Linus Suryadi Sebagai Korban Kultur Jawa

F. Rahardi
frahardi.wordpress.com

Penyair Linus Suryadi AG (3 Maret 1951- 30 Juli 1999) dalam karya maupun hidup sehari-hari adalah khas stereotip Jawa. Senang perkutut, punya banyak keris tapi takut berkelahi apalagi membunuh. Doyan tongseng kambing meskipun darahnya tinggi dan selalu nrimo. Kepenyairannya dimulai dari tahun 1971. Saat itu Yogya sedang diperintah oleh “Presiden Malioboro” Umbu Landu Paranggi. Dia ini penyair Sumba yang bermukim di Yogya dan mengasuh Persada Studi Klub, lembar sastra dan budaya koran Pelopor. Salah satu anak didik Umbu adalah Linus. Meskipun waktu itu Linus belum apa-apa, sebab yang paling hebat karena puisinya bisa dimuat majalah Horison adalah Iman Budi Santosa. Continue reading “Linus Suryadi Sebagai Korban Kultur Jawa”

Paradoks Pembohong

F Rahardi *
Kompas, 26 Okt 2008

Mereka mempersembahkan makam untukMu, O, betapa suci dan tinggiNya
Orang-orang Kreta selalu berbohong, binatang jahanam, bermalasan dan tertawa-tawa
Tetapi karyaMu tak pernah mati: Kau akan terus hidup dalam keabadian
Dalam diriMu kami hidup dan bergerak, dan bisa memaknai kehidupan kami. Continue reading “Paradoks Pembohong”

Pertunjukan

F. Rahardi
Kompas, 25 Maret 2012

KAMU mengatakan bahwa yang saya persembahkan ini sebuah pertunjukan. Aku tidak setuju, sebab yang kusampaikan ke masyarakat hanyalah gangguan kuping. Aku berharap syaraf-syaraf kuping mereka tersiksa dengan hebatnya, lalu pada menit-menit bahkan detik-detik terakhir mereka akan aku siram dengan gerimis yang sejuk. Continue reading “Pertunjukan”

Akrobat Kata-kata

F Rahardi*
Kompas, 27 Juli 2008

DALAM acara Temu Sastra, Masyarakat Sastra Asia Tenggara di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 14 Juli lalu, cerpenis Hamsad Rangkuti membuat pernyataan bahwa ”Pengarang muda cenderung berakrobat kata-kata”.

Dampak dari akrobat kata-kata ini—masih menurut Hamsad—akan membuat tema karya sastra (prosa) menjadi tersembunyi, bahkan hilang (Kompas, 15/7). Beberapa tahun lalu, Hamsad juga pernah membuat pernyataan yang kontroversial, bahwa sastra = kebohongan. Ketika itu saya mencoba meluruskannya, bahwa sastra yang lahir berdasarkan imajinasi, beda dengan kebohongan. Tulisan saya yang meluruskan Hamsad di Kompas ini kemudian dimuat dalam salah satu kumpulan cerpennya. Continue reading “Akrobat Kata-kata”