Kepedulian Sastra dan Realitas Kemanusiaan

Eka Fendri Putra
http://www.suarakarya-online.com/

Kemanusiaan kita kenal sebagai sesuatu yang universal.Cita-cita tentang kesejahteraan manusia dikenal oleh seluruh umat manusia di seantero dunia dengan cara masing-masing.

Betapa pun beragam corak pelafalannya, karena konteks setiap kelompok masyarakat banyak memberikan warna, tak pelak lagi, semangat ini meruap dari naluri cinta kepada sesama. Continue reading “Kepedulian Sastra dan Realitas Kemanusiaan”

Potret Buram Libido yang Menyimpang

Maman S. Mahayana
http://kompas-cetak/

Sebuah novel metaforis dengan tokoh yang juga metaforis: Sendalu karya Chavchay Syaifullah. Sendalu “kencang” yang dalam konteks novel itu meski dimaknai sebagai “pengaruh (buruk) yang cepat menyebar; wabah, epidemi macam penyakit kusta, AIDS, atau flu burung”.

Tokoh utama, Lumang, diposisikan sebagai “anak terapit bangkai” karena kakak dan adiknya meninggal prematur. Lumang sendiri bermakna ?lumpur, noda?. Jadilah tokoh Lumang digambarkan hidup lebih nista dari lumpur, pencipta teror, penebar noda bagi manusia, jawara keparat bagi wanita. Continue reading “Potret Buram Libido yang Menyimpang”

Alam yang tak Mencemaskan

Ahda Imran
pr.qiandra.net.id

DALAM hampir semua novel Indonesia yang mencoba menempatkan alam tidak sekadar sebagai latar cerita, tetapi juga sebagai masalah yang diangkatnya. Alam bukankah ancaman yang mencemaskan dan menakutkan. Alam tidaklah diperlakukan sebagai problem yang serius. Bahkan, dalam banyak puisi penyair Indonesia, alam (laut, gubung, hutan, sawah) justru menjadi objek yang penuh pesona, inspirasi. Maka yang muncul adalah kekaguman mereka pada alam. Jejak alam dalam novel Indonesia adalah ekspresi kekaguman, keterpesonaan, dan hasrat melakukan persahabatan dan persaudaraan dengan alam. Continue reading “Alam yang tak Mencemaskan”

Periode Keemasan Kedua Cerpen Indonesia

Agus Noor *
kompas.com

Dalam esai Mencari Tradisi Cerpen Indonesia yang ditulis tahun 1975, Jakob Sumardjo menyatakan, “Tradisi penulisan cerpen mencapai masa suburnya pada dekade 50-an yang merupakan zaman emas produksi cerita pendek dalam sejarah sastra Indonesia.”

Salah satu faktor yang mendukung “periode keemasan” itu antara lain munculnya majalah seperti Kisah, Tjerita, serta Prosa, yang menjadi ruang pertumbuhan cerpen pada saat itu. Continue reading “Periode Keemasan Kedua Cerpen Indonesia”

Misteri Jiwa Tokoh pada Kumpulan Cerpen “Bila Bintang Terpetik”

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Banyak tema yang bisa digali seorang penulis. Maka, seorang penulis sastra pun pasti sengaja atau tak sengaja akan memilih pendekatan tertentu, untuk diapreasiasi, ditanggapi oleh pembaca, penikmat ataupun apresiator.

Akidah Gauzillah, dalam kumpulan cerpen Bila Bintang Terpetik (penerbit Beranda, Mizan Grup), terasa lebih memunculkan sudut internal di dalam karya-karyanya. Artinya, dalam cerpennya itu, dia memilih sisi dari tokoh untuk melihat ke dunia luar. Continue reading “Misteri Jiwa Tokoh pada Kumpulan Cerpen “Bila Bintang Terpetik””

Bahasa ยป