Surat kepada Seorang Teman yang Mencemooh Indonesia

Goenawan Mohamad
majalah.tempointeraktif.com

Indonesia tak akan pernah lahir baru dalam satu kuartal. Jika Bung berpikir bahwa sebuah perubahan yang besar akan terjadi dalam waktu 100 hari, inilah yang harus saya bisikkan kepada Bung: angka “100” di sini mirip dengan “1001 malam” atau “langit ketujuh”: bilangan yang lebih bersifat retoris ketimbang matematis. Kita tak dapat menggunakannya sebagai mistar pengukur. Kita hanya dapat memperlakukannya sebagai pembangkit imajinasi. Continue reading “Surat kepada Seorang Teman yang Mencemooh Indonesia”

Titorelli

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

PADA usia ke-30, seorang kerani bank ditahan oleh dua petugas. Namanya Joseph K. Dengan itulah novel Kafka yang termasyhur itu bermula: sebuah cerita yang dikisahkan dengan cara datar tentang sesuatu yang sebenarnya tak datar, sesuatu yang gila, merisaukan, tapi pada saat yang sama terdengar benar. Der Prozess (“Proses”) adalah sebuah dongeng tentang sebuah situasi yang berlubang menjurang di mana keadilan dibicarakan tapi tak pernah hadir. Continue reading “Titorelli”

Melodrama

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Politik terkadang butuh melodrama. Pada saat-saat tertentu ia sebuah melodrama tersendiri bahkan. Seperti dalam sinetron yang silih berganti kita saksikan di TV-lakon-lakon yang itu-itu juga, Kitsch yang tanpa malu memperdagangkan ajaran budi pekerti yang simplistis-politik sebagai melodrama bisa juga bicara tentang “moral” dan pada saat yang sama, tak meyakinkan. Continue reading “Melodrama”

Goenawan Mohamad: Tentang Puisi dan Pemikiran

Asarpin *

Dua hal akan dengan gampang dikorbankan dalam krisis ekonomi yang seberat ini, di samping tenaga buruh, itu adalah seni dan pemikiran. Keduanya sudah pasti bukan termasuk bahan pokok. Keduanya juga lebih sering memakan beaya ketimbang menjadi sumber dana. Keduanya tak jarang merisaukan.

–GOENAWAN MOHAMAD, “Menangkis Negara, Menangkal Pasar”, dalam Utan Kayu Tafsir Dalam Permainan, Kalam, Jakarta : Agustus 1998, h. ix Continue reading “Goenawan Mohamad: Tentang Puisi dan Pemikiran”

La Victime

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Yang jadi soal pada mulanya bukanlah maaf dan rekonsiliasi, melainkan kerendahan hati.Saya membayangkan wajah angkuh seorang laki-laki Arab di abad ke-6 yang menghunus pedang ke dekat leher Muhammad, yang sendirian di tengah malam itu, dan bertanya, “Siapa yang akan bisa melindungimu?” Saya membayangkan wajah itu terkejut, dan pedangnya terlepas, jatuh, ketika Sang Rasul, dengan suara tenang, menjawab, “Allah”. Continue reading “La Victime”

Bahasa ยป