Tiga Tonggak Sajak Sunda

Lugiena D?*
http://www.pikiran-rakyat.com/

DALAM khazanah sastra Sunda, bisa dipastikan bahwa sajak adalah bentuk sastra paling kemudian yang diterima publik sastra Sunda secara umum. Selain itu, sajak juga merupakan satu-satunya bentuk sastra yang sempat menimbulkan pro-kontra. Tidak seperti halnya carita pondok (carpon/cerpen) atau roman yang mulus banglus diamini tanpa penolakan, proses masuknya bentuk sajak ke dalam ranah sastra Sunda sempat melalui polemik yang cukup panjang. Bahkan bisa dikatakan, polemik tentang “hak hidup” sajak tersebut menjadi salah satu polemik terbesar yang pernah muncul dalam media massa Sunda, selain polemik undak-usuk basa di tahun 1980-an. Continue reading “Tiga Tonggak Sajak Sunda”

Semangat Hibrid “Elle Eleanor”

Eriyanti
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

MENGUATNYA era teknologi informasi mendorong bertumbuhnya sastra di dunia maya. Berbagai situs dan blog pun bermunculan. Dari situs yang sangat ilmiah, populer, sampai ke situs yang sangat pribadi. Dari pembahasan ilmiah sastra, isu-isu, atau sekadar saling lempar tanggapan, semuanya menjadi “napas” baru gerak sastra di luar penerbitan buku, koran, ataupun stensilan. Continue reading “Semangat Hibrid “Elle Eleanor””

Siluman Dalam Sastra Sunda

Atep Kurnia *
pikiran-rakyat.com

DALAM cerita-cerita Ambri, gambaran siluman masih sebatas yang tampak dari realitas kehidupan orang-orang lembur. Dan pada cerita-cerita siluman Ki Umbara, walau sudah dikaitkan dengan agama Islam, gambaran siluman masih terasa samar, karena masih terkesan bertarik ulur dengan kepercayaan tradisional.

Siluman ternyata bukan saja milik orang Timur, seperti yang dituduhkan orang Barat. Dalam kesusastraan Inggris, misalnya, Shakespeare menyodorkan tokoh siluman gentayangan ayah Hamlet untuk memberi tahu siapa yang telah membunuhnya. Continue reading “Siluman Dalam Sastra Sunda”

Hidup tanpa Sastra?

Edi Warsidi*
http://www.pikiran-rakyat.com/

Dalam evolusinya, manusia mengalami “fajar” peradaban dan kerohanian tempat sastra ikut serta di dalamnya.

SEBUAH kantor penerbitan buku tempat saya bekerja memiliki tenaga penyunting yang lumayan beragam latar pendidikan. Di antara kepenatan bekerja, kerap muncul obrolan yang santai, tetapi kadang-kadang berujung serius. Kawan saya (yang bukan editor berlatar pendidikan bahasa dan sastra) pernah melemparkan pertanyaan, dapatkah kita hidup tanpa sastra? Continue reading “Hidup tanpa Sastra?”

Media Harus Ikut Mencerdaskan Bangsa melalui Bahasa

Prita Daneswari
http://www.mediaindonesia.com/

Di Indonesia, media massa kini mempunyai pengaruh besar bagi pemikiran dan kebahasaan masyarakatnya.

Untuk itu, melalui bahasa, media massa harus ikut serta dalam mencerdaskan bangsa ini. Hal itu dikemukakan para pemerhati bahasa Indonesia dalam sebuah diskusi bahasa bertajuk Kajian Media Massa: Mencari Kata Baku. Acara ini diselenggarakan Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) dan Forum Bahasa Media Massa, bertempat di Gedung Dewan Pers di Jl Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (16/12). Continue reading “Media Harus Ikut Mencerdaskan Bangsa melalui Bahasa”

Bahasa ยป