ALI AUDAH


Goenawan Mohamad

Sastrawan Ali Audah meninggalkan kita seperti jejak di pasir yang dihapus angin.

Tapi agaknya memang seharusnya demikian kematian manusia. Tanpa genderang, tanpa tanda seru, hanya ikhlas untuk lewat dari ada ke dalam tak-ada. Juga, sepenuhnya cocok dengan Ali Audah. Ia tak hendak tampil di forum-forum, lebih sering diam di rumah di antara buku-bukunya, bicara lirih dan sangat sopan.

Bahwa ia dikenal sebagai penerjemah menunjukkan bahwa ia — sebagaimana umumnya penerjemah — bersedia tak dikenal seraya, pada saat yang sama, membuat karya orang lain dibaca orang banyak.

Penerjemah ulung ini bisa membuat orang lupa, bahwa ia pada dasarnya seorang sastrawan. Ia pernah menulis puisi di tahun 1940-an. Ia juga penulis cerita (“Jalan Terbuka”, “Icih”, “Malam Bimbang”).

Memang, dalam usia lanjutnya karyanya lebih bersangkutan dengan agama Islam (“Konkordansi Qur’am”, “Dari Khazanah Dunia Islam”, “Ali bin Abi Talib sampai kepada Hasan dan Husain”, “Ibn Khaldun: Sebuah Pengantar”, “Abu Bakar as-Siddiq” dan lain-lain). Ia juga menerjemahkan karya Iqbal terkenal, “The Reconstruction of Religious Thought in Islam”, dan yang juga mengagumkan dua jilid karya Abdullah Yusuf Ali, “Qur’an: Terjemahan dan Tafsirnya”, masing-masing 750 halaman. Dan yang paling laris: terjemahan karya Muhammad Husain Haikal, “Sejarah Hidup Muhammad”. Saya dengar buku ini dicetak sampai lebih dari 15 kali.

Tapi sastra memikatnya sejak mula. Sebelum ia menerjemahkan dan menulis buku-buku yang hubungannya dengan agama (Islam): antara lain “Theseus” Andre Gide. Bahkan mula-mula ia belum tertarik menerjemahkan karya Timur Tengah: ia mulai memanfaatkan kemahiran bahasa Arabnya karena anjuran Asrul Sani. Dari sini lahir alibahasa atas “Lorong Misdaq” Najib Mahfuz. Juga karya dari Aljazir dan lain-lain.

Dalam arti tertentu, ia ajaib. Cendekiawan yanhg pernah mengajar di perguruan tingg ini bukan seorang yang datang dari pendidikan sekolah apapun. Saya kutip tulisan Boediman S. Hartojo tentang Ali Audah:

“Pada tahun 1930-an, pada zaman kolonial Belanda itu, ia hanya sempat belajar huruf Latin dari kawan-kawan sepermainan. “Saya belajar membaca dan menulis dengan mencoret-coret huruf di tanah sambil main gundu,” tuturnya. Selebihnya, ia bermain layang-layang atau mandi di kali seperti layaknya anak-anak bengal. ”

Mungkin ia satu-satunya orang Indonesia yang mendidik diri sendiri setekun itu dan seberhasil itu.

Yang paling saya ingat ialah ketika ia menerbitkan kumpulan puisi saya yang pertama, “Pariksit”. Kemudian: hari-hari ketika ia meminta bantuan Taufiq Ismail dan saya menerjemahkan karya filosof dan sastrawan Pakistan, Mohammad Iqbal, “The Reconstruction of Religious Thought in Islam”.

Kepercayaannya membuat saya nekad. Bahasa Inggris saya biasa-basa saja, dan syukur ada Taufiq Ismail yang pernah, di waktu SMA, tinggal di AS. Dasar filsafat kami berdua tak jelas. Tapi Ali Audah begitu murah hati: buku Iqbal itu kami kerjakan bertiga — dia sendirian bekerja, Taufiq Ismail dan saya bergotong royong, Selama beberapa hari saya menginap di tampat Taufiq di Bogor, tak jauh dari rumah Ali Audah.’

Saya tak bisa menilai bagaimana hasil terjemahan kami. Mungkin perlu direview, setelah lebih dari 40 tahun. Tapi saya merasa mendapat pengetahuan baru tentang Iqbal dan Islam yang membekas sampai hari ini.

Sebagaimana ditafsirkan Iqbal, manusia adalah khalifah di atas bumi –wakil Tuhan, yang dipercaya dengan kemerdekaan (“kemerdekaan ego insani”). Syaitan menentang desain Tuhan ini. Tapi dia, dengan praduganya yang negatif tentang manusia, tak didengar.

Dari sinilah dasar pikiran untuk selalu merawat kebebasan berfikir dan bersuara, dan untuk melihat manusia bukan sebagai tempat dosa bersembunyi. Adam diturunkan ke bumi, kata Iqbal, bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai kepercayaan.

Sehubungan dengan kepercayaan itu, bagi Iqbal, hukuman yang kekal tak ada: neraka itu ciptaan, ia makhluk, fana dan terbatas.

Sayang sekali, tentang soal ini kami tidak berdiskusi atau membahasnya. Terjemahan selesai, dicetak, diedarkan — tanpa kontroversi.

Setelah itu, saya ke Eropa.

Saya kembali dekat dengan Ali Audah setelah bergabung dengan Majalah Horison. Para pendiri majalah sastra itu antara lain Ali Audah, Mochtar Lubis, Taufiq Ismail, Arief Budiman, Zaini, P.K Ojong. Saya orang baru di situ. Tapi kami — bersama keluarga — jadi akrab karena sering bertemu di rumah Mochtar Lubis di Puncak, berapat dan istirahat.

Sayang sekali, karena beberapa hal, “kumpul-kumpul” itu retak.

Tapi Ali Audah tetap sahabat yang tak bisa dilupakan. Saya bersyukur saya bisa ikut merayakan jasanya di sebuah acara di Teater Salihara, beberapa bulan sebelum ia wafat. Semoga Tuhan memberinya tempat yang layak — tempat bagi seorang yang amat baik.

8 Agu 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *