MEMBACA JARAN GOYANG, HATI PUN BERGOYANG;

Catatan Kecil Sajak Samsudin Adlawi

Imamuddin SA

Waktu itu, kira-kira sehabis Isya?, saya menguhubungi kawan saya. Saya bermaksud mau ngobrol-ngobrol denganya. Seketika itu saya lansung mengambil motor dan memacunya ke rumah kawanku tadi. Bukan sekedar kawan, tapi lebih dari itu. Entah apalah, yang jelas dia istimewa bagi saya. Namanya Nurel Javissyarqi.

Sesampainya di rumahnya, saya langsung bertemu dengannya. Seperti biasa, saya menemukannya sedang khusyuk dengan leptopnya. Membuat esai dan berkutat dengan facebook. Continue reading “MEMBACA JARAN GOYANG, HATI PUN BERGOYANG;”

Angkatan Baru Penyair Surabaya

Umar Fauzi *
surabayapost.co.id

Estetika gelap itu mungkin akan atau sudah berlalu, dirasakan atau tidak, beberapa penyairnya mulai sedikit “jenuh” dan membelot meski tidak secara terang-terangan dan malu-malu pada pola pengungkapan baru, tengoklah misalnya puisi Mashuri, setelah Pengantin Lumpur “setidaknya yang terbit di media-media nasional dan lokal beberapa tahun belakang” seperti dua puisinya yang termuat antologi Pena Kencana 2008, misalnya. Continue reading “Angkatan Baru Penyair Surabaya”

Mantra Banjar: Bukti Orang Banjar Mahir Bersastra Sejak Dahulu

Mahmud Jauhari Ali

“Pur sinupur/ Bapupur di piring karang/ Bismillah aku bapupur/ Manyambut cahaya si bulan tarang/ Pur sinupur/ Kaladi tampuyangan/ Bismillah aku bapupur/ Banyak urang karindangan?.” Demikianlah penggalan salah satu mantra Banjar yang sudah ada sejak zaman dahulu. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa orang Banjar sejak dahulu hingga sekarang menggunakan mantra Banjar untuk berbagai keperluan, seperti untuk mempermudah melahirkan, menjadikan tubuh kebal terhadap senjata tajam, dan untuk membuat anak berhenti menangis. Continue reading “Mantra Banjar: Bukti Orang Banjar Mahir Bersastra Sejak Dahulu”

Horison Sastra Indonesia

Joni Ariadinata *
infoanda.com/KoranTempo

Kalau Beni R. Budiman (Koran Tempo, 16/2) mengawali tulisannya dengan kalimat pembuka yang berisi pernyataan (pengakuan?) sebuah “kebingungan”, maka itu pantas baginya. Sebuah antologi besar semacam Horison Sastra Indonesia (HSI), memang tidak bisa disikapi secara serampangan, apalagi dengan nawaitu kecurigaan yang besar. Kapasitas Beni R. Budiman bisa diukur lewat tulisannya di harian ini, juga di Media Indonesia (10/2) yang kurang lebih sama. Continue reading “Horison Sastra Indonesia”

Bahasa ยป