SAUT KECIL BICARA DENGAN MABOK DAN BIRAHI *

F. Rahardi

Judul buku kumpulan puisi Saut Situmorang: saut kecil bicara dengan tuhan, ada baiknya kita ubah. Sebab dalam sajak dengan judul sama pada buku tersebut (hal 25), tidak akan kita temukan adanya indikasi “Saut Kecil yang bicara dengan Tuhan”. Baik secara tersurat maupun tersirat (kiasan). Bahkan, keseluruhan 52 sajak yang terkumpul dalam buku ini, tidak mengisyaratkan adanya pembicaraan yang intens antara Saut dengan Tuhan. Yang ada justru bertebarannya kata-kata mabok, alkohol, bir, anggur dan ungkapan-ungkapan kebirahian. Yakni, ungkapan yang berhubungan dengan seksualitas dan sensualitas (voyeurisme). Maka judul paling pas untuk buku ini adalah: Saut Kecil Bicara dengan Mabok dan Birahi. Continue reading “SAUT KECIL BICARA DENGAN MABOK DAN BIRAHI *”

Karya Ilmiah

F. Rahardi *
Kompas, 2 Nov 2013

Dalam Pasal 35 UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan tertulis: ”(1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam penulisan karya ilmiah dan publikasi karya ilmiah di Indonesia; (2) Penulisan dan publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk tujuan atau bidang kajian khusus dapat menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing.” Teks Pasal 35 UU ini secara jelas menunjukkan bahwa ada bentuk tulisan berupa karya ilmiah. Karya tulis populer selama ini dianggap sebagai antonim dari bentuk tulisan karya ilmiah. Continue reading “Karya Ilmiah”

AKROBAT KATA-KATA, KEBOHONGAN

DAN F. RAHARDI
Hamsad Rangkuti
Kompas, 24 Agu 2008

Dalam acara Temu Sastra, Masyarakat Sastra Asia Tenggara di Palangkaraya, yang tidak dihadiri F Rahardi, saya menganjurkan—dan ini memang tugas saya karena saya diundang untuk itu—agar para pengarang muda tidak menghabiskan perhatian dan waktunya untuk main akrobat dengan kata-kata karena ada kecenderungan pada kaum muda—seperti saya waktu muda—untuk cenderung berakrobat dengan kata-kata (Kompas, 15/7). Continue reading “AKROBAT KATA-KATA, KEBOHONGAN”

Ronggeng Dukuh Paruk : Cacat Latar yang Fatal

F. Rahardi
Majalah Horison, Januari 1984

Kesan utama yang segera timbul sehabis baca novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (Gramedia, Jakarta 1982) adalah adanya sebuah latar (setting) yang sangat bagus. Latar tersebut terbentuk suasana alam pedesaan dengan lingkungan flora serta faunanya dan Ahmad Tohari berhasil melukiskannya dengan bahasa yang bagus dan menarik. Kesan yan begitu mendalam terhadap latar tersebut juga lebih diperkuat lagi oleh tidak terlalu luarbiasanya unsur-unsur lain seperti kerangka cerita, tema, alur, karakter tokoh dan lain-lain. Continue reading “Ronggeng Dukuh Paruk : Cacat Latar yang Fatal”