Suara Lokal dalam Sastra Indonesia

Asarpin *
lampungpost.com

SEJARAH kesusastraan abad ke-20 sangat dipengaruhi interaksinya dengan kolonialisme. Pada dasawarsa pertama Orde Lama, sastra Indonesia diwarnai sikap yang mendua: Sikap antara keharusan mengembangkan nilai-nilai lokal dan kekhawatiran terhadap identitas di baliknya. Ini berbeda dengan kenyataan yang terjadi di India dan Afrika, di mana sastra lokal pada 1950–1960-an menjadi strategi perlawanan terhadap kanon sastra Eropa. Continue reading “Suara Lokal dalam Sastra Indonesia”

Suara Lain dari Seberang

Bagja Hidayat
http://www.ruangbaca.com/

Sekumpulan tulisan yang menyerang sanjung-puji para kritikus terhadap para penulis perempuan Indonesia mutakhir. Argumentasinya mantap.

Dalam lima tahun terakhir ladang sastra kita ramai oleh gunjingan telah terjadi krisis kritik sastra. Mutu kritik dituding tak bisa mengimbangi membanjirnya karya sastra sebagai objek kritik dengan tumbuhnya media massa dan penerbitan. Pendeknya, kritik sastra kita, sebagai sebuah ranah sastra tersendiri, sudah mati. Continue reading “Suara Lain dari Seberang”

Masa Lalu Ada di Sini

Maria Hartiningsih
http://kompas-cetak/

Tragedi Mei di satu sisi juga membangkitkan solidaritas lintas ras, kelas, agama, dan etnis. Masa-masa itu juga merupakan kebangkitan intelektual, khususnya perempuan, untuk menolak rasisme dan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Meskipun pengungkapan mengenai kasus-kasus pemerkosaan masih tetap sulit, dan teror serta ancaman masih terus dilancarkan, banyak penulis, penyair, artis, pekerja seni, melahirkan karya- karyanya untuk mengekspresikan keprihatinan mereka dan menyelenggarakan kegiatan kebudayaan. Continue reading “Masa Lalu Ada di Sini”

Realisme Dalam Puisi Kita Kini

Indra Tjahyadi *
sinarharapan.co.id

Beberapa tahun belakangan ini kita disuguhi pemadangan terlalu banyaknya realisme dalam puisi kita. Hampir setiap bulan, bahkan minggu, pemandangan puisi yang muncul dihadapan kita sesak benar dengan realisme. Hal ini jelas berbeda apabila kita bandingkan dengan keadaan pemandangan puisi yang merebak pada kisaran era pertengahan tahun 1980-an sampai dengan awal 2000an. Continue reading “Realisme Dalam Puisi Kita Kini”

Kegelisahan Metafisik Ibnu Wahyudi

Asep Sambodja
oase.kompas.com

Sebelum membicarakan puisi-puisi Ibnu Wahyudi dalam kumpulan puisi keduanya, Haikuku (Jakarta: Artiseni, 2009), saya ingin mengutip artikel Matsumoto Yoshiyuki yang berjudul Kalong Taman Firdaus: Catatan Perjalanan Kaneko Mitsuharu ke Malaya dan Hindia Belanda yang dimuat dalam buku Dari Botchan sampai Kalong Taman Firdaus yang disunting Jonnie Rasmada Hutabarat (Depok: FIBUI, 2007), untuk ?merasakan? sastra Jepang, mengingat haiku berasal dari negeri sakura itu. Continue reading “Kegelisahan Metafisik Ibnu Wahyudi”

Bahasa ยป