Di Manakah “Kedalaman” Novel Nubuat(?)

Marhalim Zaini *
riaupos.com

Dari berbagai pengalaman bacaan saya yang serupa itu, maka kini saya sedang berhadapan dengan novel Nubuat karya Gde Agung Lontar. Novel yang mengisahkan tentang perjalanan/petualangan seorang tokoh lelaki muda bernama Awang, dari kampung halamannya (yang oleh pengarang cukup dinamai dengan Parit 0 (?) sampai Parit 40, menuju ke tempat-tempat yang kelak membawa tokoh ini mencapai keinginannya untuk menjadi hulubalang istana. Continue reading “Di Manakah “Kedalaman” Novel Nubuat(?)”

Jalan Setapak Berduri

Nirwan Dewanto
majalah.tempointeraktif.com

LUKISAN pemandangan gaya Hindia Molek telah memukau saya di masa kecil, tapi perlahan-lahan saya tahu bahwa keindahan semacam itu hanya menjadikan saya seorang penggirang palsu, pemuja buta negeri sendiri. Perihal sastra (berbahasa) Indonesia sepanjang 2003, saya tak mampu membentangkan lukisan jelita. Menelusuri lanskap penulisan itu niscayalah mengungkai royan dan cedera pada diri sendiri. Kenapa gerangan kita masih mencipta bila khazanah dunia adalah lautan tak berhingga karya gemilang? Untuk sekadar mempertebal polusi-ataukah menambahkan kecemerlangan pada wajah dunia? Continue reading “Jalan Setapak Berduri”

Gincu Merah Sastra Pesantren

Binhad Nurrohmat
http://www.suarakarya-online.com/

Banyak pihak yang “ringan kata” menyebut istilah “Sastra Pesantren” tanpa menjelaskannya – seperti menyebut istilah baku. Bahkan ada yang cerewet mengabarkan adanya genre sastra pesantren, kanon sastra pesantren, ledakan sastra pesantren, maupun industri sastra pesantren seakan-akan sastra pesantren sudah menjadi tradisi yang kukuh dan dahsyat kiprahnya. Padahal istilah sastra pesantren pun belum pernah jelas pengertiannya secara kesusastraan, tapi kadung dirayakan sebagai istilah eksotis yang seolah sudah beres secara terminologis. Continue reading “Gincu Merah Sastra Pesantren”

Bahasa ยป