Habis Gelap Terbitlah Gelap

Fahrudin Nasrulloh *
jawapos.com

Andai Kartini tidak lahir pada 21 April 1879, pastilah tidak akan muncul ledakan keperempuanannya hingga ia menulis Door Duisfernis Tot Licht yang kemudian diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang (P.N. Balai Pustaka, 1957). Ia tak lain adalah cermin tragedi perempuan di abad itu, saat harkat perempuan terperosok dan cuma berkubang ”riwa-riwi” di sumur, dapur, dan kasur. Batinnya dilecut gelisah, dipukul topan badai keterbelakangan. Dirundung cita-cita, dihambat kasih sayang. Dikerangkeng adat dan dibutakan oleh peradaban bangsanya sendiri yang lama nian terjajah. Continue reading “Habis Gelap Terbitlah Gelap”

Menyoal Blurp

Afri Meldam
padangekspres.co.id

Blurb atau kutipan pendapat pembaca (pakar) terhadap suatu terhadap suatu buku yang ditampilkan di sampul depan ataupun belakang, yang menonjolkan nilai pujian. Blurb memang bias. Pemasangan kata-kata pujian tersebut tak lain adalah strategi penerbit untuk mendongkrak angka penjualan sebuah buku. Mengapa perlu menyoal blurb?

Ada beberapa alasan mengapa blurb pada sampul buku (sastra) perlu dipersoalkan. Pertama, dalam kritik reader respons, tanggapan pembaca dianggap sebagai salah satu kepingan puzzle yang membuat buku utuh. Tanpa tanggapan dari pembaca, sebuah karya dinilai tidak lengkap. Continue reading “Menyoal Blurp”

Puisi dari dan untuk Ruang Sunyi

Budi P. Hatees *
lampungpost.com

KETIKA membaca buku Kumpulan Puisi Ruang Lengang yang ditulis Epri Tsaqib, ingatan kita segera tertumbuk pada sastra islami yang diusung para penggiat Forum Lingkar Pena (FLP) dalam karya-karya mereka. Epri Tsaqib bergiat dalam wadah ini, tetapi ia memilih jalan puisi sebagai alat ekspresi seni, berbeda dengan pilihan sebagian besar penggiat FLP yang condong mengutamakan prosa.

Apa pun pilihan ekspresi seni para penggiat FLP, semuanya memiliki kelemahan juga kekuatan. Tentang kelemahan dan kekuatan setiap pilihan ekspresi seni itu akan saya singgung dalam tulisan ini, sehingga dapat menjadi pembanding bagi para penggiat FLP dalam menekuni dunia kepenulisan sastra di negeri ini. Continue reading “Puisi dari dan untuk Ruang Sunyi”

Sastra dalam Bingkai Estetika Tak Bermalu

Damhuri Muhammad
http://www.suarakarya-online.com/

Semiotisasi tubuh dalam teks sastra erat kaitannya dengan semesta ketubuhan di dalam wacana postmodernisme, yang menggiring diksi tentang tubuh berkembang ke arah yang melampaui (hyper) batas moral, norma, etika, budaya, adat, tabu dan agama.

Selain itu, vulgaritas “bahasa” sebagaimana ditemukan di dalam Jangan Main-main dengan Kelaminmu (Djenar Maesa Ayu), Wajah Sebuah Vagina (Naning Pranoto) dan Kuda Ranjang (kumpulan puisi Binhad Nurrohmat) Continue reading “Sastra dalam Bingkai Estetika Tak Bermalu”

Narasi Haji dalam Prosa Indonesia

Damanhuri
ttp://www.lampungpost.com/

Ke angkasa hitam, kulihat, jemaah itu tengadah. Langit gelap langit pekat…Ada langit lain, angkasa lain, di dalam dada. “Putih, benderang, melesat-lesat lempeng cahaya.” Lempeng! Adakah-adakah itu lempengan doa? Tuhan, tak ada hal yang ingin Kau sampaikan kecuali bahwa apa pun doa, dari hati yang bersih, adalah cahaya. Betapa. Tetapi, aku?…

Panggilan ini. Haji tahun lalu. Ingatan akan kampung. Betapa. Apakah sebenarnya makna kata “mampu” atau “sanggup”? Apakah yang telah kuperbuat di tahun lalu?

Kutipan di atas berasal dari paragraf-paragraf awal novel karya Gus tf Sakai, Ular Keempat (Kompas, 2005), Continue reading “Narasi Haji dalam Prosa Indonesia”

Bahasa ยป