Menembak Banteng

F. Rahardi
Kompas, 26 Sep 1993

Bulan September. Suhu udara kota Jakata di siang hari sangat panas. Cuaca berdebu. Gemuruh. Asap knalpot berhamburan di mana-mana. Namun suasana di ruang kerja Jenderal Purnawirawan Basudewo tak terpengaruh udara pengap kota Jakarta. Ruangan itu bersih, sepi dan sejuk. Berada di ketinggian gedung berlantai 23 di Jalan Jenderal Sudirman, suasana kantor itu sangat nyaman. Musik instrumentalia, AC sentral, lukisan Basuki Abdulah, beringin hidroponik dan lantai beralaskan karpet yang empuk dan lembut. Telepon berdering. Continue reading “Menembak Banteng”

Lima Capil F. Rahardi

RAKYAT LEBIH TUA DARI TENTARA

Suatu hari, Rendra diminta berbicara dalam sebuah diskusi terbatas di Balai Budaya Jakarta. Waktu itu dia sedang dicari-cari kesalahannya oleh aparat pemerintah. Maka pas acara diskusi itu, datanglah tentara. Sambil petentengan, Rendra menghampiri tentara itu lalu bertanya, “Ada apa DIK?” Dipanggil “DIK” perwira menengah itu marah. “Saudara memanggil saya DIK?” Continue reading “Lima Capil F. Rahardi”

GATOLOCO DAN DEWI MLENUKGEMBUK

Makalah Kemah Sastra IV Medini

F. Rahardi *

Gatoloco, merupakan tokoh sentral dalam buku dengan judul sama. Lengkapnya judul buku itu Suluk Gatoloco, Kitab Gatoloco, Balsafah (filsafat) Gatoloco. Buku yang menggunakan Bahasa Jawa modern, dengan huruf Jawa ini dan terbit di Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah; pada awal abad 19, atau akhir abad 18 ini merupakan karya seorang penulis anonim. Continue reading “GATOLOCO DAN DEWI MLENUKGEMBUK”