Seperti Magnet, Kedua Dunia Itu Tarik-menarik

TRUNYAN… (Taru – Menyan)

IBM. Dharma Palguna
http://www.balipost.com/

DI DESA Trunyan, yang terletak tersembunyi di salah satu tepi danau Batur, belasan tahun silam saya melihat sebuah tengkorak manusia yang diletakkan di atas sebuah batu dekat undak-undakan pada jalan masuk ke kuburan khusus orang dewasa. Di tengkorak itu pengunjung meletakkan uang yang menurut lelaki pengantar disebut contribution. Saya masih ingat ketika itu, kesan seram yang ditampilkan oleh tengkorak dan beberapa mayat yang rebah di tanah dinetralisir oleh istilah contribution dan sejumlah uang yang tergeletak di tengkorak itu serta ocehan lelaki pengantar itu. Hanya saja saya tidak ingat apakah ketika itu saya bersyukur karena netralisasi dengan cara seperti itu akhirnya membuat perasaan saya biasa-biasa saja. Tidak seperti bayangan sebelumnya bahwa saya akan memasuki suasana yang jauh berbeda dengan suasana sehari-hari.

Sampai saat ketika tulisan ini saya ketik, saya tidak pernah lagi datang ke Trunyan. Saya tidak tahu bagaimana Trunyan saat ini. Namun saya yakin Trunyan telah banyak berkembang dan berubah. Barangkali tengkorak itu masih ada di sana. Barangkali tidak. Tapi kesan tentang tengkorak dan istilah contribution itu masih ada di sini, di dalam memori saya.

Selama belasan tahun saya tidak ke Trunyan, saya sempat datang ke berbagai tempat di dalam dan di luar Bali. Tanpa saya rencanakan hampir di berbagai tempat itu saya berkesempatan mengulang pengalaman di Trunyan itu. Misalnya, saya mengunjungi tempat penyimpanan mumi, pengawetan mayat, bertemu rombongan orang yang mengemis dengan menggunakan tengkorak sebagai mangkok, kawasan kuburan yang tempat menaruh mayat-mayat dibuat seperti rumah susun dengan puluhan ribu kamar-kamar kecil seukuran tubuh manusia, dan sebagainya, dan seterusnya. Sudah tentu pengulangan pengalaman itu terjadi dengan cara berbeda karena situasi dan kondisi. Sudah tentu pula saya mencerna pengulangan pengalaman itu dengan pandangan dan pemahaman yang tidak sama. Karena seperti halnya Desa Trunyan, saya pun berkembang dan banyak berubah. Tapi saya sebut itu pengulangan karena ada satu prinsip yang sama pada semua pengalaman itu. Prinsip yang sama itu adalah: tarik menarik antara persepsi seram yang ada dalam pikiran dengan kenyataan biasa-biasa saja. Tarik menarik antara dua kekuatan itu ternyata dimenangkan oleh kenyataan yang biasa-biasa saja itu.

Saya sadar pengalaman dan pemahaman atas pengalaman itu sifatnya sangat pribadi. Saya maklum bahwa pemahaman atas pengalaman ini tidak mewakili apa pun kecuali mewakili diri saya sebagai orang yang mengalami dan terus berusaha memahami. Jadi sama sekali tak bisa dikatakan bahwa tarik-menarik antara dua kekuatan tersebut, di tempat berbeda dan melibatkan orang lain, akan dimenangkan oleh ‘kenyataan yang biasi-biasa saja’ itu. Walaupun saya juga pernah mendengar perkataan orang banyak dan orang kebanyakan bahwa belakangan ini sudah banyak sekali hal-hal yang sebelumnya dipandang sakral sekarang menjadi ‘biasa-biasa saja’. Tapi terus terang saja saya belum tahu apakah publik mensyukuri perubahan ini atau hatinya jujur merasa kehilangan, atau juga merasa biasa-biasa saja.

Saat ini ketika saya ngetik, pagi-pagi, saya tidak sedang berada di Trunyan. Tapi saya merasa Trunyan ada di dalam pikiran saya. Baik dalam pikiran maupun dalam perasaan, saya merasa biasa-biasa saja. Dan saya tidak hendak mencari sebab musabab mengapa saya merasa biasa-biasa saja. Karena saya sudah tahu, bahkan sejak dulu saya sadar, bahwa saya adalah manusia sehari-hari yang biasa-biasa saja. Hal yang tidak bersifat sehari-hari, yang tidak biasa-biasa saya konsumsi dari sastra.

Misalnya, yang relevan dengan topik ini, satu fragmen dalam kisah Sutasoma. Ketika Sutasoma menunggalkan apa yang disebut Tri Jnana Shunya keringatnya menetes dari dahi dan jatuh ke tanah. Bumi pun berguncang. Dari dalam bumi muncullah Dewi Widyutkarali (= shaktinya bumi) yang berpenampilan seram seperti Bhairawi yang tinggi, besar, perut buncit, taring tajam, mata merah mencorong dan di tangannya memegang sebuah tengkorak manusia berwarna putih. Dan seterusnya.

Cuplikan kisah di atas bukanlah peristiwa sehari-hari, karena itu adalah sastra. Tapi yang namanya sastra tidak berhenti sampai di sana saja. Mengkonsumsi sastra adalah sebuah pengalaman. Ketika kita berjuang untuk memahami pengalaman ‘membaca’ itu, kita tanpa sadar sedang menciptakan satu ‘dunia’ yang berbeda dengan dunia sehari-hari. Dunia baru itu lama kelamaan ada dalam kesadaran, bahkan bawah sadar kita. Dunia baru itulah yang sering tanpa sadar kita proyeksikan ke dalam dunia sehari-hari. Seperti magnet, kedua dunia itu tarik-menarik. Dunia yang mana menang tergantung pengalaman dan pemahaman pribadi. Di Trunyan saya pernah gagal menyambung keduanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *