PERINTIS SASTRA INDONESIA MODERN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sistem penerbitan yang awal dalam kesusastraan Indonesia modern memperlihatkan betapa pengaruh kekuasaan pemerintah Belanda begitu dominan dalam menentukan arah perjalanan kesusastraan bangsa ini. Jika dikatakan, sejarah selalu berpihak pada penguasa, maka itulah yang terjadi dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Riwayat perjalanannya penuh dengan pemanipulasian, perekayasaan, penenggelaman, dan penyesatan. Tetapi lantaran sejarah milik penguasa, bahkan penguasa itu juga sengaja menciptakan sejarahnya sendiri, maka yang kemudian bergulir adalah sebuah mainstream yang menyimpan kepentingan politik penguasa. Continue reading “PERINTIS SASTRA INDONESIA MODERN”

Seperti Magnet, Kedua Dunia Itu Tarik-menarik

TRUNYAN… (Taru – Menyan)

IBM. Dharma Palguna
balipost.com

DI DESA Trunyan, yang terletak tersembunyi di salah satu tepi danau Batur, belasan tahun silam saya melihat sebuah tengkorak manusia yang diletakkan di atas sebuah batu dekat undak-undakan pada jalan masuk ke kuburan khusus orang dewasa. Di tengkorak itu pengunjung meletakkan uang yang menurut lelaki pengantar disebut contribution. Saya masih ingat ketika itu, kesan seram yang ditampilkan oleh tengkorak dan beberapa mayat yang rebah di tanah dinetralisir oleh istilah contribution dan sejumlah uang yang tergeletak di tengkorak itu serta ocehan lelaki pengantar itu. Continue reading “Seperti Magnet, Kedua Dunia Itu Tarik-menarik”

Perayaan Pluralisme Cerpen Indonesia Kontemporer: Keberagaman Alternatif

Satmoko Budi Santoso
Kompas

CERPEN Indonesia telah meruntuhkan “sakralitasnya”, anjlok dari menara gading yang dibangunnya beberapa warsa silam: cerpen hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang berada di seputaran kerja kreatif kesusastraan itu sendiri.

Tentu, asumsi ini sangat bisa dibuktikan, karena dalam era kekinian, cerpen Indonesia telah merasionalisasi dirinya sendiri, masuk ke segala segmen, semua kelas sosial. Beragam tema dengan keberjamakan eksplorasi teknik penceritaan dan pencapaian bahasa-bahasa yang metaforis, telah diterima publik, tak hanya lingkungan kaum sastrais, namun juga pasar ABG dan komunitas selebriti. Continue reading “Perayaan Pluralisme Cerpen Indonesia Kontemporer: Keberagaman Alternatif”

Positioning Pasar Seni Lukis Indonesia

Djuli Djatiprambudi *
jawapos.com

Setiap karya seni punya pasar sendiri. Seperti yang terjadi di Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) di kompleks Balai Pemuda Surabaya, 1 – 11 Mei 2009. Ratusan pelukis dari berbagai kota menggelar karyanya di dalam 160 tempat yang disediakan panitia. Di hari kedua sudah disiarkan sekitar 200 karya terjual. Ratusan orang memadati arena pasar untuk menyaksikan ratusan lukisan dengan berbagai macam corak. Dari lukisan beraroma ”Mooi Indie” hingga yang disebut seni lukis ”kontemporer”. Ini artinya, setuju atau tidak, PSLI telah memperlihatkan konfigurasi infrastrukstur seni yang memiliki segmentasi pasar sendiri. Continue reading “Positioning Pasar Seni Lukis Indonesia”

MENJADI SASTRAWAN BUKAN KARENA BAKAT

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Menjelang berakhir abad ke-20 dan mengawali masuk milenium ketiga, peta kesusastraan Indonesia seolah-olah dikejutkan dengan bermunculannya sastrawan wanita. Sebut saja Ayu Utami, Dewi Lestari, Oka Rusmini, Dorothea Rosa Herliany, Helvy Tiana Rosa, Abidah El Khalieqy, Fira Basuki, dan sebelumnya Ratna Indraswari Ibrahim. Jauh sebelum itu, NH Dini menjulang sendiri dan disusul kemudian Titis Basino PI. Yang disebut terakhir inilah, seakan-akan hendak menggebrak sendiri lewat produktivitasnya yang luar biasa. Bayangkan, dalam kurun waktu dua tahun saja (1998?1999), Titis telah menghasilkan lebih dari 17 novel. Jadi di antara sastrawan wanita Indonesia, dapat dipastikan, jumlah novel yang dihasilkannya Titis berada di atas sastrawan wanita lainnya. Continue reading “MENJADI SASTRAWAN BUKAN KARENA BAKAT”

Bahasa ยป