Buku Sastra: dari Depan ke Rak Belakang

Raudal Tanjung Banua
lampungpost.com

Di manakah posisi buku sastra ketika publik dan toko buku lebih bergairah menerima buku-buku “praktis” dan “instan”? Mengapa buku sastra “serius” kurang direspons publik dan distributor? Mengapa keberadaannya tersisih di rak tersembunyi toko buku, bahkan di laci-laci terkunci dan gudang belakang perpustakaan?—lead—

MUNGKIN tidak ada yang menolak jika dikatakan bahwa dunia perbukuan sekarang sedang marak. Setiap penerbit berlomba meluncurkan produk, lengkap dengan event serta fenomena yang menyertainya. Continue reading “Buku Sastra: dari Depan ke Rak Belakang”

Kanon Sastra: Siapa Takut?

Ayu Utami*
http://www.prakarsa-rakyat.org/
(29 Oct 2007 Kompas)

Mengapa takut, wahai, pada kanon sastra? Toh kita belum pernah punya. Dan sesungguhnya kita perlu punya, ya, sebuah kanon yang cocok untuk kepentingan kita. Dan kepentingan itu adalah proyek kebangsaan Indonesia, yang belakangan ini terbengkalai.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah tonggak awal kebangsaan kita. Sayangnya, pemerintahan Soeharto menjalankan proyek ini dengan cara yang menghilangkan keharuannya. Continue reading “Kanon Sastra: Siapa Takut?”

Sastra Berbahasa Daerah Punah?

Andi Sutisno*
http://cetak.kompas.com/

Dalam kehidupan manusia, diakui atau tidak, sastra merupakan bagian yang tak terpisahkan. Bahkan, sastra kadang dianggap sebagai alat bagi manusia untuk mengenali diri beserta kompleksititas hidup yang dialaminya.

Dalam konteks tersebut, Boulton (dalam Aminuddin, 1995: 37) mengemukakan bahwa cipta sastra, selain menyajikan nilai-nilai keindahan dan paparan peristiwa yang mampu memberikan kepuasan batin pembacanya, juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan/kontemplasi batin, baik berkaitan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik, maupun berbagai problem yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini. Continue reading “Sastra Berbahasa Daerah Punah?”

Sastra, Kebangsaan, Konferensi

Ahda Imran
http://pr.qiandra.net.id/

HUBUNGAN antara sastra dan proses terbentuknya kesadaran suatu bangsa adalah hubungan yang niscaya. Sejarah kesusastraan, di mana pun, senantiasa memiliki korelasi dengan proses berlangsungnya karakteristik suatu bangsa, bagaimana kesadaaran itu tumbuh dan berproses dalam berbagai perdebatan, bahkan pertentangan. Dengan kata lain, berbagai perdebatan dalam kesusastraan dan kebudayaan umumnya senantiasa berbanding lurus dengan perdebatan soal pembangunan kesadaran karakter bangsa dan kebangsaan. Terlebih lagi, nasionalisme senantiasa menghendaki bentuk-bentuk pengertian yang bergerak demi menjawab waktu dan ruangnya yang menjadi konteksnya. Continue reading “Sastra, Kebangsaan, Konferensi”

Memihak, Ciri Sastra Banyumas

Budiono Herusatoto*
http://www.kr.co.id/

SETELAH lama menanti perbincangan yang intens terhadap pemikiran tentang penciptaan karya sastra Banyumas, kini muncul dengan serius diawali oleh Sigit Emwe: Langkah Sastra Banyumas disusul oleh Rusmiyati: Sastra Banyumas dalam Kekosongan Budaya (KR Minggu, 14/6/2009), disambung oleh Yosi M Giri: Misi Kesusasteraan di Banyumas (KR, Minggu 21/6/2009), saya sebagai pengamat kebudayaan Banyumas ikut nimbrung untuk lebih melengkapi rerasanan sastra Banyumas itu. Continue reading “Memihak, Ciri Sastra Banyumas”

Bahasa ยป