Sastra Perang Bagian dari Sejarah

Tito Sianipar
http://www.tempointeraktif.com/

Sejarawan Asvi Marwan Adam mengatakan karya-karya sastra yang mengangkat latar perang dapat digolongkan menjadi bagian dari sejarah. Menurut Asvi, terdapat kesamaan unsur-unsur sejarah dengan karya sastra.

Asvi menolak anggapan ahli sejarah Kuntowidjojo bahwa sejarah berbeda dengan karya sastra. Dimana menurut Kuntowidjojo sejarah berbeda dalam hal cara kerja, kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulannya. “Pembedaan oleh Kuntowidjodo itu masih bisa diperdebatkan,” ujarnya dalam diskusi Sastra dan Perang di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (5/12) lalu.

Menurut Asvi, sama seperti sastra, sejarah juga membutuhkan imajinasi. Kebenaran dalam sejarah merupakan sesuatu yang bersifat relatif. “Dan sejarah dapat juga memunculkan pertanyaan yang tidak harus berupa jawaban,” ujar peneliti LIPI ini.

Dengan pendekatan dekonstruktif yang dilakukan oleh kelompok post modernis, sastra menjadi semakin dekat dengan sejarah. “Sejarah seperti halnya sastra disampaikan oleh sejarahwan melalui narasi dan membutuhkan plot,” ujar Asvi. “Kalau dikatakan soal keakuratan, sejarah juga bisa tidak akurat.”

Beberapa karya sastra perang yang dibuat orang Indonesia dipuji Asvi karena mampu membuka wacana baru dalam sejarah dan menawarkan sisi lain dari sebuah perang atau konflik. Antara lain Maut dan Cinta (karya Mochtar Lubis), Tuyet (Bur Rusanto), Perang dan Kembang (Asahan Alham Aidit), Gajahmada (Langit Kresna Hariadi), Novel Pangeran Diponegoro (Remy Silado), dan September (Noorca Massardi).

Sastrawan Arswendo Atmowiloto sependapat dengan Asvi dalam menggolongkan karya sastra sebagai sejarah. “Karya sastra adalah karya sejarah yang jujur,” ujarnya. Sebab, tambah Arswendo, dalam proses pembuatannya karya sastra tidak ditujukan menjadi karya sejarah. “Namun ia bisa didekati sebagai karya sejarah.”

Arsweno mengakui, minat menulis sastra perang atau sejarah akhir-akhir ini menurun. “Karena kofliknya tidak menggugah menjadi suatu tren,” ujarnya. Selain itu, pengarang-pengarang muda saat ini sudah tidak memiliki pengalaman tentang perang sehingga imajinasi untuk membuat kisah perang tidak ada.

Budayawan Daoed Joesoef mengatakan selalu ada sisi yang menarik untuk diangkat menjadi karya sastra dari peristiwa perang. “Pasti ada sisi humanis dari kekejaman perang. Dan itu hal yang menarik untuk ditulis,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *