Sastra Eksil, Adakah?

Soeprijadi Tomodihardjo
http://www.sinarharapan.co.id/

Dalam penalaran selintas yang tiba-tiba mengundang keraguan menghadapi masa depan, ada sejenis penyakit kronis yang selama ini diderita kaum eksil Indonesia, yakni home sick: rindu kampung, kangen keluarga.

Penyakit ini sudah 40 tahun lebih melanda mereka. Saya bukan dokter tetapi sumber data Dinas Kesehatan di Jerman mencatat, banyak Gastarbeiter menderita penyakit heimweh, ya home sick itu. Tetapi para Gastarbeiter (bukan Indonesia tapi Turki, Yunani, Itali, Spanyol dsb.), Continue reading “Sastra Eksil, Adakah?”

Dapatkah Sastra Eksil Berbicara?

Komarudin
http://www2.kompas.com/

SELAMA rezim Orde Baru berkuasa, ada larangan terhadap sejumlah karya sastrawan yang dituduh terlibat dalam G 30 S/PKI, sehingga karya-karya mereka tak terjamah oleh publik pembaca sastra Indonesia, termasuk sastra eksil.

Namun, belakangan ini perbincangan mengenai sastra eksil kian mengemuka yang diiringi dengan penerbitan sejumlah karya-karya mereka. Sebut saja Kisah Intel dan Sebuah Warung karya Sobron Aidit, adik kandung DN Aidit, Perang dan Kembang karya Asahan Alham, Di Bawah Langit tak Berbintang dan Menuju Kamar Durhaka karya Utuy Tatang Sontani, antologi Di Negeri Orang: Puisi Penyair Eksil Indonesia, karya Asahan Alham, Sobron Aidit, dan kawan-kawan. Continue reading “Dapatkah Sastra Eksil Berbicara?”

Adakah Hubungan Sastra dan Korupsi?

Ngatini Rasdi*
http://www.sinarharapan.co.id/

MARAKNYA kasus korupsi (juga dekadensi moral lainnya) di Indonesia, agaknya bisa dikaitkan dengan rendahnya apresiasi sastra (juga karya seni lainnya) di negeri ini. Jika benar ada hubungan antara sastra dengan korupsi, masalah apresiasi sastralah yang layak dianggap sebagai penghubungnya.

Marilah kira mencoba membandingkan tingkat apresiasi sastra di negara ini dengan di negara-negara lain. Misalnya saja, betapa siswa sekolah menengah di Malaysia, Filipina dan Thailand telah akrab dengan novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer dan karya sastrawan-sastrawan besar dunia lainnya, sedangkan rekan-rekannya di Indonesia hanya sedikit yang mengenal sosok Pramoedya Ananta Toer. Continue reading “Adakah Hubungan Sastra dan Korupsi?”

Sastra yang Tidur dalam Kulkas

Saut Situmorang *

“Aku tidur di depan sebuah kulkas. Suaranya berdengung seperti kaus kakiku di siang hari yang terik. Di dalam kulkas itu ada sebuah negara yang sibuk dengan jas, dasi, dan mengurus makanan anjing. Sejak ia berdusta, aku tak pernah memikirkannya lagi.” Demikianlah bunyi empat baris pertama prose-poem Afrizal Malna yang berjudul “Persahabatan Dengan Seekor Anjing” dari bukunya Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (Bentang, 2002). Continue reading “Sastra yang Tidur dalam Kulkas”

Bahasa »