Misteri Jiwa Tokoh pada Kumpulan Cerpen “Bila Bintang Terpetik”

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Banyak tema yang bisa digali seorang penulis. Maka, seorang penulis sastra pun pasti sengaja atau tak sengaja akan memilih pendekatan tertentu, untuk diapreasiasi, ditanggapi oleh pembaca, penikmat ataupun apresiator.

Akidah Gauzillah, dalam kumpulan cerpen Bila Bintang Terpetik (penerbit Beranda, Mizan Grup), terasa lebih memunculkan sudut internal di dalam karya-karyanya. Artinya, dalam cerpennya itu, dia memilih sisi dari tokoh untuk melihat ke dunia luar.

Problem kejiwaan, karena latar empiris tokoh-tokoh di cerpennya, itulah yang menarik dari cerpen-cerpen Akidah Gauzillah secara keseluruhan dalam karyanya tersebut. Pola bahasanya yang teramat panjang dalam satu kalimat itu barangkali juga adalah pilihan yang dia rasa tepat untuk melukiskan gejolak hati (tokoh) dan menggabungkannya dengan penggambaran suasana di luar tokoh.

Untuk masalah internal, mengaduk-aduk psikologi adalah sesuatu yang dirasakan Akidah lebih tepat. Termasuk, barangkali, membongkar dunia yang dikatakan oleh Carl Jung berupa tiga tahap conciousness (alam sadar), unconciousness (alam bahwa sadar) dan preconciousness (pra-sadar).
Analisis psikologi ini bukan tanpa alasan. Saya memakai analisis ini selain karena terasa faktor internal tadi benar-benar diolah si penulis dalam tokoh-tokohnya (antara lain ?fenomena electra complex?, kebalikannya oedipus-complex, pada lukisan ayah, sehingga dia menyukai seorang pelukis tua yang satu profesi dengan ayahnya namun berbeda tabiat, juga trauma korban perkosaan yang dalam kisahnya, si tokoh itu melarikan diri ke hutan indah dan penuh dengan binatang yang nyatanya lebih bersahabat ketimbang manusia pada ?Seorang Putri dari Negeri Asing?). Hal itu juga terlihat kental pada dialog yang mendalam antara tokoh utama Marissa dan kekasihnya, Alex, pada cerpen ?Ruang? (lihat saja, Akidah sebagai penulis atau author, menyertakan kata ?vonis neurosa?, ?depresi?, ?psikologi fenomenologi? dan kata-kata sejenis itu).

Akidah memang punya kecenderungan yang kuat untuk menembus labirin kejiwaan berbagai tokoh yang aneh, gamang, kalut, kesepian, dan menimbulkan rasa penasaran dan meneror pembaca lewat karyanya yang mengandung ?paradoks pikiran? antara keinginan ideal tokoh dengan kenyataan yang dijalani oleh tokoh.

Psikologi ?an sich?
Hanya, terasa sekali, Akidah kurang melepaskan pengaruh kepenulisan di dalam karyanya itu. Di cerpen ?Ruang? misalnya, Akidah terlalu banyak memberikan pengertian psikologi an sich, sehingga keanehan jiwa si tokoh justru jadi terkurangi. Tokoh misteri menjadi jelas ketika Akidah di antara fenomena dan paradoks pikiran tokoh, kemudian di sela kisahnya, mencoba menjelaskan fenomena itu sehingga ?keanehan? tokoh jadi terkurangi (bahkan sekalipun si Marissa adalah seorang calon psikolog!).

Yang muncul malah kegemilangan wawasan si penulis pada analisis psikologi, suatu hal yang harus dikurangi bahkan disembunyikan di dalam karya sastra fiksi prosa atau pun novel (baca contoh yang saya maksudkan pada cerpen ini di halaman 116 atau halaman 118 paragraf keempat).

Baca saja karya Kafka pada ?Metamorfosis? atau ?Keluarga Pascal Laduarte?-nya Camelio Jose Cella, yang mengolah kegilaan tokoh tanpa penyebutan teori atau analisis psikologi ?secara cerdas?, namun justru memperlihatkan sosok orang ?sakit?.

Yang terasa dominan juga di dalam karya Akidah adalah kecenderungan bahasa puitik. Saya jadi teringat pada karya beberapa penulis dalam kecenderugan yang sama misalnya Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya ?Seruling Kesunyian?, atau Sitok Srengenge pada novel Menggarami Burung Terbang.

Bagi saya yang terasa pas ?bumbunya? adalah karya cerpen SGA di ?Seruling Kesunyian?, karena di dalam cerpennya itu, bahasa puitik dengan rangkaian kalimat yang panjang juga, namun tak meninggalkan tokoh-konflik-perwatakan-latar sebagai kaidah yang mendasar di dalam bangunan sebuah cerpen.

