Sajak-Sajak Esha Tegar Putra

http://www.suarakarya-online.com/
Lekuk Harau

lekuk harau, lembah raja putih
peristiwa selalu berupa kabut basahbasah,
nan menelantarkan jalur-jalur akarbasah,
nan menelurkan bunyi-bunyi air

* Solok Biobio, 2008

Bunyi Aur

lembah gagap, suaramu tersabung sengketa kabut
tapi ada yang nikmat, sesuatu yang menjelma bunyi aur tebing
angin menyahut, gemerisik daun kering seolah bersyair
tentang jalan lamasuaramu lalu-lalu, mengendap begitu sajaja
di hitungan pagi tanpa nama hari

* Solok Biobio, 2008

Jarak Cinta
– Sudarmoko

sebab jarak kini cuma desau angin yang dipecah ombak pesisir panjang.
setarikan nafas mudah saja melepas serupa bahasa lama
yang tuntas sekali bahas di secarik kertas bekas
tentu saja tak ada yang bakal melupa asal, tempat belajar
berkata-kata, tempat gelak tertahan dan tangis disengaukan.
tapi cinta kira-kira kini terserak di mana? di pekan jumat kah?
atau di lapis bukit sana “di batang pinus rimbun
yang cepat berganti kulit”
ah, cinta kini kukira cuma berupa bisik yang gemanya
tersangkut di pusaran aneh dada para pujangga
sekali aku ikut membahasakannya, ia raib menyuruk entah kemana.
kali saja kau akan menyebut ini gila yang sengaja dicari.
tapi itu cinta kini, terlalu diam jika dikaji.
teramat sepi jika dibagi
ke surau, cinta dicari, kata alam. aku selalu lancang
meminang subuh ke arah lebuh. berlarian membawa suluh kecil
dengan pucuk mata menuju kelam yang belum sempurna susutnya
jadi kirimkan aku sebuah cinta dari sana, peneman sepi
yang sudah teramat ini. kirimkanlah dari jauhmu
dari jarak yang tentu saja tak bisa dihitung jauhnya
dengan jemari yang sepuluh ini

* Siteba, 2008

Ladang Jamur

dibuang, aku jauh…ladang kata, ladang makna,
ladanglah segala, adakah tumpak tanah yang lebih hebat rebahnya
daripada ladang? adakah tampuk kayu lebih lekuk simpangnya
daripada ladang?
tapi yang menghujamdari pusaran angin limbubu juga ladang
“baiklah jamur, tumbuhlah, lagakmu ramai benalu rumpun
yang tak pasti jadi dalam tidur para perupa lama
dalam lempung yang dikirim bahasa kayu di tiap patahanmenyiksa”
yang bersongkok kepalanya itu, mak, menabuh daun bawang,
merebut tiap kelopak masam dan berharap di antara parak siang
menyisa peristiwa senja yang amat dalam kenangannya.
tapi aku beranjak dari tingkahan bunyi sendok dan kuali kosong
di tunggu setengah padam. tetaplah jamur yang didapat,
dikelubik dari patahan kayu ladang. menggulainya seketika
dingin turun dari ujung atap rumah resap ke kering badan
tak mau lagi dibuang, aku jauh…
sebab kumbang sering kali menikam pandang, di tiap
susutnya perjumpaan ladang, itulah bahasa yang paling menyiksa.
tapi adakah tumpak tanah yang lebih hebat rebahnya
daripada ladang? adakah tampuk kayu lebih lekuk simpangnya
daripada ladang?

* Kandangpadati, 2008

Yang Membingkai Lelaki kayu

zinda ruud purnamaaku tak mengerti kenapa puisi terus berputar
melewati bola matamu yang kini dibuncahi bayangan lekaki kayu
sebab harus kau bingkai sesuatu yang sudah berjuntaiterurai.
agar lapuk tak jadi patah dan lepas tak jadi jatuh
di gerah kuta, pasir mengekalkan rindu
orang-orang menebas leher botol wiski sementara kau terus
bersembunyi di balik gundukan kata bekas penyesatan para pemuisi mabuk
dan sebentuk pura, yang tua, yang menyimpan peristiwa lama,
peristiwa yang melambungkan bola-bola api tumbuh dari basah bibirmu
maka lelaki itu, lelaki yang kayu muncul
sebagai laron sepi yang tersesat menujumu,
seakan ia berseru: “lelaki ini bungkam di geraian rambutmu”

* Harau, 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *