Dieter Mack dan Suara Selandia Baru

Ibnu Rusydi
http://www.korantempo.com/

Twitter terdiri atas tiga movement. Ini adalah tafsir Robin Toan terhadap bebunyian burung-burung di sebuah taman.
Komponis asal Jerman yang pernah lama tinggal di Indonesia itu menampilkan karyanya dan karya-karya komponis Selandia Baru.
Dua saksofon berbeda ukuran itu menyuarakan bunyi seperti orang berselisih. Yang satu melengking merepet, sementara yang satu menimpali dengan bebunyian bernada rendah. Pada akhirnya, keduanya mengeluarkan bebunyian sember, pendek-pendek dan dengan tekanan. Seperti mencapai kesepakatan. Continue reading “Dieter Mack dan Suara Selandia Baru”

Bahan Remeh-temeh dalam Pameran Seni Rupa Perancis

Ibnu Rusydi
http://www.tempointeraktif.com/

Pameran besar seni rupa Prancis terkini digelar di Galeri Nasional, Jakarta. Mereka menggambar dan membuat instalasi dengan menggunakan berbagai bahan remeh-temeh.

Di dinding, sebuah kalimat tertera: “Nggak ada matinya.” Mendekatlah dan lihatlah huruf-huruf itu. Ternyata dibentuk dari puntung-puntung rokok berbagai merek. Continue reading “Bahan Remeh-temeh dalam Pameran Seni Rupa Perancis”

Nashar, Irama Jiwa, dan Kolektor

Seno Joko Suyono, Ibnu Rusydi
http://www.tempointeraktif.com/

“…Apa yang paling dalam yang tersembunyi dalam jiwa, tak mungkin bisa dipikirkan. Menurut pendapatku, sesuatu yang jauh tersembunyi dalam jiwa itulah yang bisa dianggap ‘diri’ manusia yang sebenarnya….” (Nashar, Surat keenam belas, 1974)

Para pemuja Nashar, datanglah ke Galeri Nasional. Tataplah irama yang tertuang dalam kanvas. Tataplah irama angin, irama pasir, dan irama garis-garis ingatan. Berjalan dari satu lukisan ke satu lukisan lain dan resapkanlah dalam-dalam irama-irama yang disajikan. Akan terasa betapa irama itu sangat tak monoton. Continue reading “Nashar, Irama Jiwa, dan Kolektor”

Berthold Damshauser: Sastra Indonesia Kurang Dikenal

Berthold Damshauser
Pewawancara: Seno Joko Suyono, Ibnu Rusydi
korantempo.com

Ia menjepit rokok dengan telunjuk dan jempol tangan kanan. Di sela-sela kalimat-kalimat Indonesianya yang lancar, ia mengisap kretek A Mild itu dalam-dalam. Berthold Damshauser, 52 tahun, adalah salah satu ahli sastra Indonesia di Jerman yang tersisa. Sejak 1986, dia menerjemahkan sastra Indonesia ke bahasa Jerman dan sebaliknya. Continue reading “Berthold Damshauser: Sastra Indonesia Kurang Dikenal”

Bahasa ยป