Saga Para Pahlawan

Zen Rachmat Sugito *
jawapos.co.id

PARA pahlawan tak pernah dilahirkan tapi diciptakan. Mereka diciptakan mula-mula dan pertama bukan untuk dijadikan role-model agar diteladani atau ditiru, melainkan untuk meneguhkan narasi ”perjuangan nasional merebut kemerdekaan”. Pendeknya: untuk kepentingan mereproduksi narasi nasionalisme secara kontinyu. Dengan itu, narasi perjuangan nasional yang terjadi pada masa lampau yang jauh bisa terus-menerus ”dihadirkan” dalam kekinian. Selanjutnya, barulah para pahlawan yang ”diciptakan” untuk kepentingan naratif itu diharapkan jadi ”role-model” yang bisa diteladani dan ditiru.

Tapi, peneladanan dan peniruan itu bukan area yang leluasa untuk diisi secara mana-suka (arbitrer). Apa yang bisa diteladani dan ditiru hanya aspek-aspek yang berkaitan dengan kepentingan melanggengkan narasi nasionalisme itu tadi; sejenis imajinasi reproduktif (imaginative reproduction, dalam istilah Paul Ricoer) yang minimalis sifatnya karena hanya mengulang-ulang bayangan masa silam.

Tak penting bagaimana latar belakang seorang pahlawan nasional mengangkat senjata terhadap para penjajah. Menjadi tak penting bagaimana perlawanan Diponegoro –salah satunya– dipicu oleh sesuatu yang sebetulnya privat: karena Belanda mencabut patok yang menandai tanah milik leluhurnya. Yang pokok dan ditonjolkan adalah fakta bahwa Diponegoro angkat senjata melawan Belanda!

Dari sudut itu, jika ada petani pada era Orde Baru melakukan perlawanan terhadap militer yang mengambil-alih tanahnya secara semena-mena dengan alasan terinspirasi sikap Diponegoro di masa lalu, sikap itu pastilah tak bisa diterima. Alasan itu sesuatu yang subversif. Dalam sekali hentak petani itu sudah menempatkan dirinya sebagai reproduksi atas Diponegoro, seraya pada saat yang sama menjadikan negara sebagai reproduksi dari sosok pemerintahan kolonial Hindia-Belanda.

Kepahlawan, dengan demikian, sebenarnya adalah sebuah bab dari buku babon nasionalisme yang disusun melalui proses pemilahan, penyuntingan, dan penambahan pelbagai elemen yang dianggap penting untuk membuat narasi kepahlawanan itu menjadi meyakinkan, memiliki daya pukau yang mencengkau, jika perlu diselubungi cahaya kekeramatan.

Proses pemilahan dan penyuntingannya penuh dengan prosedur birokratis, dimulai dari usulan masyarakat, diperiksa dan diteliti Badan Pembina Pahlawan Daerah (BPPD), lantas gubernur (pemerintah daerah) melanjutkan ke Badan Pembina Pahlawan Nasional yang ada di Departemen Sosial (Depsos), dan terakhir diserahkan kepada presiden yang mempunyai wewenang untuk mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres).

Surat edaran Dirjen Pemberdayaan Sosial Departemen Sosial (Depsos) No. 281/PS/X/2006 memuat beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk bisa ditahbiskan sebagai pahlawan nasional. Di antaranya: perjuangannya konsisten, mempunyai semangat nasionalisme dan cinta tanah air yang tinggi, berskala nasional serta sepanjang hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan sang tokoh sudah meninggal. Sepanjang proses itulah para kandidat pahlawan nasional diperiksa, diteliti, diselidiki: pendeknya dipilih, dipilah, diselidiki ”secara klinis” untuk memastikan tidak ada virus, bakteri, cela, dan dosa yang terlalu signifikan untuk diabaikan.

Tapi itu saja tak cukup. Begitu seseorang ditetapkan sebagai pahlawan, dilakukanlah penambahan elemen-elemen yang dianggap bisa memperkokoh kekuatan naratifnya. Penambahan elemen itu bisa berupa pemilahan dan penyempurnaan foto atau lukisan si tokoh, mereproduksi serta menyebarkannya melalui banyak medium (terutama buku pelajaran atau biografi ringkas yang disebarkan ke sekolah), hingga ritus-ritus yang diulang pada momen penting dalam kehidupan si tokoh yang relevan untuk ditonjol-unggulkan.

Itu sebabnya, pengangkatan Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional di era Soekarno melibatkan Augustin Sibarani yang ditugaskan untuk membuat potret Sisingamangaraja XII yang saat itu memang belum ada potret atau gambarnya. Semua itu penting karena tak ada pahlawan yang tak ada gambarnya. Potret wajah pahlawan diperlukan untuk membuat narasi kepahlawanannya menjadi lebih nyata, lebih terasakan, sehingga kekuatan auratiknya bisa disingkap dan diwedarkan sedemikian rupa.

