Jiwa Manusia Kota dalam Cerpen

Imam Muhtarom *
jurnalnasional.com

Pelajaran yang berharga dari membaca cerpen maupun novel karya Budi Darma kita disadarkan bahwa manusia itu pada hakikatnya berjiwa. Jiwa inilah yang mengatasi dunia material tempat ia berada. Dalam khasanah sastra Indonesia posisi karya-karya Budi Darma sudah jelas letak dan sumbangannya. Juga semakin jelas perbedaannya apabila kita membandingkannya dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Semua karya Pramoedya memberi pelajaran pada kita bahwa manusia pada dasarnya pertarungan tak selesei antara kelas penguasa dengan kelas yang dikuasai. Jika pada karya-karya Pramoedya berpijak pada material, maka bisa dikatakan karya-karya Budi Darma berpijak pada yang immaterial, jiwa. Continue reading “Jiwa Manusia Kota dalam Cerpen”

Ironi Barat dalam Novel

Imam Muhtarom *
jawapos.com

Novel tidak memiliki aturan baku agar pembaca mengikuti jalannya cerita mulai awal hingga akhir. Aturan baku tersebut, antara lain, terlihat pada semua novel yang beredar di masyarakat pembaca, yakni dengan alur pembuka-konflik-penyelesaian. Juga, alur tersebut tidak saja menjadi acuan utama dalam novel, tetapi juga di dalam film. Terutama dalam film produksi Hollywood, alur itu mendapat kedudukan penting bagaimana sebuah materi cerita disusun seolah-olah alur tersebut satu-satunya strategi agar sebuah film bisa dibuat dan dinikmati. Dalam novel, alur semacam itu nyaris tidak dipertanyakan lagi, baik di kalangan penulis sastra maupun pembacanya. Sejauh dapat mengetengahkan konflik secara menarik kemudian pembaca bisa mengapresiasinya, novel dipandang telah menjalankan tugasnya. Continue reading “Ironi Barat dalam Novel”

Monang, Identitas di Antara

Imam Muhtarom *
jawapos.com

Salah satu ciri manusia modern adalah upayanya menciptakan kebahagiaan hidup lewat perjuangan individual. Manusia modern percaya bahwa dari usaha keras dengan mengandalkan kemampuan diri individunya sebuah masa depan yang cerah dibuat.

Akan tetapi menjadi modern dengan mempercayakan kemampuan individunya bekerja masih perlu diuji dalam sosial modern sebagai salah satu jalan bahwa individu tersebut telah menempatkan dirinya secara memadai dalam dunia yang benar-benar berbeda dari sistem sosial yang berusaha ia tinggalkan. Continue reading “Monang, Identitas di Antara”

MENCARI PERKEMBANGAN PROSA YANG MEMADAI*

Imam Muhtarom
Jurnal Nasional, 13 Jan 2008

Perkembangan prosa saat ini rupanya hendak berjalan sendiri dengan upaya melepaskan dari perkembangan sosial-politik yang ada. Hingar bingarnya para penulis prosa awal 1990-an yang kental tautannya dengan kekuasaan orde baru sebagai suatu respon yang nyaris tak bisa dihindari, kini seolah tidak mendapat jejaknya. Kalau pun ada, prosa demikian jarang, dan sekalipun ada nyaris tidak terdengar gaungnya. Continue reading “MENCARI PERKEMBANGAN PROSA YANG MEMADAI*”

Jakarta Sebelum dan Sesudah Soeharto

Imam Muhtarom *
jawapos.com

Buku karya Abidin Kusno ini menunjukkan bagaimana kota melalui bangunan arsitekturnya merupakan representasi politik yang sedang berjalan dan secara bersamaan juga menginginkan model partisipasi publiknya. Pada zaman pemerintahan Soekarno, Jakarta harus tampak sebagai kota modern dengan meninggalkan sekaligus menghapus gambaran kota kolonial sebelumnya, baik semasa Belanda maupun semasa Jepang. Kemodernan Jakarta ini ditandai dengan pendirian Hotel Indonesia beserta pancuran air yang legendaris di kawasan Jalan M. Thamrin, Senayan, Monumen Nasional, dan Gedung Perintis Kemerdekaan. Continue reading “Jakarta Sebelum dan Sesudah Soeharto”

Bahasa ยป