MENJENGUK HAZRAT BERTEMU RUMI, SHADRA DAN AL HALLAJ

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=78

?Tuhan kaum mistis adalah realitas?(Hazrat Inayat Khan)
Hidup memang pilihan, kata ayat yang tersirat dalam realitas kehidupan. Namun siapa yang sesungguhnya memilih, siapa pula penentu pilihan tersebut hingga langgeng?

Kehalusan akal kelembutan perasaan merupakan aura senantiasa berubah, sejenis timbangan takdir tak pernah berhenti menghitung gerak cahaya. Karnanya lelingkup kehidupan insan itu misteri yang naik ke puncak maya, menuju pijakan rasa terdalam menyodok niatan. Inilah kehendak berjuta penerimaan-penolakan, halus juga kasar. Continue reading “MENJENGUK HAZRAT BERTEMU RUMI, SHADRA DAN AL HALLAJ”

Menyoal Sastra Pesantren*

Fahrudin Nasrulloh **

Dalam sastra Jawa kepesantrenan, bahasa dan sastra Jawa dijadikan wadah untuk memperkenalkan ajaran Islam. Sedangkan dalam sastra Islam-Kejawen anasir sufisme dan ajaran pekertinya diserap oleh pujangga Jawa untuk mengislamkan warisan sastra Jawa zaman Hindu. Memang, sastra Jawa pesantren tidak sesubur sastra Islam-Kejawen. Lantaran yang berkembang di Jawa adalah paham sufisme ortodoks Al-Ghazali, sehingga daya telisiknya terbatas hanya pada ilmu-ilmu yang telah ada. Ini jelas berbeda dengan sastra sufistik Melayu di Aceh silam yang menganut paham wujudiyah falsafi. Continue reading “Menyoal Sastra Pesantren*”

Ahmad Wahib dan Supremasi Keaksaraan

Mohammad Afifuddin*
http://www.jawapos.com/

Dalam sebuah diskusi ringan di warung kopi, seorang kawan asal Madura membeberkan fakta bahwa di tanah kelahirannya, ternyata, masih banyak masyarakat yang buta huruf. Berdasar data yang dia tunjukkan, di antara 3 juta masyarakat se-Jawa Timur yang masih buta huruf, persebaran terbesarnya berada di empat kabupaten di Madura. Continue reading “Ahmad Wahib dan Supremasi Keaksaraan”

Diplomasi Sastra Indonesia ke Level Internasional

Satmoko Budi Santoso
Bernas

DALAM rentang waktu mulai tahun 2000-an, kesusastraan Indonesia yang diharapkan mampu “tinggal landas” berkaitan dengan momentum pasar bebas, rasanya kurang begitu menunjukkan hasil. Dalam konteks ini adalah kesusastraan Indonesia yang mampu unjuk sampai ke level internasional. Oleh karena itu, eksistensi sastra Indonesia memang masih harus belajar keras agar mampu menembus ke level diplomasi sastra tingkat internasional. Continue reading “Diplomasi Sastra Indonesia ke Level Internasional”

Bahasa ยป