Jika kita cermati gambar wajah para pahlawan nasional, terutama para pahlawan dari era sebelum dikenalnya fotografi, ada ciri yang nyaris menonjol: paras mereka rata-rata tampak meyakinkan, seakan tak mengandung keraguan dan kebimbangan, kadang meluap suasana kebesaran, gabungan antara kewaskitaan dan keningratan, menyembul semacam pamor, kombinasi antara tingginya ”rasa” dan luhurnya silsilah.

Dengan potret dan gambar itulah para pahlawan ”tampak” hadir dalam kekinian. Kata ”tampak” perlu diberi penekanan karena para pahlawan itu memang tak benar-benar hadir, tapi ”dihadirkan”. Itu pun tidak dalam satu intensi yang menyatu dengan kekinian, melainkan berjarak, sekaligus tak tersentuh, dan terkadang wingit alias keramat. Itu sebabnya salah satu kriteria yang harus dipenuhi bagi para kandidat pahlawan adalah ia harus sudah meninggal dunia. Kematian membuat sosok seorang pahlawan menjadi ”tertutup” sekaligus ”terbuka”.

Kematian membuatnya ”tertutup” karena dengan itu kisah hidupnya telah rampung dan sepak terjangnya sudah berakhir. ”Ketertutupan” itu kemudian membuatnya terbuka untuk disunting, dikurangi, diisi, atau ditambahi elemen-elemen baru. Versi resmi penyuntingan dan penambahan itulah yang terbaca dari buku-buku putih, buku pelajaran sejarah dan buklet-buklet yang disebarkan ke perpustakaan sekolah dan museum.

Gambar atau potret wajah, ritus peringatan, buku pelajaran, buklet, dan biografi-biografi resmi yang dikeluarkan negara membuat kepahlawanan seseorang menjadi bergerak, bergulir, dan menebarkan pengaruhnya; semacam ”ground” –dalam kosa kata Charles Sanders Peirce– yang membuat suatu tanda bisa berfungsi dengan pengaruh yang kuat juga kokoh.

Menjadi pahlawan nasional berarti dinaikkan derajatnya, tapi pada saat yang sama sang pahlawan dibingkai sedemikian rupa dengan elemen-elemen yang belum tentu mereka setujui dan inginkan seandainya mereka bisa ditanyai kembali. Bisa dipahami jika di Amerika Latin ada satir begini: ”Satu-satunya yang diinginkan para pahlawan yang dipuja adalah mereka tak ingin menjadi pahlawan.”

Mungkin hanya dengan cara berpikir macam inilah kita bisa mengerti kenapa Bung Hatta, saat menghadiri pemakaman Soetan Sjahrir di Taman Makan Pahlawan Kalibata, sempat berbisik pada seseorang: ”Tak akan saya biarkah orang-orang memperlakukan ini pada saya (dimakamkan di taman makam pahlawan).”

Ya, taman makam pahlawan, yang sebagiannya diisi oleh makam para pahlawan tak dikenal, punya jalinan semiotis yang sedikit berbeda. Pada taman makam pahlawan dan kubur-kubur tanpa nama itu, menguar satu aura kepahlawanan yang berbeda kekhasannya.

Kita tak tahu siapa mereka, tak penting pula di sana benar-benar ada jenazah yang terbukur atau tidak. Kita tak peduli ”bilamana dia datang” atau ”untuk siapa dia datang”, meminjam frase Toto Sudarto Bachtiar dalam sajak terkenalnya, Pahlawan Tak Dikenal. Nisan-nisan tanpa nama itu sendiri sudah lebih dari cukup untuk dilekati pelbagai makna secara lebih mana-suka (arbitrer).

“Tak ada lencana yang lebih menawan dalam kebudayaan nasional modern daripada monumen- makam para tentara tak dikenal. …Makam-makam tersebut telah dipenuhi dengan khayalan nasional yang menghantui,” tulis Ben Anderson dalam salah satu halaman Imagined Communities.

Khayalan nasional yang menghantui itu bisa bermacam-macam, efeknya juga bisa mengingatkan tapi bisa pula membikin lupa. Pahlawan berikut tugu dan monumennya mula-mula mengingatkan kita pada peran dan jasa orang-orang yang dikuburkan di sana bagi tanah air, juga bagi kita di hari ini. Tapi pada saat yang sama bisa juga membuat kita terpukau dengan kemegahan, keindahan, dan kerapihannya –pendeknya: melalui estetika masa silam.

Keterpukauan atas estetika masa silam itu bisa membuat kita kehilangan daya untuk mengingat dan mengartikulasikan pelbagai hal yang tertanam di bawah fondasinya: kekerasan yang tergelar di baliknya, darah para korban tak bersalah yang tertumpah, dusta-dusta sejarahnya, juga semiotika kekuasaan yang terjalin dengan rapi dan halus.
***

*) Pemerhati sejarah, tinggal di Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *