Membumikan Teater

Suyatmin Widodo
http://www.kr.co.id/

ADA KISAH berharga dari Ali Sadikin, mantan gubernur DKI Jakarta, mengenai teater yang perlu kita renungkan. Sehubungan dengan tugas-tugasnya di Angkatan Laut (sebagaimana ditulis pada Horison edisi Nopember 1993) berkesempatan tugas ke beberapa kota besar luar negeri, antara lain: Paris, Berlin, London, Wina, Tokyo, Washington, dan New York. Setiap melakukan lawatan ke kota-kota itu, ia selalu dibawa pejabat, duta besar atau stafnya berkeliling kota. Biasanya, yang mereka perlihatkan pertama-tama adalah Istana Negara, dengan halaman yang tertata rapi, bersih, dan indah. Di samping itu, ia juga dibawa ke Gedung Parlemen, Mahkamah Agung, dan teater.

Ali Sadikin sempat merenung, kenapa dirinya selalu dibawa ke tempat-tempat itu? Tampaknya, apa yang mereka perlihatkan adalah simbol-simbol. Parlemen merupakan simbol demokrasi. Mahkamah Agung merupakan simbol keadilan dan hukum. Dan teater adalah simbol seni budaya.

Betapa teater (dalam pengertian luas, baik gedung maupun aktivitas teaternya) menduduki posisi penting sebagai representasi dari sederatan seni budaya yang mungkin panjang dan beraneka ragam di kota-kota tersebut. Apa pasalnya? Ali Sadikin tidak mengurai. Namun, dari kisah itu kita patut curiga, ada banyak alasan kenapa teater yang harus dikunjungi? Sebegitu pentingnya rangkaia setiap kali berkunjung selalu membawanya ke teater, tentu menguatkan alasan bahwa memang teater ?ada apa-apanya?. Ia merupakan wakil yang memiliki peran penting dari kompleksitas seni dan budaya yang tidak bisa lepas dari dialektika kehidupan sosial dan kebudayaan di setiap wilayah yang dikunjunginya.

Seperti dalam sejarah kemunculannya, teater memang merupakan bagian yang utuh dari setiap penyelenggaraan kehidupan dalam menjalani spiritualitas kemanusiaannya. Asal mula teater memang kultus terhadap Dyonisius. Pergelaran teater dikaitkan dengan upacara penyembahan Dewa Domba/Lembu. Sebelum teater dipentaskan dilakukan upacara korban domba/lembu kepada Dyonisius dan nyayian disebut tragedi. Namun, dalam perkembangannya Dyonisius yang tadinya berupa dewa berwujud binatang itu berubah menjadi manusia, dan dipuja sebagai dewa anggur dan kesuburan. Kemudian tragedi mendapat makna lain, yaitu perjuangan manusia melawan nasib. Selain tragedi, pada zaman Yunani Kuno sudah terdapat teater komedi. Komedi merupakan karikatur terhadap cerita duka dengan tujuan menyindir hidup manusia.

Karena dekatnya dengan kehidupan, teater juga bisa dijadikan sebagai alat perjuangan untuk merespon semua peristiwa politik yang sedang berlangsung. Namun, antara politik dan seni jelas mempunyai tujuan berbeda. Sosiolog senior Arief Budiman menyebut berbeda dengan jenis seni lainnya, teater merupakan kesenian yang dipentaskan, karena itu langsung bersifat publik. Teater tidak bisa dipentaskan sendirian, tanpa ada publiknya, seperti halnya seni lukis atau sastra. Dengan demikian, dia cepat terkena kontrol pemerintah. Karena sifatnya yang publik, keberhasilan pementasan teater selalu ada hubungannya dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Karena itu, teater sangat rawan untuk terinduksi masalah-masalah politik. Meskipun tentu saja, tidak selalu hal itu harus terjadi. Karena masih banyak masalah di masyarakat yang tidak politis.

Peran Masing-masing
DALAM PENGERTIAN yang lebih luas, sesungguhnya wujud geliat politik adalah usaha memenangkan suatu kehendak tertentu. Guna mencapai tujuan tertentu tersebut, aktor-aktor politik (para politisi) menggunakan berbagai cara dan instrumen yang ada. Salah satu cara yang sering dan umum dipakai adalah dengan mempengaruhi orang lain dan mengorganisasikan orang-orang tersebut, baik secara nonformal maupun formal, untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai. Sementara itu, tujuan seni adalah untuk mengungkapkan tanggapan yang intens dari seseorang terhadap persoalan kehidupan. Respon atau reaksi seniman bisa mengenai persoalan-persoalan yang bersifat individual, bisa juga tentang persoalan-persoalan kemasyarakatan. Tanggapan-tanggapan itu tentu tergantung pada pilihan seniman masing-masing. Sebagai misal, di antara sekian seniman tersebut ada yang menyoal kekuasaan yang antidemokrasi dan tidak memberikan ruang ekspresi pada rakyatnya. Mereka melakukan aksi protes melalui karya-karyanya. Tentu saja yang demikian ini mempunyai dampak politis. Oleh karena itu, tidak sedikit pencekalan-pencekalan terhadap pentas teater masa Orde Baru terjadi. Komunitas seperti Teater Koma, Bengkel Teater, dan grup-grup di daerah sering mengalami hambatan-hambatan itu. Setidaknya, upaya-upaya kekuasaan sistematis yang membelenggu seperti mempersulit perizinan, pada masa lalu seringkali terjadi.

Kesenian dan politik jelas berbeda. Politik selalu mempengaruhi untuk mendapatkan dukungan, sementara seni tidak meminta orang lain untuk mendukungnya. Sama sekali aktivitas kesenian bukan untuk mendapatkan dukungan sebagaimana aktivitas politik itu. Tujuan seniman biasanya hanya terbatas sampai usaha mengekspresikan dirinya secara baik. Kalau akhirnya, apa yang diekspresikan berpengaruh pada orang lain untuk melakukan sesuatu, itu bukan tujuan utama seniman.

Oleh karena itu, cukup beralasan ketika orang-orang kemudian menggagas ditempatkannya kembali teater dalam ruang kehidupan masyarakat modern. Penempatan kembali atau pembaruan tempat teater dalam konstelasi masyarakat modern, tampaknya mesti diakui dan mau tidak mau diiringi risiko untuk berusaha ?menemukan? kembali manusia yang berdiam dan mungkin mengambil titik pusat di dalamnya. Teater bisa menjadi cagar kebudayaan modern di mana manusia diperbolehkan memperoleh dan mengejawantahkan dirinya sendiri, tanpa terali sosial yang diterimanya dalam keseharian (Radar Panca Dahana, Homo Theatricus, 2000).

Sesungguhnya ini sejalan dengan tuntutan kehidupan modern yang mempersyaratkan orang harus memahami pengetahuan umum untuk dapat berperan dalam kehidupannya. Sebab sebagai makhluk sosial, manusia tak bisa menghindar dari pergaulan masyarakat. Dan saat menjalani kehidupan bermasyarakat tersebut, kita harus memahami peranan kita dalam keseluruhan transformasi dan proses perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. Sekali lagi, untuk memahami peranan yang demikian tentu membutuhkan bekal pengetahuan yang bersifat umum. Apabila tanpa dengan bekal pengetahuan umum yang memadai, kita akan mudah sekali kehilangan makna diri dalam kehidupan modern. Akibatnya, kita akan kesulitan dalam mempermainkan peranan dalam kehidupan bermasyarakat tersebut.

Bekal supaya bisa berperan dalam kehidupan modern itu, kita harus menguasai pengetahuan umum. Pengetahuan umum tersebut, menurut Phenix pada buku Pendidikan Antisipatoris (2002) yang ditulis Mochtar Buchori, meliputi enam wilayah makna (six realms of meaning). Salah satu dari enam wilayah makna tersebut adalah wilayah esthetics. Kita bisa menyebut teater merupakan salah satu kawasan yang berada di wilayah itu. Walaupun teater tidak hanya mengajarkan yang berunsur keindahan belaka. Namun, terdapat pula ajaran-ajaran moral lain terkandung di dalamnya. Sebab, teater tak lain adalah merupakan media ekspresi untuk merespon sesuatu. Karenanya teater lebih ?hidup? dan mampu bergerak dinamik.

