Gairah Komodifikasi Sastra dan Operasi Intertekstualitas

Satmoko Budi Santoso
Media Indonesia

KESUSASTRAAN mengandung risiko menjadi trendsetter, populis, sebagaimana barang, bernilai komodifikasi. Asumsi semacam ini bisa diidentifikasi dengan maraknya estetika atau lirisisme bahasa yang dirasionalisasikan komunitas sastra tertentu sehingga memuat anasir keseragaman. Dalam konteks inilah, kekhawatiran perihal kesamaan identitas estetika karya sastra kembali muncul, karena seandainya nama pengarang ditutup, maka cita rasa estetika karya sastra yang dihasilkan nyaris sama. Continue reading “Gairah Komodifikasi Sastra dan Operasi Intertekstualitas”

Intimasi Puisi Penyair Metro

Binhad Nurrohmat*
http://www.lampungpost.com/

Metro merupakan kota dengan kompleksitas kultural. Kota ini dibangun 1930-an dalam rangka Politik Etis Pemerintah Kolonial Belanda di Hindia-Belanda.

Masyarakat dari beragam suku besar di Pulau Jawa dan Pulau Bali dengan bekal cangkul, bajak, sapi, kerbau, palu, dan paku diseberangkan kapal Kolonial Belanda ke wilayah ini untuk membangun kota multikultur. Pendatang membawa tradisi agama, bahasa, niaga, bersawah, dan berladang. Pribumi tetap berkebun lada, cengkih, dan merica. Continue reading “Intimasi Puisi Penyair Metro”

Teks, Pembaca, Interpretasi

Bandung Mawardi*
http://www.lampungpost.com/

Pemikiran Roland Barthes dalam The Death of the Author (1968) mengandung implikasi bahwa pembaca menemukan otoritas besar memainkan interpretasi dalam membaca atau mencari-merumuskan otonomi pembaca tanpa beban hantu pengarang. Otoritas pembaca dengan kematian pengarang itu memberi risiko atas mekanisme dan parameter kesahihan interpretasi. Risiko membaca terkadang menentukan nasib teks sastra dalam konteks eksistensi dan esensi. Continue reading “Teks, Pembaca, Interpretasi”

Kandungan ‘Gizi’ Puisi Jimmy

Choirul Muslim*
http://www.lampungpost.com/

SETIAP membaca buku puisi, terkadang saya menikmatinya sebagai proses mencerna makanan. Ada laku fisik sebagai awal untuk memenuhi kebutuhan dalam diri, “kebutuhan metafisik” kalau boleh menyebutnya. Puisi adalah bongkahan gizi, yang hanya berguna ketika kita mampu mencerna dan menyerapnya ke dalam tubuh menjadi konstituen kesadaran batin pembaca. Jika tidak dicerna, puisi hanya lewat utuh di dalam tubuh, seperti musang memakan buah kopi. Dalam hal ini puisi dianggap bukan gizi, dibuang bersama feses diri. Continue reading “Kandungan ‘Gizi’ Puisi Jimmy”

“Leontin Dewangga” dan Sastra Perlawanan

Asvi Warman Adam
http://www2.kompas.com/

JATUHNYA Soeharto membuka peluang munculnya karya sastra yang selama Orde Baru terlarang. Tiga dekade rezim otoriter itu identik dengan kematian sastra kiri, yaitu karya pengarang yang dianggap “terlibat G30S”. Demikian yang dialami Martin Aleida yang kiprahnya di dunia sastra tersumbat lebih dari 30 tahun. Baru sejak medio 1998 Martin bisa menerbitkan beberapa buku, yaitu Malam Kelabu, Ilyana dan Aku (kumpulan cerpen), Layang-Layang Tidak Lagi Mengepak Tinggi-tinggi (novelet), dan Perempuan Depan Kaca (kumpulan cerpen). Yang terakhir adalah Leontin Dewangga (kumpulan cerpen) yang terbit akhir Desember 2003. Continue reading ““Leontin Dewangga” dan Sastra Perlawanan”

Bahasa ยป