Jejak Sang Imam

Gusriyono, Esha Tegar Putra
Padang Ekspres, 21 Des 2008

DI senja usianya, lelaki tua itu masih bersetia dengan kalam, dawat, dan kertas. Dengan penuh ketelitian ia celupkan kalam ke botol dawat, berhati-hati ia mengangkat tangannya kembali, agar dawat tak tumpah. Perlahan ia goreskan kalam yang berdawat itu ke atas kertas di depannya. Mulailah ia bersitekun menulis ajaran tasawuf yang telah melekat pada dirinya dengan aksara Arab, bukan karena buta huruf latin. Siang itu, selepas Zuhur, di sebuah Surau di tepi batang air yang jauh dari hiruk pikuk kota. Continue reading “Jejak Sang Imam”

Membendaharakan Kata, Memaknai Bahasa

(Menelisik himpunan puisi Jantung Lebah Ratu, Nirwan Dewanto)
Esha Tegar Putra
http://www.riaupos.com/

Barangkali ungkapan Hans Robert Jauss dalam Toward and Aesthetic of Reception (1982) mengenai karya sastra seibarat orkestra memberikan resonansi baru, membebaskan teks dari belenggu bahasa, menciptakan konteks penerimaan bagi pembaca masa kini, berlaku untuk membaca perpuisian Indonesia dewasa ini.

Jauss juga beranggapan, sifat diagonal karya sastra yang seibarat orkestra tersebut, memungkinkan pembaca mengapropiasikan penerimaan masa lampau, pengabaian, bahkan penolakan. Continue reading “Membendaharakan Kata, Memaknai Bahasa”

Bahasa ยป