“juru peta” sastra Indonesia [Hans Bague Jassin]

“Buku-buku para Manifestan dilarang terbit dan beredar.” H.B. Jassin
Leila S. Chudori
http://majalah.tempointeraktif.com/

DI samping mendapat julukan “Paus” Sastra Indonesia, Hans Bague Jassin juga dipanggil administrator dan diktator sastra. Ia pernah memukul Chairil Anwar. Dihukum 1 tahun penjara gara-gara cerpen Langit Makin Mendung. Inilah orang yang telah menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia. Lahir di Gorontalo, 31 Juli 191 7, mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Indonesia, juru peta sastra Indonesia yang tak pernah lelah. Continue reading ““juru peta” sastra Indonesia [Hans Bague Jassin]”

Quran berwajah puisi

Julizar Kasiri, Ivan Haris, Leila S. Chudori
http://majalah.tempointeraktif.com/

SEBUAH upaya memuliakan Quran terhenti di tengah jalan. H.B. Jassin, penulis terjemahan Quran berjudul Quran Bacaan Mulia, ingin menerbitkan Quran yang ditulis mirip susunan puisi. Ia pun sudah mempersiapkan judulnya, Al Quran Berwajah Puisi. Tapi baru 10 juz dikerjakan, muncul imbauan supaya kreasi itu tak dilanjutkan. Itu, ”mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya,” menurut ketua Lajnah Pentashih Mushaf Al Quran, lembaga yang berwenang mengesahkan penerbitan Quran. Continue reading “Quran berwajah puisi”

Perjalanan batin yang puitis

H.B. Jassin
http://majalah.tempointeraktif.com/
DARI MOCHTAR LUBIS HINGGA MANGUNWIJAYA
Oleh: Th. Sri Rahayu Prihatmi
Penerbit: Balai Pustaka, Jakarta, 1990, 131 halaman

DALAM kumpulan pembahasan ini dibicarakan karya Mochtar Lubis, Nasjah Djamin, Umar Kayam, Nh. Dini, Putu Wijaya, Kuntowijoyo, Achdiat Kartamihardja, Mangunwijaya, dan beberapa yang lain.

Pembicaraan yang kritis mengenai karya-karya itu didahului dengan pembicaraan mengenai cerita rekaan pada umumnya, yang sekaligus memperingatkan cara pendekatan penulis terhadap karya-karya yang dibicarakan. Continue reading “Perjalanan batin yang puitis”

Sosok HB Jassin

Budi Darma
http://www2.kompas.com/

HB JASSIN dan Chairil Anwar lahir pada saat yang tepat, karena itu saling ketergantungan antara mereka kemudian berhasil memberi warna indah dalam perkembangan sastra kita. Seandainya mereka tidak muncul bersama pada tahun 1940-an dan 1950-an, warna perkembangan sastra kita mungkin akan berbeda. Tahun 1940-an dan 1950-an adalah tahun-tahun menjelang kemerdekaan dan pascaperang kemerdekaan, sehingga, dengan demikian, peran letupan-letupan intuisi dalam seni, khususnya sastra, menjadi sangat menonjol. Continue reading “Sosok HB Jassin”