Dalam soal penyampaian bahasa di kumpulan cerpennya ini, Akidah sangat lembut memainkan metafora di tengah bangunan tokoh, karakter, alur, latar termasuk tiap tokoh sampingan yang ada di dalam pengisahannya. Dia cukup berhasil, untuk pilihannya ?hanya memakai rangkaian kata puitik? dalam bolak-balik logika kisah yang realis. Baca saja cerpen ?Kisah dari Seribu Remaja?: ?Disini, berkepakan harapan kukunjungi kuil-kuil fatamorgana. Bersama kepalsuan. Tak lupa memperhatikan alam yang mengalun syahdu, Pinggiran renungan terjalin manis, menantang hari melalui jalan setapak. Tiap kali kaki tersuruk, aku mencari bebatuan, menggenggamnya erat. Dan kupaksakan mata menembus kegelapan, liar menelusuri pengap ?tuk menemukan seberkas sinar. Pada apa dia memancar? Usiaku masih saja tak memberi jawaban. Mentah muda tiada segera mahkota mengembang wangi. Tapi aku berkali-kali gugur. Seribu kali berganti warna bunga, terhempas ke tanah, layu di atas kubur kekasih?, dst (Bila Bintang Terpetik, hal.55).

Untuk karya-karya yang dituangkan pada awal kumpulan cerpen ini (yaitu ?Inspirasi Upik Abu? dan ?Yang Tinggal Sekeping Beling?), selain pilihan tokoh yang remaja, memakai bahasa yang baik sesuai suasana remaja, tak begitu kontemplatif ketimbang cerpen-cerpennya di akhir buku, lebih mengarah pada gaya penceritaan cerpen remaja (atau pop, dalam istilah umum).

Dalam kedua karyanya ini, juga istimewa dalam kemasan remaja itu, selain tetap konsisten dengan pola bahasa puitik sehingga kisah ?remaja? itu tetap punya estetika dari pilihan kata-katanya, terutama dalam pilihan ending.

Bicara akhiran di dalam cerpennya, untuk keseluruhan kumpulan ini, terlihat Akidah lebih memilih akhiran yang ?menggantung?. Dia tak membiarkan tokohnya terbunuh atau membunuh, menjadi juara atau pecundang, mendapat kesedihan atau kegembiraan yang luar biasa.

Akidah lebih memilih menghilangkan tokohnya, atau membiarkan si tokoh bersunyi-sunyi pada akhir cerpennya itu. Atau bahkan bingung, dingin dan tenang setelah menghadapi persoalan yang menegangkan sekalipun. Lihat si tokoh pada cerpen ?Ruang?: ? Dengan kaki gemetar ia melangkah menjauh, memutuskan dalam hatinya untuk hanya kembali memikirkan cita-cita. Tapi tiba-tiba ia terjatuh lemah, meratap tak mengerti arah mana menuju pulang. Semua jalan terlihat sama. Juga pada cerpen ?Lukisan Ayah?: Bingkai-bingkai lukisan Ayah terdengar berderak terlepas. Lautnya menghampar menyambut bulan. Ombak berjalan lembut mencumbui pasir. Tetapi batu karang itu sekarang kosong, tinggal bercak-bercak darah mengering tertiup angin.

Psikologi tetap menjadi kekuatan yang dominan di sela kecenderungan bahasa puitik di karya Akidah. Bila saja dia bisa membiarkan tokoh bahkan latarnya ?lepas tanpa opini?, saya yakin Akidah adalah penulis yang mampu mengungkit dan mengolah persoalan kejiwaan dalam karya-karyanya. Tokoh yang penuh dengan luka, kegetiran, gamang, asing atau terasing, tentu saja ini tidak bisa dihubungkan sebagai paralel atau negasi. Hal itu bila merujuk pada pendapat bahwa karya ?konon? adalah mimesis, tiruan dari realitas dari kehidupan penulisnya. Misalnya, Akidah dengan latar keperempuanannya sehingga jadi peka, Akidah dengan latar belakang lingkungan, masyarakat atau keluarga, atau bahkan kisah bisa jadi kebalikan dari latar pengarangnya. Si penulis dan teks sastranya, sama-sama punya risiko dibaca oleh penikmatnya, serupa cermin.

Bukankah karya sastra pun bisa dilepaskan dari biografi pengarang? Sekali pun saya sebenarnya tak setuju dengan pendapat pengarang sudah mati.

* Tulisan ini disampaikan di Aula Buya Hamka, Al-Azhar, Minggu, 24 Oktober 2004.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*