Krisis Kepenyairan Kita

Ribut Wijoto

Dalam rentang sepuluh tahun terakhir, telah terjadi krisis kepenyairan di tanah air kita. Banyak sekali bentuk-bentuk puisi yang sebelumnya pernah berkembang, kini, mengalami kemacetan. Padahal bila dikembangkan, bentuk-bentuk puisi itu akan menemukan kemantangannya yang baru.

Pertama, bentuk puisi balada seperti yang dikembangkan WS Rendra. Kedua, bentuk puisi mantra seperti yang dikembangkan Sutardji Calzoum Bachri. Ketiga, bentuk puisi lugas tetapi mengandung filosofi mendalam seperti yang dikembangkan Subagio Sastrowardoyo. Keempat, bentuk puisi kosmopolitan seperti yang dikembangkan Afrizal Malna. Continue reading “Krisis Kepenyairan Kita”

Menyemai Budaya Literasi

Maya Susiani*
http://www.jawapos.com/

Sejak 45 tahun lalu, 8 September 1964, UNESCO menetapkan 8 September sebagai Hari Literasi Internasional (International Literacy Day). Penetapan tersebut dilakukan untuk mengingatkan dunia tentang pentingnya budaya literasi (baca-tulis). Namun, tak banyak masyarakat yang tahu peringatan itu, sebagaimana banyak yang tak mengerti bahwa bulan Mei telah ditetapkan sebagai Bulan Buku Nasional oleh Presiden Soeharto pada 1995 dan 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional.

Jarang ada yang menyambut momen-momen tersebut. Peringatan itu tenggelam, kalah pamor oleh, misalnya, jadwal sidang perceraian pasangan selebriti. Continue reading “Menyemai Budaya Literasi”

Narasi ‘Penyair Gila’ Arsyad Indradi*

Sudaryono**
http://www.infoanda.com/

Kegilaan kreatif, kreativitas adalah kegilaan. Dengan kreativitas, kegilaan penciptaan dimungkinkan. Dengan kegilaan pula dapat dikecap capaian-capaian artistik sebuah sajak. Penyair memang terkadang seperti orang ‘gila’. Artinya, di tengah-tengah masyarakatnya penyair acap tampil anomaly, menyendiri, mengasingkan diri dari interaksi massif, dan secara personal menampilkan sosok yang sering nyleneh, aneh, dan sulit diphami. Continue reading “Narasi ‘Penyair Gila’ Arsyad Indradi*”

Sastra Perang Bagian dari Sejarah

Tito Sianipar
tempointeraktif.com

Sejarawan Asvi Marwan Adam mengatakan karya-karya sastra yang mengangkat latar perang dapat digolongkan menjadi bagian dari sejarah. Menurut Asvi, terdapat kesamaan unsur-unsur sejarah dengan karya sastra.

Asvi menolak anggapan ahli sejarah Kuntowidjojo bahwa sejarah berbeda dengan karya sastra. Dimana menurut Kuntowidjojo sejarah berbeda dalam hal cara kerja, kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulannya. “Pembedaan oleh Kuntowidjodo itu masih bisa diperdebatkan,” ujarnya dalam diskusi Sastra dan Perang di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (5/12) lalu. Continue reading “Sastra Perang Bagian dari Sejarah”

Bahasa ยป