Membaca Sajak-sajak Halimi Zuhdy

Nurel Javissyarqi *

Bahagialah, insan yang memiliki keyakinan adanya Tuhan. Setidaknya manusia tersebut mempunyai kelebihan, dari pada kehadirannya tanpa kejelasan serupa hukum evolusi yang dangkal.

Iman laksana nyanyian halus, mengantarkan jiwa-jiwa ke dalam keindahan pemahaman. Warna natural yang di dalamnya tiada pengingkaran. Dan selemah-lemahnya penerimaan berdaya rindu kesungguhan. Continue reading “Membaca Sajak-sajak Halimi Zuhdy”

CERPEN DENGAN AROMA EKSOTISME

Maman S. Mahayana *

Perjalanan cerpen Indonesia mutakhir, terutama selepas pemberlakuan otonomi daerah, tampak makin menunjukkan peta kultur keindonesiaan yang lebih beragam. Keberagaman itu seperti mencelat begitu saja ketika persoalan etnisitas diangkat dan menjadi tema cerita. Kehidupan perkotaan dengan kecenderungan tokoh-tokohnya yang teralienasi atau tak punya identitas kultural yang kerap ditawarkan para penulis yang lahir dan besar di tengah masyarakat perkotaan—metropolis, tidak lagi mendominasi tema cerpen yang bertebaran di berbagai majalah dan suratkabar Minggu. Continue reading “CERPEN DENGAN AROMA EKSOTISME”

Menjadi Penyair dari Catatan Harian

Dahta Gautama*
http://www.lampungpost.com/

KARENA keintensitasan menulis puisi, kemudian memublikasikan puisi-puisinya di sejumlah media massa atau kemudian membukukan puisi-puisinya, seseorang yang sebelumnya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa tiba-tiba dipredikati sebagai penyair.

Apakah semudah itu untuk menjadi penyair? Tentu tidak. Menjadi penyair, mengambil istilah sastrawan Isbedy Stiawan Z.S., melalui proses panjang yang berdarah-darah. Continue reading “Menjadi Penyair dari Catatan Harian”

Menegasi Indentitas Sastra Indonesia

Damhuri Muhammad *
Republika

Corak historiografi kesusastraan Indonesia modern yang masih berpijak dan bertolak dari ‘asal muasal’ dan pendekatan teleologis, memang sudah amat melelahkan dan terlalu banyak menguras tenaga dan pikiran. Sebagian pemerhati sastra mulai pesimis, kehilangan gairah, bahkan apriori.

Nirwanto Dewanto, dalam esainya (Kompas, 4/3/2000) mempertanyakan, masih perlukah sejarah sastra? Ini mencerminkan ketidakpercayaannya pada konstruk sejarah yang ditegak-berdirikan tanpa ‘kesadaran sejarah’ itu sendiri. Sejarah sastra yang ‘penuh lupa’ atau sengaja lupa berkepanjangan. Continue reading “Menegasi Indentitas Sastra Indonesia”

Bahasa »