Membumikan Teater

Suyatmin Widodo
http://www.kr.co.id/

ADA KISAH berharga dari Ali Sadikin, mantan gubernur DKI Jakarta, mengenai teater yang perlu kita renungkan. Sehubungan dengan tugas-tugasnya di Angkatan Laut (sebagaimana ditulis pada Horison edisi Nopember 1993) berkesempatan tugas ke beberapa kota besar luar negeri, antara lain: Paris, Berlin, London, Wina, Tokyo, Washington, dan New York. Setiap melakukan lawatan ke kota-kota itu, ia selalu dibawa pejabat, duta besar atau stafnya berkeliling kota. Biasanya, yang mereka perlihatkan pertama-tama adalah Istana Negara, dengan halaman yang tertata rapi, bersih, dan indah. Di samping itu, ia juga dibawa ke Gedung Parlemen, Mahkamah Agung, dan teater. Continue reading “Membumikan Teater”

KULTUR DAN IDENTITAS

Sastra Nir-ideologi: “Menjadi Tak Ada”
Gus TF Sakai
http://kompas-cetak/

Ketika individu menjelma jadi kelompok, ada unsur, sifat, atau kepentingan sama tertentu yang mengikatnya. Dan, identitas dalam bentuk kelompok (etnik, kultur, nation) selalu berada dalam sistem kompleks yang tak bisa dikenali melalui individu.

Fisika boleh menemukan partikel terkecil sub-atomik misalnya, tetapi ketika sejumlah atom berada dan terikat dalam gugus atom (molekul, senyawa), “wujud” yang muncul selalu beda. Dalam kajian sosial, sistem kompleks kumpulan individu ini diidentifikasi melalui ideologi. Tetapi, tepatkah identifikasi seperti itu? Continue reading “KULTUR DAN IDENTITAS”

Menegakkan Pusat Alternatif

Sunaryono Basuki Ks *
sinarharapan.co.id

Pada ”Temu Sastra Bali Nusra” yang diselenggarakan di Mataram tahun 1986, saya mengemukakan sebuah gagasan mengenai penegakan pusat alternatif bagi kegiatan berkesenian, terutama sastra. Saat itu, mungkin gagasan itu masih sangat relevan, karena kecenderungan para sastrawan terutama yang tinggal di luar Jakarta saat itu ialah menaruh kecurigaan yang berlebihan terhadap dominasi para pengasuh ruang budaya pada penerbitan Jakarta. Continue reading “Menegakkan Pusat Alternatif”

Politisasi Media Sastra

Binhad Nurrohmat
http://www.sinarharapan.co.id/

Pluralitas media komunikasi sastra sama sekali bukan indikator dominan bagi munculnya kehebatan inovasi karya sastra dan singularitas media komunikasi sastra juga sama sekali bukan tanda adanya bencana kejumudan mutu sastra.

Pluralitas media komunikasi sastra akan memberi ruang lebih luas bagi usaha publikasi karya sastra tapi tak selalu menjamin adanya usaha eksplorasi mutu sastra yang lebih jauh dan luas. Sedangkan singularitas media komunikasi sastra kadang justru bisa menciptakan kompetisi bersastra yang liat dan mampu memunculkan maestro-maestro sastra sekaligus melahirkan para ?pecundang? sastra yang tersingkir karena tak bisa memenangi kompetisi kreatif yang ketat. Continue reading “Politisasi Media Sastra”

Bahasa »