Sabdatama, Mutiara Jawa

Drs H Budiono Herusatoto*
http://www.kr.co.id/

Hamenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu ngedan nora tahan, yen tan melu hanglakoni, boya keduman melik, kaliren wekasanipun, ndilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lan waspada.

Terjemahan tekstualnya: Menghadapi zaman gila, serba salah untuk bersikap, ikut gila tak sampai hati, namun bila tidak begitu, tak kebagian rezeki, kelaparan akhirnya, (tetapi) atas kehendak Tuhan, betapapun beruntungnya yang lupa, lebih beruntung yang sadar dan waspada. Continue reading “Sabdatama, Mutiara Jawa”

Kehilangan Jejak Sapardian

Senggrutu Singomenggolo
kompas.co.id

KEHILANGAN JEJAK SAPARDIAN PADA SAJAKNYA DI KOMPAS 22 MARET 2009 – SEBILAH PISAU DAPUR YANG KAUBELI DARI PENJAJA YANG SETIDAKNYA SEMINGGU SEKALI MUNCUL BERKELILING DI KOMPLEKS, YANG SELALU BERJALAN MENUNDUK DAN HANYA SESEKALI MENAWARKAN DAGANGANNYA DENGAN SUARA YANG KADANG TERDENGAR KADANG TIDAK, YANG KALAU DITANYA BERAPA HARGANYA PASTI DIKATAKANNYA, “TERSERAH SITU SAJA”? (KADO ULTAH SAPARDI DJOKO DAMONO KE 70) Continue reading “Kehilangan Jejak Sapardian”

Ayo Jadi Penulis Go Blog

Mohamad Ali Hisyam*
http://www.jawapos.com/

Sambung-sinambung gagasan dalam tulisan Muhidin M. Dahlan, Saatnya Bikin Buku TV (Jawa Pos, 29 Juni 2008) serta esai Azrul Ananda, Newspaper is Dead (Jawa Pos, 1 Juli 2008), menjadi seuntai benang merah dari asumsi mendasar bahwa masa depan dunia cetak, termasuk di dalamnya dunia perbukuan, saat ini sedang berada di persimpangan. Jauh sebelum itu, harian inilah yang pertama kali memperkenalkan kesimpulan bernada ramalan ini ke tengah publik. Continue reading “Ayo Jadi Penulis Go Blog”

Paradigma Antologi Sastra

Binhad Nurrohmat
http://www.sinarharapan.co.id/

Bila ada seorang sastrawan Indonesia secara eksplisit menampakkan sikap kekecewaan lewat cara berburuk sangka atau marah-marah gara-gara karya sastranya tak masuk sebuah antologi sastra sebenarnya itu kecenderungan lama yang sudah berulang kali terjadi dan menjangkiti nyaris setiap antologi sastra kita. Kekecewaan semacam itu cenderung juga akan memancing tanggapan ?baik-baik maupun emosional.? Continue reading “Paradigma Antologi Sastra”

Dari “Kado Istimewa” Sampai “Dua Tengkorak Kepala”

Dari Cerpen “Topikal”, Reduksi Realitas Sampai Masa Depan Cerpen Kita

Agus Noor *
kompas.com

LIMA tahun terakhir, boleh dibilang adalah “masa keemasan” cerpen Indonesia. Sebuah periode yang tidak semata ditandai dengan begitu melimpahnya cerpen, tetapi juga mulai diterimanya cerpen sebagai sebuah genre sastra yang mandiri; pun mulai dihargai melalui pemberian penghargaan terhadap cerpen-cerpen yang dianggap “terbaik” seperti dilakukan Kompas dan Dewan Kesenian Jakarta di tahun 1999 lalu. Continue reading “Dari “Kado Istimewa” Sampai “Dua Tengkorak Kepala””

Bahasa ยป