Membuka Kembali Nyai Dasima

Hardiman
http://cetak.kompas.com/

Sastra Melayu Tionghoa telah lama terpinggirkan oleh arus utama (teori) sastra Indonesia. Di hadapan teori postkolonialisme, Nyai Dasima, misalnya, begitu penting sebagai obyek kajian. Nyai Dasima bukan sekadar teks yang dibangun oleh bahasa capcay, tetapi yang terpenting adalah representasi tentang kolonialisasi.

Berterima kasihlah kita kepada Bill Ashcroft, teorisi pertama yang memperkenalkan wacana postkolonial di dunia sastra. Continue reading “Membuka Kembali Nyai Dasima”

APRESIASI SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH

Maman S. Mahayana *

Apakah pengajaran sastra (Indonesia) di sekolah bertujuan agar siswa (a) menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan (b) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia, atau agar siswa memperoleh pengetahuan (a) tentang sastra dengan berbagai teori dan (b) nama pengarang, judul, dan angkatan-angkatan? Continue reading “APRESIASI SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH”

Mengenang Kritikus Sastra Dami Toda

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Penulis terhenyak ketika memperoleh berita bahwa Dami N Toda telah meninggal pada bulan November 2006 yang lalu. Perkenalan pertama kami terjadi di Sanggar Wowor milik pematung Michael Wowor di Jalan Kalibata Raya pada tahun enam puluhan ketika Menteri Perkebunan waktu itu, Frans Seda, memberi oder kepada Michael untuk membuat patung Irama Revolusi. Continue reading “Mengenang Kritikus Sastra Dami Toda”

Festival Puisi Weltklang, Berlin

Ketika Puisi Masih Dipercaya

Dorothea Rosa Herliany
kompas.com

PENGARANG Jerman, Wolfgang Borchert, pada Oktober 1947, pernah menulis manifesto antiperangnya yang terkenal, “Maka, hanya ada satu pilihan. Katakan Tidak!” (dann giht es nur eins! “sag nein!”). Kemudian hari-hari berlalu dan suatu hari aku datang di negeri itu. Aku habiskan waktu dengan menyusuri jalan-jalan di Berlin. Sampai Tembok Berlin itu juga: bilakah dulu jadi lambang kebebasan manusia? Betapa kini sudah tak tampak lagi jejak-jejak perjuangan manusia melawan tirani politik dan kekuasaan itu. Tapi, bisa jadi inilah wujud kebebasan itu, Continue reading “Festival Puisi Weltklang, Berlin”

Dari Perbendaharaan Lama

Taufik Abdullah
http://majalah.tempointeraktif.com/

ALKISAH, tersebutlah perkataan bahwa Syekh Shaqiq Zahid memberikan nasihat kepada Sultan Harun al-Rasyid.

?Ya, Amirul Mukminin, ketahuilah olehmu yang mata air itu engkau juga dan segala menteri dan hulubalang dan lain daripada itu seperti segala sungai juga umpamanya. Jikalau mata air itu suci dan segala sungai itu keruh tiada mengapa. Tetapi jika mata air itu keruh dan segala sungai itu suci tiada berguna.? Continue reading “Dari Perbendaharaan Lama”

Bahasa ยป