Pergeseran Pola Puitik Dari Chairil Anwar Menuju Arief B. Prasetyo

Ribut Wijoto
sinarharapan.co.id

Ketika sedang suntuk mempelajari kembali puisi Chairil Anwar, saya tiba-tiba teringat Hugh Trevor-Roper, sejarawan yang membahas historiografi abad ke delapan belas. “Prestasi yang dicapai oleh sejarawan abad ke delapan belas sangat luar biasa”, tulisnya dalam buku The Listener (1977). Abad ke-18 telah semena-mena terhadap data dan peristiwa sejarah. Segala yang terjadi di masa silam dinilai dan ditafsirkan dengan norma dan realitas masa sekarang. Seolah-olah nilai masa sekarang bersifat mutlak dan masa silam bersifat relatif. Continue reading “Pergeseran Pola Puitik Dari Chairil Anwar Menuju Arief B. Prasetyo”

Nasionalisme dalam Belenggu Waktu

Radhar Panca Dahana
majalah.tempointeraktif.com

“Manusia memang dilahirkan bebas tapi secara keseluruhan sebenarnya ia terbelenggu” (Jean Jacques Rousseau)

TUJUH puluh tahun barangkali rata-rata harapan hidup manusia sekarang. Seumur demikian umumnya manusia sudah “selesai”. Jikapun ia masih hidup, atau tetap ingin hidup, sebenarnya ia harus mendapatkan makna baru hidupnya. Continue reading “Nasionalisme dalam Belenggu Waktu”

Tetralogi Buru dan Indonesia ‘Modern?’

Eka Kurniawan
majalah.tempointeraktif.com

Pramoedya berhasil menemukan anak kandung semangat nasionalisme Indonesia. Bukan politikus yang kelak menjadi presiden pertama semacam Soekarno atau aktivis kiri yang bergerak tanpa batas geografis semacam Tan Malaka.

TETRALOGI Buru bisa dibilang merupakan upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab: apa itu menjadi Indonesia. Pada akhir 1950-an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat ‘jika tak bisa dikatakan panas’ ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia. Continue reading “Tetralogi Buru dan Indonesia ‘Modern?’”

Komunitas Sastra Kampus dan Mereka yang Melawan

Anton Kurnia
sinarharapan.co.id

Perkembangan sastra kita tidak bisa dilepaskan dari peran berbagai komunitas sastra dan kantung-kantung budaya yang bertebaran di berbagai kota, terutama yang berbasis di kampus-kampus perguruan tinggi. Sebagian dari para pegiat komunitas sastra kampus ini muncul dan menonjol menjadi sosok yang diperhitungkan dalam sejarah sastra kita dengan karya-karyanya, melepaskan diri dari kolektivitas komunitasnya. Sebagian yang lain terserap oleh kerumunan komunitasnya dan akhirnya menghilang dari peredaran karena berbagai sebab. Continue reading “Komunitas Sastra Kampus dan Mereka yang Melawan”

Bahasa ยป