Kota, Waktu, Puisi

Goenawan Mohamad
http://www2.kompas.com/

Perlu ada imajinasi arsitektural yang hendak merayakan nostalgia sebagai kesadaran puitis tentang masa lalu yang intim. Dengan demikian, sebuah kota membutuhkan sebuah “sajak panjang” dan tak hanya harus didirikan dengan ketidaksabaran.

Agaknya ada hubungan yang tersembunyi antara kesusastraan Indonesia, kota, dan sejarah. Hubungan itu tidak lazim dibicarakan, namun sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa jika kita ingat akan Revolusi Agustus, ketika dari Jakarta “Indonesia” dimaklumkan, dan sebuah negara-bangsa berangkat dari pertengahan abad ke-20. Continue reading “Kota, Waktu, Puisi”

Politik-P

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

DI bilik suara itu aku tertegun: di sini aku sendiri, satu di antara jutaan suara lain, satu noktah di dalam arus 170 juta manusia, mungkin patahan bisik yang tak akan terdengar. Ini sebuah pemilihan umum; statusku: sebuah angka.

Di ruang yang sempit itu, beberapa menit aku menatap lembar-lembar kertas yang diberikan kepadaku. Sederet gambar. Sejumlah nama. 99% tak kukenal. Kalau ada yang kukenal, ia terasa berjarak dari diriku. Continue reading “Politik-P”

Pes

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/i

Albert Camus, pengarang yang menulis La Peste tak bisa menerima front pembebasan nasional Aljazair yang melempar bom ke khalayak kulit putih sipil. Camus menolak politik dan mendukung moralitas. (ctp)
SAYA pernah berkenalan dengan seorang profesor yang punya anjing besar dan pacar Prancis yang cantik di sebuah kota di Australia. Mereka (kecuali anjingnya) tampaknya selalu punya perhatian biarpun sedikit, tentang cendekiawan Indonesia dan keanehan-keanehannya. Dalam suatu jamuan makan, sang pacar Prancis berkata tentang salah satu keanehan itu, “Saya heran bahwa Anda di Indonesia sangat menyukai Albert Camus.” Continue reading “Pes”

Herman

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Potret itu dipajang berderet-deret, hampir di tiap pohon. Tapi di manakah Herman? Tiba-tiba saya ingat dia. Ia tak pernah kembali. Sepuluh tahun lebih, sejak ia hilang pada 12 Maret 1998. Orang banyak sudah lupa akan kejadian itu, orang mungkin bahkan lupa ada nama itu, nama seorang yang diculik, terutama karena Herman tak dikenal luas. Saya juga tak mengenalnya betul?dan memang tak harus mengenalnya betul. Continue reading “Herman”

Karnivalesk

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Seorang pengamen, dengan rambut gondrong dan gigi gingsul, dengan jaket yang penuh ditempeli kancing bergambar, memainkan gitarnya di sebuah tepi jalan di Tangerang. Namanya Herdy Aswarudi. Dia calon legislator dari Partai Bulan Bintang. Menurut harian The Jakarta Post, ia bukan sedang cari duit derma; ia, seorang pangamen, sedang berkampanye. Continue reading “Karnivalesk”