Nashar, Irama Jiwa, dan Kolektor

Seno Joko Suyono, Ibnu Rusydi
http://www.tempointeraktif.com/

“…Apa yang paling dalam yang tersembunyi dalam jiwa, tak mungkin bisa dipikirkan. Menurut pendapatku, sesuatu yang jauh tersembunyi dalam jiwa itulah yang bisa dianggap ‘diri’ manusia yang sebenarnya….” (Nashar, Surat keenam belas, 1974)

Para pemuja Nashar, datanglah ke Galeri Nasional. Tataplah irama yang tertuang dalam kanvas. Tataplah irama angin, irama pasir, dan irama garis-garis ingatan. Berjalan dari satu lukisan ke satu lukisan lain dan resapkanlah dalam-dalam irama-irama yang disajikan. Akan terasa betapa irama itu sangat tak monoton. Dan kita pun sadar, kekayaan Nashar adalah ia mampu menangkap berbagai variasi ritme.

Lukisan-lukisan Nashar yang dipamerkan di Galeri Nasional itu berasal dari berbagai era. Semua dikumpulkan berkat inisiatif Hendro Tan, seorang kolektor karya Nashar. Tidak semua dari periode abstrak di Galeri Nasional. Kita bisa melihat salah satu karya awal Nashar. Judulnya Sepatumu. Sepasang sepatu bot menjadi obyeknya. Karya tahun 1958 memakai cat minyak ini, sederhana saja, seperti lukisan pelukis pemula. Ada pula karya 1969, Figur & Pohon–hasil ukiran di atas kayu bercat hitam. Hingga 1970-an, Nashar masih terikat oleh figur yang dilukis impresionis. Itu terlihat dari lukisan Gadis, Wanita di Kebun Biru (1975) hingga Two Women (1978).

Pameran besar lukisan Nashar di Galeri Nasional ini adalah sebuah kesempatan untuk meresapi karya-karya abstraknya–yang bagi banyak orang mungkin membingungkan, tapi bagi banyak orang lagi sebuah pencapaian luar biasa. Bagi mereka yang biasa menikmati dunia lukisan dengan pikiran, karya-karya Nashar jelas susah tertangkap atau bahkan terlalu sederhana. Di sini dihimpun karya-karya terbaik Nashar dalam periode “susah-susah” itu. Kita tahu, lukisan-lukisan Nashar berubah, dari figuratif menjadi non-figuratif, karena terilhami oleh pementasan tiga drama Putu Wijaya.

Nashar kerap memadukan warna-warna terang dengan yang lebih lembut. Bentuk-bentuk di atas kanvasnya biasanya memiliki pembatas antara warna yang satu dan yang lain. Ia melihat obyek-obyek, perahu-perahu, banjir, dan kayu-kayu terapung, namun yang ia tangkap adalah ritmenya. Ritme yang berkelebat dalam dirinya atau mencuat saat ia berhadapan dengan kanvas terus diburunya. Ia melukiskan ritme-ritme itu dengan warna-warna yang cerah, merah, kuning, vermillion, hijau, biru, dan bercahaya maksimal. Itu menunjukkan vitalitas hidupnya. Tapi bila kita melihat warna-warna terang itu kerap bebercak agak kotor, itu tidak menyembunyikan segi kemurungan dirinya.

Nashar pada 1970-an menulis surat-surat yang dibukukan, berjudul Surat-surat Malam. Surat-surat itu Nashar tujukan untuk seorang kawan. Seorang kawan imajiner. Nashar sehari-hari begitu kesepian dan merasa disisihkan dari pergaulan. Ia membutuhkan seorang kawan imajiner, yang bisa memahami pergolakan batinnya. Melihat puluhan lukisan Nashar ini, kita bisa berimajinasi. Di larut malam, saat Nashar sendirian berhadapan dengan kanvasnya, ia mungkin mempersembahkan lukisan-lukisannya kepada kawan imajinernya itu–kawan yang bisa menghargai pilihan hidupnya. Bukan pula kepada kritikus, kolektor, atau seniornya, seperti Sudjojono (1913-1986), yang pernah memvonisnya tak berbakat melukis dan menyarankan ia bekerja kantoran atau menjadi polisi perkebunan saja.

Kolektor Oei Hong Djien mengatakan karya Nashar mendahului zamannya. “Dia seniman tulen, tak kenal kompromi selera pasar. Menurut saya, lukisan-lukisannya akan diterima di kemudian hari oleh publik dengan penghargaan besar.” Banyaknya kolektor yang mendatangi pembukaan pameran bertajuk “Elegi Artistik” pada malam tersebut adalah bukti penghargaan itu–juga suatu malam yang ironis bagi Nashar (almarhum). Menurut kritikus seni, Agus Dermawan T., lukisan Nashar mulai dilirik sejak 2000. Kolektor mulai mencari dan berbagai lembaga lelang komersial pun menyantap kesempatan itu. Apresiasi ekonomis itu, kata Agus, jauh dari bayangan kehidupan pribadi Nashar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *