warna indah dalam perkembangan sastra kita. Seandainya mereka tidak muncul bersama pada tahun 1940-an dan 1950-an, warna perkembangan sastra kita mungkin akan berbeda. Tahun 1940-an dan 1950-an adalah tahun-tahun menjelang kemerdekaan dan pascaperang kemerdekaan, sehingga, dengan demikian, peran letupan-letupan intuisi dalam seni, khususnya sastra, menjadi sangat menonjol. Continue reading “Sosok HB Jassin”

Perpuisian Yogyakarta di Era Transisi

Abdul Wachid B.S.
mathorisliterature.blogspot.com

1. Pengantar : Persada Studi Klub, Era Transisi, Perpuisian Yogya 1980-an

Pengertian “di era transisi” sangatlah sosiologis, yakni masa peralihan, pancaroba. Namun, peralihan dari apa ke apa, dan dalam konteks apa? Dalam konteks kebudayaan pengertian “transisi” sangatlah kompleks. Dalam konteks politik, boleh jadi, hal itu dikaitkan dengan pergantian rejim dari Soeharto ke B.J. Habibie, dan berakhir dengan Pemilu yang di sepanjang sejarah Indonesia paling demokratis yaitu dengan terpilihnya K.H. Abdurrahman Wahid sebagai presiden RI ke-4. Continue reading “Perpuisian Yogyakarta di Era Transisi”

LUKA SEJARAH DALAM SAJAK-SAJAK PENYAIR RIAU?

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Kultur Melayu dengan luka sejarah masa lalu, dianggap sebagai kecelakaan dengan akibat dan kepahitannya menjadi beban generasi sekarang. Dalam wilayah keindonesiaan, problem sosial itu tidak jarang ditempatkan sebagai bagian dari kebijakan sentralitas hubungan Jakarta?Daerah yang secara faktual malah memarjinalkan puaknya. Dominasi Jakarta, dirasakan sebagai monster. Akibatnya, kehidupan masyarakat persekitaran yang penuh koyak-moyak luka itu jadi pemandangan yang menggelisahkan. Dari sanalah tuntutan untuk bersuara nyaring hadir tidak sekadar sebagai tanggung jawab sosialnya, tetapi juga sebagai sebuah perjuangan sosio-kultural. Continue reading “LUKA SEJARAH DALAM SAJAK-SAJAK PENYAIR RIAU?”

Kontroversi KLA 2008

Asep Sambodja
http://kompas.co.id/

Pada 20 September 2008, saya mendapat email (dari milis Apresiasi Sastra), yang berisi pengumuman hasil seleksi tahap pertama (Longlist) Khatulistiwa Literary Award 2008 dari Panitia KLA 2008. Ada 10 nomine di bidang prosa dan 10 nomine di bidang puisi.

Kesepuluh nomine di bidang prosa adalah Danarto (Kacapiring), Junaedi Setiyono (Glonggong), Dyah Merta (Peri Kecil di Sungai Nipah), Ayu Utami (Bilangan Fu), Mohamad Sobary (Sang Musafir), Mashuri (Hubbu), Lan Fang (Lelakon), E.S. Ito (Rahasia Meede), Helvy Tiana Rosa (Bukavu), dan Arswendo Atmowiloto (Blakanis). Continue reading “Kontroversi KLA 2008”