“Lalu Waktu, Bukan Giliranku…”

Goenawan Mohamad
http://tempointeraktif.com/

Seribu tahun, seratus tahun: dalam soal waktu, hitungan-hitungan besar membuat kita kecut. Umur rata-rata seorang manusia tak pernah mencapai jumlah seraksasa itu. Tiap kali kita tercenung di depan buku agenda pribadi yang hampir habis, milenium dan abad tampil dengan sosok yang tak terjangkau. Keduanya adalah fenomena kebersamaan. Continue reading ““Lalu Waktu, Bukan Giliranku…””

Dipalsukan

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

KENAPA sejarah sering terasa palsu di Indonesia ini? Penjelasan yang biasanya diberikan ialah: karena kita tak punya alam pikiran Barat. Kita adalah, untuk memakai kata-kata seorang penelaah hikayat raja-raja Melayu, orang-orang yang “secara liar tak tahu dan tak toleran” kepada “kebenaran sejarah”. Continue reading “Dipalsukan”

Besi

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Tuhan, dalam bayangan mereka, adalah Tuhan yang menaklukkan. Ia adalah Tuhan dengan tangan besi.

Di Amerika mereka menyebut diri kelompok Rekonstruksionis. Ada juga yang lebih jauh, dan menyebut diri Christian Identity. Di Israel mereka adalah Gush Emunim dan bersama itu kaum “Kookis”. Di pelbagai negeri mereka adalah Jihad Islam. Di Indonesia mungkin punya nama lain. Mereka tidak satu. Bahkan bisa bertentangan dengan sengit. Tapi sebenarnya mereka berdekatan. Continue reading “Besi”

Jakarta, 10 September 2004

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

– sepucuk surat untuk Sultan Alief Allende dan Diva Suki Larasati, yang ditinggalkan ayah mereka.

Kelak, ketika umur kalian 17 tahun, kalian mungkin baru akan bisa membaca surat ini, yang ditulis oleh seorang yang tak kalian kenal, tiga hari setelah ayahmu meninggalkan kita semua secara tiba-tiba, ketika kalian belum mengerti kenapa begitu banyak orang berkabung dan hari jadi muram. Kelak kalian mungkin hanya akan melihat foto di sebuah majalah tua: ribuan lilin dinyalakan dari dekat dan jauh, dan mudah-mudahan akan tahu bahwa tiap lilin adalah semacam doa: “Biarkan kami melihat gelap dengan terang yang kecil ini, biarkan kami susun cahaya yang terbatas agar kami bisa menangkap gelap.” Continue reading “Jakarta, 10 September 2004”

Maharaja

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Ada sebuah dongeng Hans Christian Andersen yang sering dikutip sepotong tapi kemudian dilupakan, tentang seorang maharaja yang amat sibuk dengan satu cita-cita: berdandan bagus. Yang dipikirkannya hanya bagaimana berkereta sepanjang jalan, memperlihatkan pakaian model terakhir.

Syahdan, dua orang penipu datang menawari sang maharaja seperangkat busana yang lain dari yang lain: terbuat dari kain yang ditenun dari serat ajaib, begitu halus, hingga hanya dapat dilihat oleh mereka yang pintar dan yang layak berkedudukan. Continue reading “Maharaja”

Bahasa ยป