Pembunuhan Sultan dan Sisir George Bush dalam Sastra Kita

Linda Christanty *
cetak.kompas.com

Tahun ini, tepat 10 tahun Ayu Utami menulis Saman, novel yang dianggap memberi tafsir baru terhadap tubuh perempuan, seks, dan seksualitas dalam sastra kita.

Dalam Saman, untuk pertama kalinya perempuan bebas bicara tentang hal terdekat dengan diri mereka dan sekaligus telah lama diceraikan dari mereka, yaitu tentang tubuh mereka sendiri. Dan tubuh ibaratkan bahasa ibu, bukan sekadar teks. Tetapi, suatu hari negara dan agama ikut mengatur penggunaannya. Continue reading “Pembunuhan Sultan dan Sisir George Bush dalam Sastra Kita”

Spiritualitas dalam Sastra

Tentang “Surga Anak-Anak” karya Najib Mahfuz

St. Sunardi
http://oase.kompas.com/

1/
Beginilah kita menyaksikan dalam ?Surga Anak-Anak? agama yang sedang gagap menghadirkan dirinya dalam masyarakat modern. Rasa gagap ini berakhir tragis: agama digugat oleh anak-anak. Agama–yang diwakili oleh sang ayah–belingsatan: seolah-olah mampu padahal tak berdaya mempertanggungjawabkan kekuasaannya. Karena kehabisan kata-kata, sang ayah berusaha menunda persoalan: ?Engkau masih kecil, sayang; nanti kalau kau sudah besar, engkau akan mengerti ?? atau ?Tidakkah kau sabar, sayangku, menunggu sampai engkau besar??. Continue reading “Spiritualitas dalam Sastra”

MELIHAT KOTA, MEMBACA SASTRA

Imam Muhtarom *

Perkembangan kota sebagai sebuah ruang yang benar-benar berbeda dengan desa, telah mengubah bukan hanya di tingkat bagaimana penghuninya memenuhi kebutuhan ekonominya tetapi juga bagaimana kesadaran para penghuninya. Jika dalam masyarakat desa memiliki ketergantungan pada alam, maka masyarakat kota memiliki cara lain dalam memenuhi kebutuhannya. Sistem sebagai sarana pengelolaan segala kebutuhan masyarakat kota merupakan seperangkat cara agar segala kebutuhan dan kepentingan dapat terakumulasi dengan baik. Continue reading “MELIHAT KOTA, MEMBACA SASTRA”

Novel Grafis, Komik atau Sastra?

BE Satrio
kompas.com

“Saya duduk dan coba membuat sebuah buku yang akan tampak sebagaimana lazimnya sebuah buku, dan sekaligus ingin mengerjakan komik dengan tema yang sebelumnya tidak pernah dibuat,” ungkap komikus Will Eisner dua tahun silam dalam sebuah wawancara dengan Time. Wawancara itu dilakukan dalam rangkaian peringatan 25 tahun lahirnya novel grafis di Amerika Serikat.

Ketika akhirnya karya itu selesai dan coba ditawarkannya ke beberapa penerbit, Eisner yang khawatir hasil kerjanya itu akan ditolak sebagai sebuah komik, mengatakan bahwa apa yang ia kerjakan itu adalah sebuah “novel grafis”. Continue reading “Novel Grafis, Komik atau Sastra?”

Sastra & Lokalitas, ‘So What Gitu Loh’…!

Ari Pahala Hutabarat *
lampungpost.com

DI Lampung perbincangan mengenai lokalitas sering menjebak kita untuk membawa kembali tradisi dari masa lalu ke masa sekarang. Kita takut sekali dianggap sebagai anak tiri atau anak haram dari tradisi.

Pertanyaannya, apakah kita mempunyai ayah dan ibu kandung tradisi ini? Apakah pernah ada orisinalitas itu, sesuatu yang murni, dari tradisi Lampung? Jawabnya, tidak ada. Continue reading “Sastra & Lokalitas, ‘So What Gitu Loh’…!”

Bahasa ยป