Ben Okri Dan Penyair Tulen

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=340

Penyair dipertentangkan dengan dunia, karena ia tak dapat menerima segala yang tampak sebagaimana apa adanya (Ben Okri).

Penyair hadir dari kegelisahan menggila atas beban lingkungannya; ladang di mana dirinya menemukan benturan hebat, di hadapannya rumusan hidup tiada yang becus, wewarna sengkarut. Namun tatkala melihat langit biru peroleh rongga pernafasannya lega, awan beterbangan sewujud pergerakan sosial, peradaban bertumpuk-tumpuk. Dan saat angin menghampiri didapati abad silam-semilam memberi kabar, lantas turun balik peroleh kekacauan yang sedikit jinak. Continue reading “Ben Okri Dan Penyair Tulen”

Kota, Sejarah, Nostalgia

Sunlie Thomas Alexander *
jawapos.com

SETIAP kota tentu punya riwayat. Yang getir, penuh haru biru, heroik, maupun samar seperti kabar angin sesayup sampai. Ketika melihat foto lama sebuah kota, misalnya, tentu beragam ”perasaan” bisa hadir. Sebagian kita yang memiliki ikatan emosional dengan kota tersebut bakal terbuai nostalgia: kenangan manis, pun ingatan sedih. Namun, bagi yang tak punya tautan batin, selembar potret masa silam mungkin saja tetap menggelitik. Continue reading “Kota, Sejarah, Nostalgia”

Biografi, Dramaturgi dan Tafsir Filmis

Tonny Trimarsanto
http://www.sinarharapan.co.id/

Film Gie, karya Riri Riza menjadi satu film yang mampu memberikan warna baru, dalam dunia hiburan saat ini. Film yang mengangkat sepenggal kehidupan tokoh gerakan mahasiswa tahun 1966 tersebut menandai babakan baru dunia perfilman di tanah air. Jelas, kemunculan Gie memberikan tawaran baru bagi banyak sineas untuk bisa mengangkat sederet tokoh yang mempunyai kontribusi dalam panggung sejarah, di tanah air. Continue reading “Biografi, Dramaturgi dan Tafsir Filmis”

Inklusivitas Ideologis bagi Sastra Modern

Nuriel Imamah
http://www.sinarharapan.co.id/

Di tahun 1975, penyair yang terkenal dengan julukan si Burung Merak, WS. Rendra, yang pada waktu itu masih tinggal di Yogya datang ke Jakarta. Kedatangannya ke Jakarta bertujuan untuk menyampaikan pidato dalam rangka menerima penghargaan seni yang diberikan oleh Dewan Kesenian Jakarta untuknya.

Dalam pidatonya, Rendra mengatakan, bahwa eksistensi seorang seniman adalah layaknya seorang empu. Ia memilih ?angin? sebagai tempat tinggalnya dan membiarkan para raja memilih istana sebagai tempat tinggal mereka. Continue reading “Inklusivitas Ideologis bagi Sastra Modern”

Bahasa ยป