Limin Jadi Dukun

Esha Tegar Putra
http://www.riaupos.com/

Tiba-tiba tubuh Limin terlentang, rubuh ke tanah, ia terkulai lemas tidak berdaya. Segelas kopi yang baru saja ingin diseruputnya tertuang membasahi pakaian lelaki paruh baya itu. Di genggaman tangan kirinya kulihat batu, pipih seukuran telur ayam kampung, berwarna hitam dan kesat. Batu itu erat digenggamnya.

Orang-orang di lepau tersentak melihat kejadian yang menyiratkan keanehan tersebut. Sesekali tubuh Limin menggelepar seperti ayam yang baru saja disembelih. Dari mulutnya air liur membusa, matanya membelalak. Continue reading “Limin Jadi Dukun”

Puisi, Eksplorasi Isi, Estika Baru dan Zaman

Esha Tegar Putra*
http://www.padangekspres.co.id/

Ada pendapat menarik yang dikemukakan oleh JJ. Kusni atas pernyataan Sutardji Calzoum Bachri (Tardji) mengenai ?eksplorasi isi puisi? beberapa tahun silam. Tardji menilai perkembangan puisi sangat meriah dan bahkan sudah mulai sangat ramai. Tetapi, eksplorasi isi cendrung berkurang disebabkan tidak adanya penemuan baru. Sebaliknya, JJ. Kusni berpendapat, bahwasanya ?zaman? ketika Tardji meng-otoproklamasi-kan dirinya sebagai ?presiden penyair? berbeda dengan kemajuan perpuisian di Indonesia saat ini. Continue reading “Puisi, Eksplorasi Isi, Estika Baru dan Zaman”

SENI (MAN) JALAN “SENDIRI”

Esha Tegar Putra
padangekspres.co.id

Menyimak tulisan Romi Zarman (RZ), dengan judul Catatan atas Forum Diskusi Sastra Sumbar (Padeks, Minggu, 15/2), membuat saya kembali bertanya-tanya tentang wajah kesenian dan lembaga kesenian Sumbar hari ini. Ya, bagaimanakah wajah kesenian dan lembaga kesenian Sumbar hari ini? Kiranya pada tulisan RZ tersebut, data yang dipaparkan merupakan data faktual dalam kesusastraan Sumbar hari ini, sastrawan dan penyebaran karyanya. Continue reading “SENI (MAN) JALAN “SENDIRI””

Bahasa ยป