Diksi yang Genit dari Joko Pinurbo

Alex R. Nainggolan
http://www.lampungpost.com/

PRODUKTIVITAS penyair Joko Pinurbo memang tinggi. Setidaknya, sudah lima kumpulan puisinya terbit, yakni Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacar Kecilku (2002), Trouser Doll (2002), Telepon Genggam (2003). Yang teranyar ialah Kekasihku (2004).

Pun ternyata Joko menjaga diksi-diksinya senantiasa penuh gurauan, cibiran terhadap tingkah asmara dan kelakuan manusia. Cibiran yang penuh dengan guyon, kesedihan yang dibalut dalam rangkaian kalimat sederhana, membuat puisi-puisi yang dilahirkan, meminjam Nirwan Dewanto: mengasah otak dan perut. Continue reading “Diksi yang Genit dari Joko Pinurbo”

Pinurbo dan Dinar

Nirwan Dewanto *
majalah.tempointeraktif.com

SETIAP akhir tahun saya merasa lara dan terkutuk sebab saya tahu tak banyak karya sastra dalam bahasa nasional kita dalam setahun itu yang layak dikenang. Sebagian besar hanya akan tinggal sebagai bahan dokumentasi. Juga sepanjang 2002. Namun, takut menjadi anak durhaka di kampung halaman sendiri, saya berusaha toleran terhadap mutu sastra, lalu menghibur diri: lihat, bakat baru terus bermunculan. Ajaib, masih ada yang bisa meloloskan diri dari mediokritas yang kian merajalela dalam masyarakat saya. Bagaimana mungkin negeri yang tenggelam dalam kelisanan ini masih bisa menghasilkan penulis unggul? Continue reading “Pinurbo dan Dinar”

Jawa Timur: Geografi Puisi yang Terlupakan

Indra Tjahyadi *
suarakarya-online.com

Entah mengapa di dalam lapangan perpuisian Indonesia keberadaan penyair Jawa Timur acapkali dilupakan. Sebagai contoh, sebut saja nama Aming Aminoedhin. Padahal penyair Jawa Timur yang bernama asli Mohammad Amir Toha, yang dilahirkan di kota Ngawi, 22 Desember 1957, ini pada era-era tahun 80-an sampai dengan awal tahun 90-an merupakan seorang penyair yang keberadaannya dalam lapangan perpuisian Indonesia cukup menarik perhatian. Continue reading “Jawa Timur: Geografi Puisi yang Terlupakan”

Berburu Puisi Besar

J. Djoko S. Passandaran*
http://www.kr.co.id/

KRITERIA besar kecil sebuah puisi tidak ditentukan oleh banyak dan sedikitnya larik dan baitnya. Juga bukan lantaran penyair mapan dan penyair belum-mapan yang menulisnya. Sesuatu yang secara harfiah tampaknya sederhana, ternyata tidak sesederhana itu penjelasannya. Continue reading “Berburu Puisi Besar”

Bahasa ยป