Terus Mengaliri
TEATER MODERN atau konvensional, yang tradisional atau yang post-modern selalu membicarakan masyarakat yang dikristalkan di dalam diri, dan tokoh-tokoh yang berinteraksi di dalam masyarakat. Karena dekatnya makna teater merupakan dunia mini dalam bentuk permainan, yang pada dasarnya lebih-lebih merupakan mimesis, peniruan apa yang secara sesungguhnya terjadi dalam masyarakat benarnya. Karena itu, untuk mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya di dalam masyarakat pergilah ke teater, dan pelajarilah apa yang dipertontonkan di sana. Yang sebaliknya pun terjadi untuk mengolah secara benar di dalam teater hadirlah di dalam kehidupan masyarakat yang sebenarnya, karena di sana letak drama sesungguhnya. (Jakob Oetama, Diskusi HUT ke 25 Tahun Teater Populer, 21 Oktober 1993 di Jakarta).

Tentu apa yang dikatakan sebagai tiruan bukanlah imitasi dalam pengertian sempit. Bukankah sang filosof Plato pernah mengatakan bahwa keindahan itu relatif sifatnya. Karya seni dipandang sebagai mimetik, yaitu imitasi dari kehidupan jasmaniah manusia. Imitasi itu, menurut Plato, bukan demi kepentingan imitasi itu sendiri, tetapi demi kepentingan kenyataan.

Pun demikian, kita tidak bisa mengelak, sampai sekarang tidak sedikit pementasan teater yang ditawarkan oleh sederet komunitas tersebut berupa tema-tema abstrak. Dari tawaran itu tak jarang, masyarakat justru berada dalam interaksi yang berjarak. Sebab seniman mengumandangkan dunianya sendiri tanpa mempedulikan latar belakang masyarakat yang sebenarnya ingin mendekatkan diri padanya, sehingga antara seniman dan masyarakat tidak bisa membangun ruang tegur sapa.

Pola-pola baru yang memungkinkan adanya relasi sepadan itulah yang sekarang harus dibangun kokoh, agar aliran air dari teater benar-benar dirasakan penikmatnya (masyarakat). Para penggiat teater atau teaterawan (baca: seniman) tak lagi membangun menara gading, yang jauh dari gapaian masyarakat. Justru sebaliknya, mereka harus membangun menara air yang bisa meresap ke mana-mana. Sehingga kehadiran teater benar-benar berarti, sebab membumi tanpa jarak dengan kawan komunikasi. Sebuah penggambaran kreator (seniman) merupakan komunikator, karya seni jelmaan pesan, dan masyarakat (penonton) berposisi sebagai komunikan.

Akhirnya, kalau kita hendak membumikan teater sebagai simbol seni dan budaya, tentu tidak hanya mengabadikan teater semata-mata sebagai simbol. Ia tak lebih merupakan spirit untuk mengatakan ?ideologi? yang mampu menggerakkan masyarakat. Wujud konkretnya, semua melakukan peran masing-masing sesuai dengan yang harus diperankan. Tanpa harus berpura-pura, menjungkirbalikkan ketidaksungguhan itu menjadi kesungguhan. Seturut dengan apa yang pernah dikatakan filosof termasyur dari Yunani Aristoteles, bahwa karya seni bukan hanya imitasi kehidupan fisik, tetapi juga harus dipandang sebagai karya yang mengandung kebajikan dalam dirinya. Dengan demikian karya-karya seni itu mempunyai watak yang menentukan. Lantas begitu menentukankah karya seni teater dalam kehidupan masyarakat kita? Kalau belum, kita harus mengkampanyekan dengan gerakan nyata guna membumikan teater dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga gerakan yang demikian segera mendapat sambutan dari masyarakat yang lebih luas!.

*) Penulis adalah Direktur Yayasan Ronggowarsito dan Anggota Teater KSP Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *