Usinara

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

ALKISAH, seekor burung deruk yang luka terbang, panik, ketakutan, dan putus asa. Di belakangnya seekor lang memburu. Terdesak, deruk itu pun menerobos masuk lewat sebuah tingkap, dan terjatuh di sebuah bilik yang lengang.

Di ruang puri itu, Raja Usinara sedang duduk, membaca, hanya ditemani dua orang abdi. Continue reading “Usinara”

Goenawan Nilai Pram Egois

Diskusi Sastra Karya Pramudya
Syarifudin
http://www.suarakarya-online.com/
baca ini http://www.sastra-indonesia.com/2010/06/pertukaran-pendapat-antara-goenawan-mohamad-dan-pram/

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer telah meninggal dunia, 30 April 2006 lalu. Jasadnya pun telah dikebumikan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Bagaimana dengan karya-karya sastra yang telah dilahirkannya? Apakah ikut “terkubur” seiring meninggalnya novelis kelahiran Blora, 6 Februari 1925 itu? Jawabnya, “Tidak!” Continue reading “Goenawan Nilai Pram Egois”

PERTUKARAN PENDAPAT ANTARA GOENAWAN MOHAMAD DAN PRAM

http://www.facebook.com/note.php?note_id=67181919697
NB: betapa superfisialnya retorika Neo Pujangga Baruisme Goenawan Mohamad dibanding bahasa otobiografis Pramoedya Ananta Toer! Kita bisa gampang menilai siapa yang cuma berbasa basi dalam pertukaran pendapat di bawah!!!
-saut situmorang
==============

Surat Terbuka buat Pramoedya Ananta Toer
TEMPO, Edisi 000409-005/Hal. 96 Rubrik Kolom Continue reading “PERTUKARAN PENDAPAT ANTARA GOENAWAN MOHAMAD DAN PRAM”

Sepatu

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

2x 2 = 4. Hitungan itu jelas. Tapi di tengah-tengah demonstrasi mahasiswa di tahun 1965-1966, penyair Taufiq Ismail menulis, “2 x 2 mudah-mudalan sama dengan 4.” Hampir seperempat abad berlalu sesudah itu. Kita mulai lupa bahwa sebuah arimatik sederhana bisa menjadi tidak sederhana. Kebenaran yang bersahaja pernah bisa menjadi meragukan, tapi kita tak bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Continue reading “Sepatu”

Bahasa ยป