Yang-Lain

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Beberapa saat sebelum ia tewas, Karna tahu ia akan kalah. Dan ia akan kalah dengan kesadaran yang pahit: ia akhirnya memang bukan apa-apa. Ia merasa diri telah bertempur dengan keberanian seorang pendekar perang, tapi siapakah dia sebenarnya? Bukan seorang dari keluarga Kurawa yang dibelanya. Bukan seorang ksatria seperti para pangeran di pertempuran di Kurusetra itu. Ia hanya seorang yang, ketika terpojok, tak bisa membaca lengkap mantra yang mungkin akan menyelamatkannya dari panah Arjuna. Continue reading “Yang-Lain”

Usia Tua Menampakan Kegilaan

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

PAK Raden masih berjalan tegak bagaikan tokoh dalam film boneka Si Unyil. Dia ulet menampik keuzuran. Berapa umurnya? Kita tak tahu. Kubur mungkin sudah harus digali tapi Pak Raden masih meneruskan joggingnya ke masa depan bagaikan tengah mengikuti Proklamathon. Barangkali dia memang alpa akan proses menua. Barangkali juga ia bisa disebut “orang yang tak tahu diri.” Tapi dia bisa juga dipuji sebagai orang yang bersyukur. Continue reading “Usia Tua Menampakan Kegilaan”

B.O.

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

POTRET yang tertinggal dari awal abad ke-20 itu menggambarkan Mas Wahidin Sudirohusodo seakan-akan bagian dari Jawa yang lembek. Atau jinak. Ia tak tampak cakrak, dengan kepala bangga. Ia malah terkesan mengambil postur seorang yang sopan sekali. Tak ada kumis yang perkasa. Blangkon di kepalanya tampak ditimpa waktu. Continue reading “B.O.”

Sang penyair dan sang panglima [W.S. Rendra]

Goenawan Mohamad
majalah.tempointeraktif.com

PADA suatu malam Agustus 1970 W.S. Rendra ditahan. Ia, bersama 10 orang lain, bersemadi di petak rumput di tengah Jalan Thamrin, Jakarta. Malam itu beberapa ratus mahasiswa menyiapkan secara massal aksi “Malam Tirakatan”, sementara gabungan pasukan bersenjata bermaksud menggagalkannya. Bentrokan kekerasan dikhawatirkan. Continue reading “Sang penyair dan sang panglima [W.S. Rendra]”

Eumenides

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

KITA kira-kira tahu dari mana datangnya hukum, tapi tahukah kita dari mana datangnya keadilan?

Hukum memang dimaksudkan sebagai aktualisasi dari “rasa keadilan”. Kata “rasa” di sini sebenarnya lebih dekat ke arah “kesadaran”. Dengan catatan: kesadaran akan keadilan itu tak hanya sebuah produk kognitif, hasil proses pengetahuan, melainkan juga tumbuh melalui proses penghayatan. Dengan kata lain, sebagai aktualisasi, hukum adalah ibarat realisasi dari hasrat yang kita sebut “rasa keadilan” itu. Continue reading “Eumenides”

Bahasa ยป